KEPADATAN
Dalam penulisan ini saya akan membahas tentang definisi kepadatan, kategori kepadatan dan akibat kepadatan tinggi serta kepadatan dan perbedaan budaya.
A. Definisi Kepadatan
Kepadatan adalah hasil bagi jumlah objek terhadap luas daerah. Dengan demikian satuan yang digunakan adalah satuan/luas daerah, misalnya: buah/m2.
Berikut definisi kepadatan menurut beberapa ahli :
- Kepadatan menurut Sundstrom (dalam Wrightsman & Deaux, 1981), yaitu sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan.
- Sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstra dan McFaring, 1978; Stokols dalam Schmidt dan Keating, 1978).
- Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono, 1992).
B. Kategori Kepadatan
Kepadatan dapat dibedakan ke dalam beberapa kategori. Holahan (1982) menggolongkan kepadatan ke dalam dua kategori, yaitu :
- kepadatan spasial (spatial density), terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih kecil atau sempit sedangkan jumlah individu tetap
- kepadatan sosial (social density), terjadi bila jumlah individu ditambah tanpa diiringi dengan penambahan besar atau luas ruangan sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan dengan bertambahnya individu.
Altman (1975) membagi kepadatan menjadi :
- kepadatan dalam (inside density), yaitu sejumlah individu yang berada dalam suatu ruang atau tempat tinggal seperti kepadatan di dalam rumah, kamar;
- kepadatan luar (outside density), yaitu sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu, seperti jumlah penduduk yang bermukim di suatu wilayah pemukiman.
Jain (1987) menyatakan bahwa setiap wilayah pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang berbeda dengan jumlah unit rumah tinggal pada setiap struktur hunian dan struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman. sehingga suatu ewilayah pemukiman dapat dikatakan mempunyai kepadatan tinggi dan kepadatan rendah.
C. Akibat Kepadatan Tinggi
Taylor (dalam Guilfford,1982) berpendapat bahwa lingkungan sekitar dapat merupakan sumber yang penting dalam mempengaruhi sikap, perilaku dan keadaan internal individu disuatu tempat tinggal. Rumah dan lingkungan pemukiman yang memiliki situasi dan kondisi yang baik dan nyaman seperti memiliki ruang yang cukup untuk kegiatan pribadi akan memberikan kepuasan psikis pada individu yang menempatinya.
Schorr (dalam Ittelson, 1974) mempercayai bahwa macam dan kualitas pemukiman dapat memberikan pengaruh penting terhadap persepsi diri penghuninya, stress dan kesehatan fisik, sehingga kondisi pemukiman ini tampaknya berpengaruh pada perilaku dan sikap-sikap orang yang tinggal disana (Ittelson, 1974).
Penelitian Valins dan Baum (dalam Heimstra dan Mc Farling,1978), menunjukan adanya hubungan yang erat antara kepadatan dengan interaksi social. Mahasiswa yang tinggal di tempat padat cenderung menghindari kontak social dengan orang lain.
Penelitian yang diadakan oleh Karlin dkk. (dalam Sears dkk., 1994) mecoba membandingkan mahasiswa yang tinggal berdua dalam satu kamar dengan mahasiswa yang tinggal bertiga dalam satu kamar (kamar dirancang untuk dua orang). Ternyata mahasiswa yang tinggal bertiga melaporakan adanya stress dan kekecewaan, yang secara nyata lebih besar daripada mahasiswa yang tinggal berdua. selain itu mereka yang tinggal bertiga juga lebih rendah prestasi belajarnya.
Rumah dengan luas lantai yang sempit dan terbatas bila dihuni dengan jumlah individu yang besar individu umumnya akan menimbulkan pengaruh negative pada penghuninya (Jain,1987). Hal ini terjadi karena dalam rumah tinggal yang terbatas umumnya individu tidak memiliki ruang atau tempat yang dapat dipakai untuk kegiatan pribadi. Keterbatasan ruang memungkinkan individu menjadi terhambat untuk memperoleh masukan yang berlebihan. Keadaan tersebut padea akhirnya menimbulkan perasaan sesak pada individu penghuni rumah tinggal tersebut.
Kepadatan tinggi merupakan stressor lingkungan yang dapat menimbulkan kesesakan bagi individu yang berada didalamnya (Holahan,1982). Stressor lingkungan menurut Stokols (dalam Brigham, 1991), merupakan salah satu aspek lingkungan yang dapat menyebabkan stress, penyakit atau akibat-akibat negative pada perilaku masyarakat.
Menurut Heimstra dan Mc Farling (1978) kepadatan memberikan akibat bagi manusia baik secara fisik, sosial maupun psikis. Akibat secara fisik yaitu reaksi fisik yang dirasakan individu seperti peningkatan detak jantung, tekanan darh dan penyakit fisik lain (Heimstra dan McFarling,1978). Akibat secara sosial antara lain adanya masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat seperti meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja (Heimstra dan McFarling,1978; Gifford,1987).
Akibat psikis lain antara lain:
>Stress, kepadatan tinggi menumbuhkan perasaan negative, rasa cemas, stress (Jain, 1987) dan perubahan suasana hati (Holahan, 1982).
>Menarik diri, kepadatan tinggi menyebabkan individu cenderung menarik diri dan kurang mau berinteraksi dengan lingkungan sosialnya (Heimstra dan McFarling,1978; Holahan,1982; Gifford,1987).
>Perilaku menolong, kepadatan tinggi menurunkan keinginan individu untuk menolong atau member bantuan pada orang lain yang membutuhkan, terutama orang yang tidak dikenal (Holahan,1982; Fisher dkk., 1984).
>Kemampuan mengerjakan tugas, situasi padat menurunkan kemampuan individu untuk mengerjakan tugas-tugas pada saat tertentu (Holahan,1982)
>Perilaku agresi, situasi padat yang dialami individu dapat menumbuhkan frustrasi dan kemarahan, serta pada akhirnya akan terbentuk perilaku agresi (Heimstra dan McFarling,1978; Holahan, 1982).
Menurut Jain (1987) banyaknya unit rumah tinggal di kawasan pemukiman menyebabkan timbulnya pemukiman padat yang umumnya menyebabkan perbandingan antara luas lantai yang didiami tidak sebanding dengan banyaknya penghuni. Jarak antara rumah tinggal dengan rumah tinggal lain yang berdekatan bahkan hanya dipisahkan oleh dinding rumah atau sekat dan tidak jarang mengakibatkan penghuni dapat mendengar dan mengetahui kegiatan yang dilakukan penghuni rumah tinggal lain. Keadaan inilah yang dapat menyebabkan individu merasa sesak.
D. Kepadatan dan Perbedaan Budaya
Menurut Koerte (dalam Budihardjo, 1991) faktor-faktor seperti ras, kebiasaan, adat-istiadat, pengalaman masa silam, struktur sosial, dan lain-lain, akan menentukan apakah kepadatan tertentu dapat menimbulkan perasaan sesak atau tidak.
Setiadi (1991) bahwa bangsa Amerika sudah dapat merasakan dampak negatif yang luar biasa pada kepadatan sekitar 1500 orang/Ha, dengan terjadinya banyak penyimpangan perilaku sosial, pembunuhan, perkosaan, dan tindak kriminal lainnya. sementara itu, di jepang dan Hongkong dengan kepadatn 5000 orang/Ha pada bagian kota-kota tertentu, tenyata angka kejahatan/kriminal di sana masih lebih rendah.
Sumber :
>http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab4-kepadatan_dan_kesesakan.pdf
>http://id.wikipedia.org/wiki/Kepadatan
Senin, 28 Februari 2011
Ambient Condition & Architectural Features
Ambient Condition & Architectural Features
Dalam hubungannya dengan lingkungan fisik Wrighstman dan Deaux (1981) membedakan dua bentuk lualitas lingkungan yang meliputi :
1. Ambient Condition
Kualitas fisik dari keadaan yang mengelilingi individu seperti suara, cahaya, warna, kualitas udara, tempratur, dan kelembapan.
Rahardjani (1987) dan Ancok (1988) menyajikan beberapa kualitas fisik yang mempengaruhi perilaku yaitu: kebisingan, temperatur, kualitas udara, pencahayaan dan warna.
a. Kebisingan
Kebisingan menurut Sarwono (1992) terdapat tiga factor yang menyebabkan suara secara psikologis yang dianggap bising, yaitu: volume, perkiraan, dan pengendalian.
b. Suhu (temperatur) dan Polusi Udara
Menurut Holahan (1982) tingginya suhu dan polusi udara paling tidak dapat menimbulkan dua efek yaitu efek kesehatan dan efek perilaku.
c. Pencahayaan dan warna
Corwin Bennet (dalam Holahan, 1982) menemukan bahwa penerangan yang lebih kuat ternyata mempengaruhi kinerja visual kita menjadi semakin cepat dan teliti. Akan tetapi data juga menunjukkan bahwa pada satu titik di mana cahaya menjadi terlalu besar kemampuan visual kita dapat menurun.
2. Architectural Condition
Yang tercakup di dalamnya adalah seting-seting yang bersifat permanen. Misalnya dalam suatu ruangan, yang termasuk di dalamnya antara lain konfigurasi dinding, lantai, atap, serta pengaturan perabotan dan dekorasi.
Dalam membicarakan architectural features, terdapat dua unsur yang akan dibahas disini, yaitu unsur estetika dan pengaturan perabot.
a. Estetika
Pengetahuan mengenai estetika member perhatian kepada dua hal. Pertama identifikasi dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dari suatu objek atau suatu proses keindahan atau paling tidak suatu pengalaman yang menyenangkan. Kedua, untuk mengetahui kemampuan manusia untuk menciptakan dan menikmati karya yang menunjukkan estetika.
Jika sebuah bentuk mendapat nilai yang betul, maka bentuk tersebut dapat dinilai estetis, sedangkan pada bentuk yang melebihi nilai betul, hingga mencapai nilai baik penuh arti, maka bentuk tersebut dinilai sebagai indah. Dalam pengertian tersebut, maka sesuatu yang estetis belum tentu indah dalam arti sesungguhnya, sedangkan sesuatu yang indah pasti estetis. Banyak pemikir seni berpendapat bahwa keindahan berhubungan dengan rasa yang menyenangkan seperti Clive Bell, George Santayana dan R.G. Collingwood. (Sutrisno, 1993).
b. Perabot
Perabot, pengaturannya dan aspek-aspek lain dari lingkungan ruang dalam merupakan salah satu penentu perilaku yang paling penting. Pengaturan perabotan dalam ruang dapat pula mempengaruhi cara orang mempersepsi ruang tersebut.
Sumber :
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab3-ambient_condititon_dan_architectural_features.pdf
Dalam hubungannya dengan lingkungan fisik Wrighstman dan Deaux (1981) membedakan dua bentuk lualitas lingkungan yang meliputi :
1. Ambient Condition
Kualitas fisik dari keadaan yang mengelilingi individu seperti suara, cahaya, warna, kualitas udara, tempratur, dan kelembapan.
Rahardjani (1987) dan Ancok (1988) menyajikan beberapa kualitas fisik yang mempengaruhi perilaku yaitu: kebisingan, temperatur, kualitas udara, pencahayaan dan warna.
a. Kebisingan
Kebisingan menurut Sarwono (1992) terdapat tiga factor yang menyebabkan suara secara psikologis yang dianggap bising, yaitu: volume, perkiraan, dan pengendalian.
b. Suhu (temperatur) dan Polusi Udara
Menurut Holahan (1982) tingginya suhu dan polusi udara paling tidak dapat menimbulkan dua efek yaitu efek kesehatan dan efek perilaku.
c. Pencahayaan dan warna
Corwin Bennet (dalam Holahan, 1982) menemukan bahwa penerangan yang lebih kuat ternyata mempengaruhi kinerja visual kita menjadi semakin cepat dan teliti. Akan tetapi data juga menunjukkan bahwa pada satu titik di mana cahaya menjadi terlalu besar kemampuan visual kita dapat menurun.
2. Architectural Condition
Yang tercakup di dalamnya adalah seting-seting yang bersifat permanen. Misalnya dalam suatu ruangan, yang termasuk di dalamnya antara lain konfigurasi dinding, lantai, atap, serta pengaturan perabotan dan dekorasi.
Dalam membicarakan architectural features, terdapat dua unsur yang akan dibahas disini, yaitu unsur estetika dan pengaturan perabot.
a. Estetika
Pengetahuan mengenai estetika member perhatian kepada dua hal. Pertama identifikasi dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dari suatu objek atau suatu proses keindahan atau paling tidak suatu pengalaman yang menyenangkan. Kedua, untuk mengetahui kemampuan manusia untuk menciptakan dan menikmati karya yang menunjukkan estetika.
Jika sebuah bentuk mendapat nilai yang betul, maka bentuk tersebut dapat dinilai estetis, sedangkan pada bentuk yang melebihi nilai betul, hingga mencapai nilai baik penuh arti, maka bentuk tersebut dinilai sebagai indah. Dalam pengertian tersebut, maka sesuatu yang estetis belum tentu indah dalam arti sesungguhnya, sedangkan sesuatu yang indah pasti estetis. Banyak pemikir seni berpendapat bahwa keindahan berhubungan dengan rasa yang menyenangkan seperti Clive Bell, George Santayana dan R.G. Collingwood. (Sutrisno, 1993).
b. Perabot
Perabot, pengaturannya dan aspek-aspek lain dari lingkungan ruang dalam merupakan salah satu penentu perilaku yang paling penting. Pengaturan perabotan dalam ruang dapat pula mempengaruhi cara orang mempersepsi ruang tersebut.
Sumber :
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab3-ambient_condititon_dan_architectural_features.pdf
Rabu, 23 Februari 2011
Pendekatan Teori dan Metode Penelitian Psikologi Lingkungan
Pendekatan Teori
A. Beberapa Perspektif
1. Geografi
Toynbee → mengembangkan teori “lingkungan merupakan tantangan bagi penghuninya”
lingkungan disini mencakup : topografi, iklim, vegetasi, persediaan air, dll
Bila lingkungan ekstrem : merusak peradaban
bila tantangan lingkungan kecil : stagnansi kebudayaan
Tantangan lingkungan pada tingkat menengah : tergantung tingkatannya. jika makin berkurang atau makin berlebihan, pengaruhnya melemah.
Barry, Child, & Bacon → kebudayaan masyarakat tidak nomaden menekankan pola asuh berupa ketaatan, tanggung jawab, dan kepatuhan. sedangkan pada budaya masyarakat nomaden, yg ditekankan adalah kemandirian dan akal (berhubungan dengan kemampuan survival)
Dapat disimpulkan, setting lingkungan mempengaruhi penghuninya untuk mempertahankan diri
2. Biologi-Ekologi
Ada ketergantungan antara biologi dan sosiologi dalam kaitannya dengan hubungan antar-manusia dengan lingkungan, dimana pengaruhnya ada pada pemikiran-pemikiran psikologi lingkungan.
3. Behaviorisme
→ Muncul sebagai reaksi atas kegagalan teori-teori kepribadian
Adanya pertimbangan terhadap suatu perilaku yang muncul dan variabel-variabel personal yang nantinya dapat meramalkan suatu fenomena manusia dengan lingkungannya
4. Psikologi Gestalt
→ Berkembang bersamaan dengan behaviorisme
Aliran ini terfokus pada persepsi dan kognisi sebagai perilaku yang tampak. Objects, people, dan settings dipersepsi sebagai suatu keseluruhan. Pengaruh aliran ini antara lain pada kognisi lingkungan
Veitch & Arkkelin → Ada 2 hal yg perlu diketahui :
1. Pendekatan perspektif yang dipakai di atas ada yang amat general cakupannya dan ada pula yang data empirisnya lemah.
2. Tidak ada grand theory dalam psikologi lingkungan, karena tidak ada perspektif tunggal yang dapat menerangkan hubungan perilaku manusia dengan lingkungannya secara detail.
Penyebab hal tersebut setidaknya ada 4 :
a. Data yang ada tidak cukup
b. Hubungan-hubungan yang dikaji terlalu beragam
c. Metode yang digunakan tidak konsisten
d. Pengukuran variabel tidak selalu kompatibel
B. Teori Psikologi Lingkungan
1. Arousal Theory (dalam konteks Psikologi lingkungan)
Hukum Yerkes dan Dodson :
Tingkat arousal rendah → kinerja rendah
Tingkat arousal tinggi → kinerja tinggi
2. Stimulus Load Theory
Titik sentral : Dugaan bahwa manusia memiliki kapasitas tanpa batas dalam memproses informasi.
Saat input > kapasitas → kecenderungan mengabaikan beberapa masukan dan mencurahkan perhatian kepada hal lain → Stimulus yang penting akan lebih diperhatikan daripada yang kurang penting. Strategi yang dipilih dalam menentukan urutan prioritas stimulus mempengaruhi reaksi seseorang; apakah positif atau negatif
3. Behavioral Constrain Theory
Fokus pada kenyataan atau perasaan, atau kesan yang terbatas dari individu oleh lingkungan. Lingkungan dapat mencegah, mencampuri, atau membatasi perilaku penghuni.
Brehm & Brehm → Saat sedang kehilangan kontrol terhadap lingkungan, ada rasa tidak nyaman yang berlanjut ke usaha menekankan lagi fungsi kendali → Reaktansi Psikologis
4. Teori Tingkat Adaptasi
Pada tingkat tertentu, stimulus dirumuskan untuk mengoptimalkan perilaku.
2 proses terkait hubungan manusia dengan lingkungan :
a. Adaptasi : mengubah tingkah laku agar sesuai dengan lingkungan
b. Adjustment : mengubah lingkungan agar sesuai dengan lingkungan penghuninya
salah satu cara di atas dilakukan agar tercapai keseimbangan dengan lingkungan (Homeostatis)
Nilai lain : pengenalan tingkat adaptasi pada individu.
Sarwono → 3 kategori stimulus yang menjadi acuan dalam hubungan lingkungan dgn tingkah laku : Stimulus fisik, sosial, dan gerakan. Masing-masing kategori terbagi 3 lagi : Intensitas, Diversitas, dan Pola.
5. Teori Stres Lingkungan
Fokus pada mediasi peran-peran fisiologi, emosi, dan kognisi dalam interaksi antara manusia dengan lingkungan.
Di lain pihak, terdapat ahli yang lebih memperhatikan masalah respon stres.
Lazarus → Proses Appraisal → dalam menilai lingkungan, seharusnya dilakukan secara kognitif sebagai suatu ancaman sebelum stres dan mempengaruhi perilaku
6. Teori Ekologi
dasar pemikiran : Gagasan tentang kecocokan manusia dengan lingkungannya. Lingkungan dirancang atau berkembang sehingga perilaku tertentu dapat terjadi
Roger Barker : Lingkungan dan tingkah laku saing menentukan dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
Metode Penelitian Psikologi Lingkungan
1. Eksperiman Laboratorium → Eksperimenter dapat memanipulasi variabel yang diasumsikan menjadi penyebab dengan cara mengontrol kondisi-kondisi tertentu dengan tujuan untuk mengurangi variabel yang tidak perlu
2. Studi Korelasi → Mecari hubungan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi yang tidak dibebani oleh pengaruh pengumpulan data
3. Eksperimen Lapangan → Dapat dilakukan jika peneliti ingin menyeimbangkan validitas internal yang dicapai melalui eksperimen laboratorium dengan validitas eksternal dari studi korelasi
4. Teknik Pengukuran
Kriteria :
- Berlaku umum dan dapat diulang-ulang
- Dapat dikembangkan menjadi skala pengukuran
- Memiliki standar validitas dan reliabilitas
Macam-macam teknik pengukuran :
a. Self report
b. Kuesioner
c. Wawancara
d. Skala Penilaian
Sumber : Pengantar Psikologi Lingkungan
Pengarang : Hendro Prabowo
Penerbit Gunadarma
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/02/teori-dan-metpen-psikologi-lingkungan/
A. Beberapa Perspektif
1. Geografi
Toynbee → mengembangkan teori “lingkungan merupakan tantangan bagi penghuninya”
lingkungan disini mencakup : topografi, iklim, vegetasi, persediaan air, dll
Bila lingkungan ekstrem : merusak peradaban
bila tantangan lingkungan kecil : stagnansi kebudayaan
Tantangan lingkungan pada tingkat menengah : tergantung tingkatannya. jika makin berkurang atau makin berlebihan, pengaruhnya melemah.
Barry, Child, & Bacon → kebudayaan masyarakat tidak nomaden menekankan pola asuh berupa ketaatan, tanggung jawab, dan kepatuhan. sedangkan pada budaya masyarakat nomaden, yg ditekankan adalah kemandirian dan akal (berhubungan dengan kemampuan survival)
Dapat disimpulkan, setting lingkungan mempengaruhi penghuninya untuk mempertahankan diri
2. Biologi-Ekologi
Ada ketergantungan antara biologi dan sosiologi dalam kaitannya dengan hubungan antar-manusia dengan lingkungan, dimana pengaruhnya ada pada pemikiran-pemikiran psikologi lingkungan.
3. Behaviorisme
→ Muncul sebagai reaksi atas kegagalan teori-teori kepribadian
Adanya pertimbangan terhadap suatu perilaku yang muncul dan variabel-variabel personal yang nantinya dapat meramalkan suatu fenomena manusia dengan lingkungannya
4. Psikologi Gestalt
→ Berkembang bersamaan dengan behaviorisme
Aliran ini terfokus pada persepsi dan kognisi sebagai perilaku yang tampak. Objects, people, dan settings dipersepsi sebagai suatu keseluruhan. Pengaruh aliran ini antara lain pada kognisi lingkungan
Veitch & Arkkelin → Ada 2 hal yg perlu diketahui :
1. Pendekatan perspektif yang dipakai di atas ada yang amat general cakupannya dan ada pula yang data empirisnya lemah.
2. Tidak ada grand theory dalam psikologi lingkungan, karena tidak ada perspektif tunggal yang dapat menerangkan hubungan perilaku manusia dengan lingkungannya secara detail.
Penyebab hal tersebut setidaknya ada 4 :
a. Data yang ada tidak cukup
b. Hubungan-hubungan yang dikaji terlalu beragam
c. Metode yang digunakan tidak konsisten
d. Pengukuran variabel tidak selalu kompatibel
B. Teori Psikologi Lingkungan
1. Arousal Theory (dalam konteks Psikologi lingkungan)
Hukum Yerkes dan Dodson :
Tingkat arousal rendah → kinerja rendah
Tingkat arousal tinggi → kinerja tinggi
2. Stimulus Load Theory
Titik sentral : Dugaan bahwa manusia memiliki kapasitas tanpa batas dalam memproses informasi.
Saat input > kapasitas → kecenderungan mengabaikan beberapa masukan dan mencurahkan perhatian kepada hal lain → Stimulus yang penting akan lebih diperhatikan daripada yang kurang penting. Strategi yang dipilih dalam menentukan urutan prioritas stimulus mempengaruhi reaksi seseorang; apakah positif atau negatif
3. Behavioral Constrain Theory
Fokus pada kenyataan atau perasaan, atau kesan yang terbatas dari individu oleh lingkungan. Lingkungan dapat mencegah, mencampuri, atau membatasi perilaku penghuni.
Brehm & Brehm → Saat sedang kehilangan kontrol terhadap lingkungan, ada rasa tidak nyaman yang berlanjut ke usaha menekankan lagi fungsi kendali → Reaktansi Psikologis
4. Teori Tingkat Adaptasi
Pada tingkat tertentu, stimulus dirumuskan untuk mengoptimalkan perilaku.
2 proses terkait hubungan manusia dengan lingkungan :
a. Adaptasi : mengubah tingkah laku agar sesuai dengan lingkungan
b. Adjustment : mengubah lingkungan agar sesuai dengan lingkungan penghuninya
salah satu cara di atas dilakukan agar tercapai keseimbangan dengan lingkungan (Homeostatis)
Nilai lain : pengenalan tingkat adaptasi pada individu.
Sarwono → 3 kategori stimulus yang menjadi acuan dalam hubungan lingkungan dgn tingkah laku : Stimulus fisik, sosial, dan gerakan. Masing-masing kategori terbagi 3 lagi : Intensitas, Diversitas, dan Pola.
5. Teori Stres Lingkungan
Fokus pada mediasi peran-peran fisiologi, emosi, dan kognisi dalam interaksi antara manusia dengan lingkungan.
Di lain pihak, terdapat ahli yang lebih memperhatikan masalah respon stres.
Lazarus → Proses Appraisal → dalam menilai lingkungan, seharusnya dilakukan secara kognitif sebagai suatu ancaman sebelum stres dan mempengaruhi perilaku
6. Teori Ekologi
dasar pemikiran : Gagasan tentang kecocokan manusia dengan lingkungannya. Lingkungan dirancang atau berkembang sehingga perilaku tertentu dapat terjadi
Roger Barker : Lingkungan dan tingkah laku saing menentukan dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
Metode Penelitian Psikologi Lingkungan
1. Eksperiman Laboratorium → Eksperimenter dapat memanipulasi variabel yang diasumsikan menjadi penyebab dengan cara mengontrol kondisi-kondisi tertentu dengan tujuan untuk mengurangi variabel yang tidak perlu
2. Studi Korelasi → Mecari hubungan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi yang tidak dibebani oleh pengaruh pengumpulan data
3. Eksperimen Lapangan → Dapat dilakukan jika peneliti ingin menyeimbangkan validitas internal yang dicapai melalui eksperimen laboratorium dengan validitas eksternal dari studi korelasi
4. Teknik Pengukuran
Kriteria :
- Berlaku umum dan dapat diulang-ulang
- Dapat dikembangkan menjadi skala pengukuran
- Memiliki standar validitas dan reliabilitas
Macam-macam teknik pengukuran :
a. Self report
b. Kuesioner
c. Wawancara
d. Skala Penilaian
Sumber : Pengantar Psikologi Lingkungan
Pengarang : Hendro Prabowo
Penerbit Gunadarma
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/02/teori-dan-metpen-psikologi-lingkungan/
Selasa, 15 Februari 2011
Pengantar dan Pendekatan Psikologi Lingkungan
Sejarah Psikologi
Sejak zaman purbakala jiwa telah menjadi objek pertanyaan dan penyelidikan manusia. Di Yunani Kuno, pada ratusan tahun sebelun masehi. Para ahli piker mencoba menyikap tabir rahasia jiwa yang gaib dengan tinjauan berdasarkan falsafah masing-masing.
Pada zaman itu psikologibelum menjadi ilmu yang berdiri sendiri, tetapi termasuk suatu cabang dari induk ilmu, yakni filsafat. Penyelidikan dan percobaan belum dilakukan dengan sempurna, metode yang dipakai ialah metode deduktif dan psikologinya yang disebut dengan psikologi.
Sebelum tahun 1879, jiwa dipelajari oleh para ahli filsafat dan para ahli ilmu filsafat (fisikologi). Sehingga psikologi dianggapsebagai bagian dari kedua ilmu tersebut. Psikologi berdiri sendiri pada tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt (1832-1920) mendirikan laboraturium psikologi pertama di kota Leipizing.
Adapun tokoh-tokoh dari aliran psikologi ini sangat banyak, tetapi psikologi mengalami empat periode dengan tokoh-tokohnya yaitu :
1. Yunani Kuno, yang terbagi menjadi dua :
a. Monoisme. Tokohnya adalah Thales, Anaximenes, Empedoples, Hipoesates dan Demokritus
b. Dualisme. Tokohnya adalah Socrates, Plato dan Aristoteles.
2. Psikologi Dalam Pandangan Tokoh Gereja. Tokohnya adalah St, Agustine dan Thomas Aquinos
3. Zaman Renaisains. Tokohnya adalah Francis Baccon dan Thomas Hobbes
4. Masa Titik Terang. Tokohnya adalah Rendescrates dan Jhou Lock
Setelah psikologi berdiri sendiri, gejala-gejala kejiwaan dipelajari secara tersendiri dengan metode ilmiah, terlepas dari ilmu filsafat dan faat. Gejala kejiwaan dipelajari secara sistematis dan objektif. Selain metode eksperimen juga digunakan metode instropiksi oleh W. Wundt ia dikenal sebagai sosiolog dan filosof dan orang pertama mengaku dirinya seorang psikolog. Ia dianggap sebagai Bapak psikolog sejak itulah psikolog berkembang pesat dengan bertambahnya sarjana psikolog, penyusunan teori-teori psikolog dan keragaman pemikiran baru sehinggga psikologi mulai bercabang menjadi beberapa aliran yangterbagi dalam lima bagian yaitu sebagai berikut :
1. Stukturalisme
2. Fungsionalisme
3. Psikoanalisa
4. Behaviorisme
5. Humanisme
Aliran Behaviourisme
Behaviourisme merupakan aliran yang menitik beratkan pada tingkah laku, yang melihat berdasarkan pengaruh lingkungan. Aliran ini menolak aliran dari psikoanalisa yang menyelidiki kesadaran dan peristiwa psikis yang bersifat abstrak dan sukar untuk dipercayai, oleh karena itu para ahli faham ini memegang teguh prinsip-prinsif.
1. Objek psikologi adalah tingkah laku, yaitu gerak lahir yang nyata atau reaksi-reaksi manusia terhadap rangsangan berupa lingkungan dan lain-lain.
2. Unsur dari tingkah laku adalah refleks (spontan), yaitu reaksi tak sadar atas rangsangan dari luar tubuh, sehingga psikologi ini terkenal dengan nama behaviourisme.
Para ahli psikologi dari aliran ini melakukan observasi (pengamatan) tentang tingkah laku manusia yang berbuat sesuai kemaunannya atau dikarenakan dari faktor lain.
Pada dasarnya tingkah laku seorang dapat diketahui dengan mengamati kepribadiannya. Sedangkan kepribadian itu terbentuk karena adanya kebiasaan-kebiasaan hidup seseoang yangberada disekitar lingkungannya. Jadi, tingkah laku (berhaviour) sangat dipengaruhi oleh lingkungan.
Manusia sebagai obje penelitian harus bias menguasaai diri atau beradaptasi dengan tempat tingalnya. Yang kadang-kadang bias mengubah kebiasaan-kebiasaan hidup. Contonya seorang anak yang dulunya sangat baik kepada oang kedua orang tuanya, tiba-tiba berubah menjadi seorang pemberontak dan berani melawan kedua orang tuanya., dikarenakan lingkungan tempat ia bergaul yang begitu buruk dari tempat lingkungan yang sebelumnya.
Dari contoh diatas, perilaku manusiauntuk beradaptasi ada dua cara yaitu :
a. Selektif dalam memilih dan berinteraksi dengan lingkungan
b. Berusaha mengadaptasikan lingkungan agar sesuai dengan tingkah laku kita.
Aliran Behaviourisme didirikan oleh John Broodes Wasto (1878-195) yang berpendapat bahwa psikologi harus menjadi ilmu yang objekif dalam artian harus dipelajari sebagaimana kita mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Aliran ini tidak dapat diteliti melalui metode instropeksi diri karena dianggap tidak objektif dantidak ilmiah. Kebanyakan orang sangat jarang sekali menyadari tentangt ingkah lakunya sendiri,mengapa ia harus berbuat seperti itu, seperti ini dan lain sebagainya. Sehingga aliran sangat sesuaiuntuk menolak sesuatu tingkah laku yang tidak panpak dari luar.
Adapun tokoh-tokoh lain dari aliran Behaviourisme ini sebagai berikut :
Ivan Pavlov. Pavlov mengadakan eksperemen mengenai refleks bersyarat atau pengkondisian hasil yang dilakukan terhadap anjing yang mengeluarkan air liurnya.
Burrus Frederick Skinner. Melakukan eksperimen operan berkondisi yang dilakukan pada seekor tikus.
WilliamMe Dougal. Insting adalah kecenderungan bertingkah laku tertentu dalam situasi tertentu sebagaimana hasil pembawaan sejak lahir yang tidak dipelajari sebelumnya.
Dari uraian singkat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tingkah laku manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan, karena lingkungan merupakan pembentuk dari kebiasaan-kebiasaan hidup manusia.
a. Perilaku manusia dalam beradaptasi ada dua cara :
1. Selektif dalam memilih dan berinteraksi dengan lingkungan
2. Berusaha mengadaptasikan lingkungan agar sesuai dengan tingkah laku kita.
Behaviourisme adalah aliran yang menitik beratkan untuk mempelajari tingkah laku. Dan tingkah laku seseorang tidak luput dari pengaruh lingkungan..
PENDEKATAN TEORI
A. LATAR BELAKANG SEJARAH
Membahas perihal teori-teori yang dikemukakan para ahli psikologi lingkungan, maka yang terlibat adalah teori-teori, baik di dalam maupun di luar disiplin psikologi. Beberapa teori tersebut amat luas jangkauannya dan beberapa lagi yang lain lebih terfokus, beberapa amat lemah dalam data empiris dan beberapa yang lain amat kuat. Dalam kaitan antara lingkungan dengan perilaku manusia, maka kita dapat menyebut sejumlah teori dimana dalam perspektif ini, yang terlibat di dalamnya antara lain adalah geografi, biologi ekologi, behaviorisme, dan psikologi Gestalt (Veitch & Arkkelin, 1995).
Geografi. Beberapa ahli sejarah dan geografi telah mencoba menerangkan jatuh-bangunnya peradaban yang disebabkan oleh karakteristik lingkungan. Sebagai contoh, Toynbee (dalam Veitch & Arkkelin, 1995) mengembangkan teori bahwa lingkungan (atau secara lebih spesifik topografi, iklim, vegetasi, ketersediaan air, dan sebagainya) adalah tantangan bagi penduduk yang tinggal di lingkungan tersebut. Tantangan lingkungan yang ekstrim akan merusak peradaban, sementara tantangan yang terlalu kecil akan mengakibatkan stagnasi kebudayaan. Lebih lanjut Toynbee mengusulkan bahwa tantangan lingkungan pada tingkat menengah juga dapat mempengaruhi perkembangan peradaban. Pada tingkat yang makin berkurang atau sebaliknya makin berlebihan hasilnya justru akan memperlemah pengaruhnya. Gagasan mengenai tantangan lingkungan dan respon-respon perilakunya meski didasari oleh para penganut geographical determinism, ternyata seringkali merupakan bentuk-bentuk atau variasi-variasi teori yang diterapkan dalam psikologi lingkungan.
Biologi Ekologi. Perkembangan teori-teori ekologi menunjukkan adanya perhatian terhadap adanya ketergantungan biologi dan sosiologi dalam kaitan hubungan antara manusia dengan lingkungannya, dimana hal itu secara signifikan mempengaruhi pemikiran-pemikiran psikologi lingkungan. Dengan perkembangan ilmu ekologi, seseorang tidak dianggap terpisah dari lingkungannya, melainkan merupakan bagian yang integral dari lingkungan. Pendapat mengenai hubungan yang saling tergantung antara manusia dengan lingkungannya pada saat ini akan tampak pada teori-teori yang dikembangkan pada disiplin psikologi lingkungan. Lingkungan dan penghuninya masih sering dikaji sebagai komponen yang terpisah, meskipun tidak ada keraguan lagi adanya hubungan yang saling tergantung di antara mereka.
Behaviorisme. Pengaruh penting lain yang merupakan pemikiran yang datang dari cabang disiplin psikologi sendiri adalah behaviorisme. Pemikiran kalangan behavioris muncul sebagai reaksi atas kegagalan teori-teori kepribadian untuk menerangkan perilaku manusia. Pada saat ini secara umum dapat diterima bahwa dua hal penting yang menjadi pertimbangan adalah konteks lingkungan dimana suatu perilaku muncul dan variabel-variabel personal (seperti kepribadian atau sikap). Dengan mempertimbangkan kedua hal ini maka akan lebih dapatdiramalkan suatu fenomena manusiadan lingkungannya daripadajika dibuat pengukuran sendiri-sendiri.
Psikologi Gestalt. Psikologi Gestalt berekembang pada saat yang berbarengan dengan behaviorisme dan lebih menekankan perhatian kepada persepsi dan kognisi sebagai perilaku yang tampak (overt behavior). Prinsip terpenting dari cara kerja kalangan Gestalt ini adalah bahwa objek-objek, orang-orang, dan seting-seting dipersepsi sebagai suatu keseluruhan, dimana hal itu lebih dari sekedar penjumlahan bagian-bagian. Dari pandangan Gestalt, suatu perilaku didasarkan pada proses kognitif, yang bukan dipengaruhi oleh proses stimulus tetapi dari persepsi terhadap stimulus tersebut. Pengaruh Gestalt pada psikologi lingkungan dapat dilihat antara lain pada kognisi lingkungan, misalnya untuk menjelaskan persepsi, berpikir, dan pemrosesan informasi lingkungan.
Dari beberapa perspektif di atas, Veitch & Arkkelin (1995) menekanlan adanya dua hal yang perlu diketahui. Pertama, sebagaimanayang sudah disebutkan di atas bahwa pendekatan yang dipakai pada perspektf-perspektif di atas ada yang amat lebar dalam cakupan dan ada pula yang lemah dalam data empiris. Kedua, tidak ada grand theory dalam psikologi lingkungan, karena tidak ada pendekatan atau perspektif tunggal yang dapat menerangkan hubungan antara perilaku manusia dengan lingkungannya secara memuaskan. Hal ini paling tidak disebabkan oleh empat hal:
(a) Tidak ada data yang cukup tersedia dalam kaitan hubungan manusia dengan lingkungannya, sehingga dapat dipercaya untuk menyatukan teori
(b) Hubungan-hubungan yang dikaji para peneliti amaat sangat beragam
(c) Metode yang digunakan tidak konsisten
(d) Cara pengukuran variabel tidak selalu kompatibel dari suatu seting penelitian ke
penelitian berikutnya.
B. BEBERAPA TEORI
Beberapa pendekatan teori dalam psikologi lingkungan antara lain adalah: Teori Arousal,
Teori Stimulus Berlebihan, Teori Kendala Perilaku, Teori Tingkat Adaptasi, Teori Stres Lingkungan, dan Teori Ekologi.
SUMBER :
Sarwona, Sarlito Wirawan. 1992. Psikologi Lingkungan. Jakarta: Garasindo
Fauzi, Drs. H Ahmad. 1999. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia.
http://elearning.faqih.net/2009/12/pendekatan-teori-dan-metode-penelitian.html
Sejak zaman purbakala jiwa telah menjadi objek pertanyaan dan penyelidikan manusia. Di Yunani Kuno, pada ratusan tahun sebelun masehi. Para ahli piker mencoba menyikap tabir rahasia jiwa yang gaib dengan tinjauan berdasarkan falsafah masing-masing.
Pada zaman itu psikologibelum menjadi ilmu yang berdiri sendiri, tetapi termasuk suatu cabang dari induk ilmu, yakni filsafat. Penyelidikan dan percobaan belum dilakukan dengan sempurna, metode yang dipakai ialah metode deduktif dan psikologinya yang disebut dengan psikologi.
Sebelum tahun 1879, jiwa dipelajari oleh para ahli filsafat dan para ahli ilmu filsafat (fisikologi). Sehingga psikologi dianggapsebagai bagian dari kedua ilmu tersebut. Psikologi berdiri sendiri pada tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt (1832-1920) mendirikan laboraturium psikologi pertama di kota Leipizing.
Adapun tokoh-tokoh dari aliran psikologi ini sangat banyak, tetapi psikologi mengalami empat periode dengan tokoh-tokohnya yaitu :
1. Yunani Kuno, yang terbagi menjadi dua :
a. Monoisme. Tokohnya adalah Thales, Anaximenes, Empedoples, Hipoesates dan Demokritus
b. Dualisme. Tokohnya adalah Socrates, Plato dan Aristoteles.
2. Psikologi Dalam Pandangan Tokoh Gereja. Tokohnya adalah St, Agustine dan Thomas Aquinos
3. Zaman Renaisains. Tokohnya adalah Francis Baccon dan Thomas Hobbes
4. Masa Titik Terang. Tokohnya adalah Rendescrates dan Jhou Lock
Setelah psikologi berdiri sendiri, gejala-gejala kejiwaan dipelajari secara tersendiri dengan metode ilmiah, terlepas dari ilmu filsafat dan faat. Gejala kejiwaan dipelajari secara sistematis dan objektif. Selain metode eksperimen juga digunakan metode instropiksi oleh W. Wundt ia dikenal sebagai sosiolog dan filosof dan orang pertama mengaku dirinya seorang psikolog. Ia dianggap sebagai Bapak psikolog sejak itulah psikolog berkembang pesat dengan bertambahnya sarjana psikolog, penyusunan teori-teori psikolog dan keragaman pemikiran baru sehinggga psikologi mulai bercabang menjadi beberapa aliran yangterbagi dalam lima bagian yaitu sebagai berikut :
1. Stukturalisme
2. Fungsionalisme
3. Psikoanalisa
4. Behaviorisme
5. Humanisme
Aliran Behaviourisme
Behaviourisme merupakan aliran yang menitik beratkan pada tingkah laku, yang melihat berdasarkan pengaruh lingkungan. Aliran ini menolak aliran dari psikoanalisa yang menyelidiki kesadaran dan peristiwa psikis yang bersifat abstrak dan sukar untuk dipercayai, oleh karena itu para ahli faham ini memegang teguh prinsip-prinsif.
1. Objek psikologi adalah tingkah laku, yaitu gerak lahir yang nyata atau reaksi-reaksi manusia terhadap rangsangan berupa lingkungan dan lain-lain.
2. Unsur dari tingkah laku adalah refleks (spontan), yaitu reaksi tak sadar atas rangsangan dari luar tubuh, sehingga psikologi ini terkenal dengan nama behaviourisme.
Para ahli psikologi dari aliran ini melakukan observasi (pengamatan) tentang tingkah laku manusia yang berbuat sesuai kemaunannya atau dikarenakan dari faktor lain.
Pada dasarnya tingkah laku seorang dapat diketahui dengan mengamati kepribadiannya. Sedangkan kepribadian itu terbentuk karena adanya kebiasaan-kebiasaan hidup seseoang yangberada disekitar lingkungannya. Jadi, tingkah laku (berhaviour) sangat dipengaruhi oleh lingkungan.
Manusia sebagai obje penelitian harus bias menguasaai diri atau beradaptasi dengan tempat tingalnya. Yang kadang-kadang bias mengubah kebiasaan-kebiasaan hidup. Contonya seorang anak yang dulunya sangat baik kepada oang kedua orang tuanya, tiba-tiba berubah menjadi seorang pemberontak dan berani melawan kedua orang tuanya., dikarenakan lingkungan tempat ia bergaul yang begitu buruk dari tempat lingkungan yang sebelumnya.
Dari contoh diatas, perilaku manusiauntuk beradaptasi ada dua cara yaitu :
a. Selektif dalam memilih dan berinteraksi dengan lingkungan
b. Berusaha mengadaptasikan lingkungan agar sesuai dengan tingkah laku kita.
Aliran Behaviourisme didirikan oleh John Broodes Wasto (1878-195) yang berpendapat bahwa psikologi harus menjadi ilmu yang objekif dalam artian harus dipelajari sebagaimana kita mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Aliran ini tidak dapat diteliti melalui metode instropeksi diri karena dianggap tidak objektif dantidak ilmiah. Kebanyakan orang sangat jarang sekali menyadari tentangt ingkah lakunya sendiri,mengapa ia harus berbuat seperti itu, seperti ini dan lain sebagainya. Sehingga aliran sangat sesuaiuntuk menolak sesuatu tingkah laku yang tidak panpak dari luar.
Adapun tokoh-tokoh lain dari aliran Behaviourisme ini sebagai berikut :
Ivan Pavlov. Pavlov mengadakan eksperemen mengenai refleks bersyarat atau pengkondisian hasil yang dilakukan terhadap anjing yang mengeluarkan air liurnya.
Burrus Frederick Skinner. Melakukan eksperimen operan berkondisi yang dilakukan pada seekor tikus.
WilliamMe Dougal. Insting adalah kecenderungan bertingkah laku tertentu dalam situasi tertentu sebagaimana hasil pembawaan sejak lahir yang tidak dipelajari sebelumnya.
Dari uraian singkat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tingkah laku manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan, karena lingkungan merupakan pembentuk dari kebiasaan-kebiasaan hidup manusia.
a. Perilaku manusia dalam beradaptasi ada dua cara :
1. Selektif dalam memilih dan berinteraksi dengan lingkungan
2. Berusaha mengadaptasikan lingkungan agar sesuai dengan tingkah laku kita.
Behaviourisme adalah aliran yang menitik beratkan untuk mempelajari tingkah laku. Dan tingkah laku seseorang tidak luput dari pengaruh lingkungan..
PENDEKATAN TEORI
A. LATAR BELAKANG SEJARAH
Membahas perihal teori-teori yang dikemukakan para ahli psikologi lingkungan, maka yang terlibat adalah teori-teori, baik di dalam maupun di luar disiplin psikologi. Beberapa teori tersebut amat luas jangkauannya dan beberapa lagi yang lain lebih terfokus, beberapa amat lemah dalam data empiris dan beberapa yang lain amat kuat. Dalam kaitan antara lingkungan dengan perilaku manusia, maka kita dapat menyebut sejumlah teori dimana dalam perspektif ini, yang terlibat di dalamnya antara lain adalah geografi, biologi ekologi, behaviorisme, dan psikologi Gestalt (Veitch & Arkkelin, 1995).
Geografi. Beberapa ahli sejarah dan geografi telah mencoba menerangkan jatuh-bangunnya peradaban yang disebabkan oleh karakteristik lingkungan. Sebagai contoh, Toynbee (dalam Veitch & Arkkelin, 1995) mengembangkan teori bahwa lingkungan (atau secara lebih spesifik topografi, iklim, vegetasi, ketersediaan air, dan sebagainya) adalah tantangan bagi penduduk yang tinggal di lingkungan tersebut. Tantangan lingkungan yang ekstrim akan merusak peradaban, sementara tantangan yang terlalu kecil akan mengakibatkan stagnasi kebudayaan. Lebih lanjut Toynbee mengusulkan bahwa tantangan lingkungan pada tingkat menengah juga dapat mempengaruhi perkembangan peradaban. Pada tingkat yang makin berkurang atau sebaliknya makin berlebihan hasilnya justru akan memperlemah pengaruhnya. Gagasan mengenai tantangan lingkungan dan respon-respon perilakunya meski didasari oleh para penganut geographical determinism, ternyata seringkali merupakan bentuk-bentuk atau variasi-variasi teori yang diterapkan dalam psikologi lingkungan.
Biologi Ekologi. Perkembangan teori-teori ekologi menunjukkan adanya perhatian terhadap adanya ketergantungan biologi dan sosiologi dalam kaitan hubungan antara manusia dengan lingkungannya, dimana hal itu secara signifikan mempengaruhi pemikiran-pemikiran psikologi lingkungan. Dengan perkembangan ilmu ekologi, seseorang tidak dianggap terpisah dari lingkungannya, melainkan merupakan bagian yang integral dari lingkungan. Pendapat mengenai hubungan yang saling tergantung antara manusia dengan lingkungannya pada saat ini akan tampak pada teori-teori yang dikembangkan pada disiplin psikologi lingkungan. Lingkungan dan penghuninya masih sering dikaji sebagai komponen yang terpisah, meskipun tidak ada keraguan lagi adanya hubungan yang saling tergantung di antara mereka.
Behaviorisme. Pengaruh penting lain yang merupakan pemikiran yang datang dari cabang disiplin psikologi sendiri adalah behaviorisme. Pemikiran kalangan behavioris muncul sebagai reaksi atas kegagalan teori-teori kepribadian untuk menerangkan perilaku manusia. Pada saat ini secara umum dapat diterima bahwa dua hal penting yang menjadi pertimbangan adalah konteks lingkungan dimana suatu perilaku muncul dan variabel-variabel personal (seperti kepribadian atau sikap). Dengan mempertimbangkan kedua hal ini maka akan lebih dapatdiramalkan suatu fenomena manusiadan lingkungannya daripadajika dibuat pengukuran sendiri-sendiri.
Psikologi Gestalt. Psikologi Gestalt berekembang pada saat yang berbarengan dengan behaviorisme dan lebih menekankan perhatian kepada persepsi dan kognisi sebagai perilaku yang tampak (overt behavior). Prinsip terpenting dari cara kerja kalangan Gestalt ini adalah bahwa objek-objek, orang-orang, dan seting-seting dipersepsi sebagai suatu keseluruhan, dimana hal itu lebih dari sekedar penjumlahan bagian-bagian. Dari pandangan Gestalt, suatu perilaku didasarkan pada proses kognitif, yang bukan dipengaruhi oleh proses stimulus tetapi dari persepsi terhadap stimulus tersebut. Pengaruh Gestalt pada psikologi lingkungan dapat dilihat antara lain pada kognisi lingkungan, misalnya untuk menjelaskan persepsi, berpikir, dan pemrosesan informasi lingkungan.
Dari beberapa perspektif di atas, Veitch & Arkkelin (1995) menekanlan adanya dua hal yang perlu diketahui. Pertama, sebagaimanayang sudah disebutkan di atas bahwa pendekatan yang dipakai pada perspektf-perspektif di atas ada yang amat lebar dalam cakupan dan ada pula yang lemah dalam data empiris. Kedua, tidak ada grand theory dalam psikologi lingkungan, karena tidak ada pendekatan atau perspektif tunggal yang dapat menerangkan hubungan antara perilaku manusia dengan lingkungannya secara memuaskan. Hal ini paling tidak disebabkan oleh empat hal:
(a) Tidak ada data yang cukup tersedia dalam kaitan hubungan manusia dengan lingkungannya, sehingga dapat dipercaya untuk menyatukan teori
(b) Hubungan-hubungan yang dikaji para peneliti amaat sangat beragam
(c) Metode yang digunakan tidak konsisten
(d) Cara pengukuran variabel tidak selalu kompatibel dari suatu seting penelitian ke
penelitian berikutnya.
B. BEBERAPA TEORI
Beberapa pendekatan teori dalam psikologi lingkungan antara lain adalah: Teori Arousal,
Teori Stimulus Berlebihan, Teori Kendala Perilaku, Teori Tingkat Adaptasi, Teori Stres Lingkungan, dan Teori Ekologi.
SUMBER :
Sarwona, Sarlito Wirawan. 1992. Psikologi Lingkungan. Jakarta: Garasindo
Fauzi, Drs. H Ahmad. 1999. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia.
http://elearning.faqih.net/2009/12/pendekatan-teori-dan-metode-penelitian.html
Jumat, 28 Mei 2010
Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus
Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus adalah meraka yang memerlukan penanganan khusus yang berkaitan dengan kekhususannya. Anak berkebutuhan khusus saat ini menjadi istilah baru bagi masyarakat kota Malang pada umumnya. Padahal jika kita memahami lebih dalam lagi maksud dari istilah anak-anak berkebutuhan khusus, istilah ini tidaklah terlalu asing. Di Indonesia istilah yang terlebih dahulu populer untuk mengacu pada anak berkebutuhan khusus adalah berkaitan dengan istilah anak luar biasa. Pada profesi psikologi klinis/kedokteran istilah yang populer adalah anak-anak dengan handaya perkembangan.
Hingga saat ini anak-anak berkebutuhan khusus yang mendapat perhatian yang cukup luas di masyarakat adalah mereka yang tergolong kedalam Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder.
1. Autistic Disorder
Autisme adalah gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
1. Asperger Disorder
Secara umum performa anak Asperger Disorder hampir sama dengan anak autisme, yaitu memiliki gangguan pada kemampuan komunikasi, interaksi sosial dan tingkah lakunya. Namun gangguan pada anak Asperger lebih ringan dibandingkan anak autisme dan sering disebut dengan istilah ”High-fuctioning autism”. Hal-hal yang paling membedakan antara anak Autisme dan Asperger adalah pada kemampuan bahasa bicaranya. Kemampuan bahasa bicara anak Asperger jauh lebih baik dibandingkan anak autisme. Intonasi bicara anak asperger cendrung monoton, ekspresi muka kurang hidup cendrung murung dan berbibicara hanya seputar pada minatnya saja. Bila anak autisme tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, anak asperger masih bisa dan memiliki kemauan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kecerdasan anak asperger biasanya ada pada great rata-rata keatas. Memiliki minat yang sangat tinggi pada buku terutama yang bersifat ingatan/memori pada satu kategori. Misalnya menghafal klasifikasi hewan/tumbuhan yang menggunakan nama-nama latin.
1. Rett’s Disorder
Rett’s Disorder adalah jenis gangguan perkembangan yang masuk kategori ASD. Aspek perkembangan pada anak Rett’s Disorder mengalami kemuduran sejak menginjak usia 18 bulan yang ditandai hilangnya kemampuan bahasa bicara secara tiba-tiba. Koordinasi motorinya semakin memburuk dan dibarengi dengan kemunduran dalam kemampuan sosialnya. Rett’s Disorder hampir keseluruhan penderitanya adalah perempuan.
1. Childhood Disintegrative Disorder.
Yang membedakan anak Childhood Disintegrative Disorder (CCD) dengan anak autisme adalah bahwa umumnya anak CCD sempat berkembang secara normal sampai beberapa tahun termasuk kemampuan bahasa bicaranya. Biasanya anak-anak itu mengalami kemunduran setelah menginjak 2 tahun. Kemunduran kemampuan pada anak CDD bisa samapai pada kondisi anak dengan ganggaun autisme berat (low fuctioning autisme) dengan performa yang sama.
1. Pervasive Development Disorder Not Otherwie Specified (PDD-NOS)
Anak dengan gangguan PDD-NOS performanya hampir sama dengan anak Autisme hanya saja kualitas gangguannya lebih ringan dan terkadang anak-anak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi wajah tidak terlalu datar dan masih bisa diajak bercanda.
Anak-anak berkebutuhan khusus selain Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder :
1. Child with developmental Impairement
Yang banyak dikenal di Indonesia sebagai anak tuna grahita (mental retardation). Secara umum anak dengan gangguan retardasi mental memiliki inteligensi di bawah rata-rata normal, tidak mampu berprilaku adaptif sesuai tugas-tugas perkembangan usianya. Secara performa fisik tanpak sekilas anak retardasi mental seperti anak normal. Kemampuan berkomunikasinyapun tidak mengalami gangguan.hanyak saja anak retardasi mental sulit mengembangkan topik pembicaraan kearah yang lebih lanjut dan kompleks.
1. Child with specific learning disability
Anak berprestasi rendah yang lebih populer dengan istilah anak berkesulitan belajar. Mereka mempunyai kesulitan di bidang-bidang akademik, kognitif dan masalah-masalah emosi sosial. Oleh sebab itu kelainan-kelaian yang dialami lebih bersifat psikologis, yang berimbas pada gangguan kelancaran berbicara, berbahasa dan menulis. Anak-anak LD terlihat tidak berkemampuan sebagai pendengar yang baik, berfikir, berbicara, membaca dan menulis, mengeja huruf, dan perhitungan yang bersifat matematika. Tes hasil belajar di sekolah menunjukan angka rendah. Yang tergolong learning disabilitis adalah anak dengan ganguan persepsi, cedera otak/cerebal palsy, minimal brain dysfunction, dyslexia dan developmental aphasia.
1. Child with emotional or behavioral disorder
Anak dengan ganguan perilaku menyimpang/emosional menunjukan masalah perilaku yang dapat terlihat dari ; selalu gagal/tidak dapat menjalin hubungan pribadi yang intim, berprilaku tidak pada tempatnya (sering mencari perhatian dengan cara-cara yang tidak logis), merasakan adanya depresi dan tidak bahagia (diri sendiri/bisa keluarga/lingkungan sosial) prestasi belajar menurun (memiliki masalah-masalah kesulitan belajar bukan disebabkan faktor intelektual, sensori atau kesehatan).
1. Child who have attention deficit disorder with hyperactive (ADHD)
ADHD terkadang lebih dikenal dengan istilah anak hiperaktif, oleh karena mereka selalu bergerak dari satu tempat ketempat yang lain. Tidak dapat duduk diam di satu tempat selama ± 5-10 menit untuk melakukan suatu kegiatan yang diberikan kepadanya. Rentang konsentrasinya sangat pendek, mudah bingung dan pikirannya selalu kacau, sering mengabaikan perintah atau arahan, sering tidak berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Sering mengalami kesulitan mengeja atau menirukan ejaan huruf.
1. Down Syndrom
Anak down syndraom sangat mudah dikenali lewat bentuk wajahnya (seperti orang mongol). Tapi beberapa diantaranya tidak memperlihatkan bentuk muka down syndrom (layaknya anak normal). Mereka biasanya sangat pendiam, sering bermasalah dengan koordinasi otot-otot mulut tangan dan kaki sehingga sering mengalami terlambat berbicara dan berjalan. Kemampuan inteligensinya dibawah rata-rata normal menyebabkan mereka sulit mengikuti tugas-tugas perkembangan anak normal, baik dalam aspek akademis, emosi dan bersosialisasi. Tak jarang behavioralnya juga memperlihatkan perilaku yang tidak adaptif (sering mencari perhatian yang berlebihan, memperihatkan sikap keras kepala yang berlebihan (shut off/berlagak seperti patung) dan kekanak-kanakan.
1. Child with communication disorder and deafness
Lebih popular dengan istilah tunarungu/wicara adalah mereka yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar sebahagian atau keseluruhan, akibat tidak berfungsinya indra pendengaran sebagaian/keseluruhan.
1. Child with partially seeing and legally blind
Anak tunagrahita dikategorikan sebagai anak-anak yang memiliki indra ke-enam. Hal ini mengacu kepada kemampuan inteligensi yang cukup baik, daya ingat yang kuat, kemampuan taktil yang tinggi berupa kemampuan merasakan objek melalui ujung jari-jemarinya sebagai pengganti indra penglihatannya. Anak tunagrahita mempresepsikan dunia dengan menggunakan indra sensoriknya, sehingga mereka membutuhkan latihan dalam waktu yang lama untuk menguasai dunia persepsi. Dalam melakukan interaksi sosial umumnya dilakukan dengan cara menyentuh dan mendengar objeknya, sehingga kurang menarik bagi lawan bicaranya.
1. Child with Giftednees and Special talent
Anak berbakat memiliki cirri-ciri :
1. Memiliki skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (general intellectual ability).
2. Mempunyai problem solving, kreatifitas tinggi dan produktif.
3. Memiliki keunggulan dibidang akademik/seni/sastra/verbal/etetika/sport/sosial.
4. Memiliki kemampuan intuisi yang kuat, terkadang mampu mempredisi sesuatu yang bersifat futuristik yang mungkin beberapa waktu (tahun/abad) baru diketahui orang normal.
5. Memiliki kemampuan kepemimpinan yang teliti dan visioner.
http://sekolahdolan.org/2009/05/mengenal-anak-berkebutuhan-khusus
Anak berkebutuhan khusus adalah meraka yang memerlukan penanganan khusus yang berkaitan dengan kekhususannya. Anak berkebutuhan khusus saat ini menjadi istilah baru bagi masyarakat kota Malang pada umumnya. Padahal jika kita memahami lebih dalam lagi maksud dari istilah anak-anak berkebutuhan khusus, istilah ini tidaklah terlalu asing. Di Indonesia istilah yang terlebih dahulu populer untuk mengacu pada anak berkebutuhan khusus adalah berkaitan dengan istilah anak luar biasa. Pada profesi psikologi klinis/kedokteran istilah yang populer adalah anak-anak dengan handaya perkembangan.
Hingga saat ini anak-anak berkebutuhan khusus yang mendapat perhatian yang cukup luas di masyarakat adalah mereka yang tergolong kedalam Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder.
1. Autistic Disorder
Autisme adalah gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
1. Asperger Disorder
Secara umum performa anak Asperger Disorder hampir sama dengan anak autisme, yaitu memiliki gangguan pada kemampuan komunikasi, interaksi sosial dan tingkah lakunya. Namun gangguan pada anak Asperger lebih ringan dibandingkan anak autisme dan sering disebut dengan istilah ”High-fuctioning autism”. Hal-hal yang paling membedakan antara anak Autisme dan Asperger adalah pada kemampuan bahasa bicaranya. Kemampuan bahasa bicara anak Asperger jauh lebih baik dibandingkan anak autisme. Intonasi bicara anak asperger cendrung monoton, ekspresi muka kurang hidup cendrung murung dan berbibicara hanya seputar pada minatnya saja. Bila anak autisme tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, anak asperger masih bisa dan memiliki kemauan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kecerdasan anak asperger biasanya ada pada great rata-rata keatas. Memiliki minat yang sangat tinggi pada buku terutama yang bersifat ingatan/memori pada satu kategori. Misalnya menghafal klasifikasi hewan/tumbuhan yang menggunakan nama-nama latin.
1. Rett’s Disorder
Rett’s Disorder adalah jenis gangguan perkembangan yang masuk kategori ASD. Aspek perkembangan pada anak Rett’s Disorder mengalami kemuduran sejak menginjak usia 18 bulan yang ditandai hilangnya kemampuan bahasa bicara secara tiba-tiba. Koordinasi motorinya semakin memburuk dan dibarengi dengan kemunduran dalam kemampuan sosialnya. Rett’s Disorder hampir keseluruhan penderitanya adalah perempuan.
1. Childhood Disintegrative Disorder.
Yang membedakan anak Childhood Disintegrative Disorder (CCD) dengan anak autisme adalah bahwa umumnya anak CCD sempat berkembang secara normal sampai beberapa tahun termasuk kemampuan bahasa bicaranya. Biasanya anak-anak itu mengalami kemunduran setelah menginjak 2 tahun. Kemunduran kemampuan pada anak CDD bisa samapai pada kondisi anak dengan ganggaun autisme berat (low fuctioning autisme) dengan performa yang sama.
1. Pervasive Development Disorder Not Otherwie Specified (PDD-NOS)
Anak dengan gangguan PDD-NOS performanya hampir sama dengan anak Autisme hanya saja kualitas gangguannya lebih ringan dan terkadang anak-anak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi wajah tidak terlalu datar dan masih bisa diajak bercanda.
Anak-anak berkebutuhan khusus selain Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder :
1. Child with developmental Impairement
Yang banyak dikenal di Indonesia sebagai anak tuna grahita (mental retardation). Secara umum anak dengan gangguan retardasi mental memiliki inteligensi di bawah rata-rata normal, tidak mampu berprilaku adaptif sesuai tugas-tugas perkembangan usianya. Secara performa fisik tanpak sekilas anak retardasi mental seperti anak normal. Kemampuan berkomunikasinyapun tidak mengalami gangguan.hanyak saja anak retardasi mental sulit mengembangkan topik pembicaraan kearah yang lebih lanjut dan kompleks.
1. Child with specific learning disability
Anak berprestasi rendah yang lebih populer dengan istilah anak berkesulitan belajar. Mereka mempunyai kesulitan di bidang-bidang akademik, kognitif dan masalah-masalah emosi sosial. Oleh sebab itu kelainan-kelaian yang dialami lebih bersifat psikologis, yang berimbas pada gangguan kelancaran berbicara, berbahasa dan menulis. Anak-anak LD terlihat tidak berkemampuan sebagai pendengar yang baik, berfikir, berbicara, membaca dan menulis, mengeja huruf, dan perhitungan yang bersifat matematika. Tes hasil belajar di sekolah menunjukan angka rendah. Yang tergolong learning disabilitis adalah anak dengan ganguan persepsi, cedera otak/cerebal palsy, minimal brain dysfunction, dyslexia dan developmental aphasia.
1. Child with emotional or behavioral disorder
Anak dengan ganguan perilaku menyimpang/emosional menunjukan masalah perilaku yang dapat terlihat dari ; selalu gagal/tidak dapat menjalin hubungan pribadi yang intim, berprilaku tidak pada tempatnya (sering mencari perhatian dengan cara-cara yang tidak logis), merasakan adanya depresi dan tidak bahagia (diri sendiri/bisa keluarga/lingkungan sosial) prestasi belajar menurun (memiliki masalah-masalah kesulitan belajar bukan disebabkan faktor intelektual, sensori atau kesehatan).
1. Child who have attention deficit disorder with hyperactive (ADHD)
ADHD terkadang lebih dikenal dengan istilah anak hiperaktif, oleh karena mereka selalu bergerak dari satu tempat ketempat yang lain. Tidak dapat duduk diam di satu tempat selama ± 5-10 menit untuk melakukan suatu kegiatan yang diberikan kepadanya. Rentang konsentrasinya sangat pendek, mudah bingung dan pikirannya selalu kacau, sering mengabaikan perintah atau arahan, sering tidak berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Sering mengalami kesulitan mengeja atau menirukan ejaan huruf.
1. Down Syndrom
Anak down syndraom sangat mudah dikenali lewat bentuk wajahnya (seperti orang mongol). Tapi beberapa diantaranya tidak memperlihatkan bentuk muka down syndrom (layaknya anak normal). Mereka biasanya sangat pendiam, sering bermasalah dengan koordinasi otot-otot mulut tangan dan kaki sehingga sering mengalami terlambat berbicara dan berjalan. Kemampuan inteligensinya dibawah rata-rata normal menyebabkan mereka sulit mengikuti tugas-tugas perkembangan anak normal, baik dalam aspek akademis, emosi dan bersosialisasi. Tak jarang behavioralnya juga memperlihatkan perilaku yang tidak adaptif (sering mencari perhatian yang berlebihan, memperihatkan sikap keras kepala yang berlebihan (shut off/berlagak seperti patung) dan kekanak-kanakan.
1. Child with communication disorder and deafness
Lebih popular dengan istilah tunarungu/wicara adalah mereka yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar sebahagian atau keseluruhan, akibat tidak berfungsinya indra pendengaran sebagaian/keseluruhan.
1. Child with partially seeing and legally blind
Anak tunagrahita dikategorikan sebagai anak-anak yang memiliki indra ke-enam. Hal ini mengacu kepada kemampuan inteligensi yang cukup baik, daya ingat yang kuat, kemampuan taktil yang tinggi berupa kemampuan merasakan objek melalui ujung jari-jemarinya sebagai pengganti indra penglihatannya. Anak tunagrahita mempresepsikan dunia dengan menggunakan indra sensoriknya, sehingga mereka membutuhkan latihan dalam waktu yang lama untuk menguasai dunia persepsi. Dalam melakukan interaksi sosial umumnya dilakukan dengan cara menyentuh dan mendengar objeknya, sehingga kurang menarik bagi lawan bicaranya.
1. Child with Giftednees and Special talent
Anak berbakat memiliki cirri-ciri :
1. Memiliki skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (general intellectual ability).
2. Mempunyai problem solving, kreatifitas tinggi dan produktif.
3. Memiliki keunggulan dibidang akademik/seni/sastra/verbal/etetika/sport/sosial.
4. Memiliki kemampuan intuisi yang kuat, terkadang mampu mempredisi sesuatu yang bersifat futuristik yang mungkin beberapa waktu (tahun/abad) baru diketahui orang normal.
5. Memiliki kemampuan kepemimpinan yang teliti dan visioner.
http://sekolahdolan.org/2009/05/mengenal-anak-berkebutuhan-khusus
Awas, Buah & Sayur Bisa Picu Gangguan Mental
VIVAnews – Penelitian baru menunjukkan bahwa paparan pestisida yang digunakan pada makanan anak-anak seperti stroberi segar, seledri bisa meningkatkan risiko Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak.
Seperti dikutip dari laman Modernmom.com, para ilmuwan di AS dan Kanada menemukan bahwa anak-anak dengan tingkat residu pestisida yang tinggi dalam urin mereka, rentan mengalami ADHD.
ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak. Gangguan ini berdampak pada masalah mental seperti cara berpikir, bertindak dan merasa. Anak-anak yang mengalaminya akan bermasalah dengan konsentrasi dan pemusatan pikiran. Seperti memicu anak hiperaktif.
Anak-anak dengan tingkat lebih tinggi dari rata-rata satu penanda pestisida memiliki risiko dua kali lipat terdiagnosis ADHD. “Saya pikir itu cukup signifikan, penggandaan adalah efek yang kuat, “kata Maryse F Bouchard, seorang peneliti di University of Montreal di Quebec dan penulis utama dari studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics.
Lantas, apa yang harus orangtua lakukan untuk menghindari ADHD pada anak? “Saya menganjurkan agar para orangtua lebih banyak memberikan anak-anak makanan organik,” ujar Bouchard. “Saya juga akan merekomendasikan mencuci buah dan sayuran sebanyak mungkin.”
Menurut kajian National Academy of Sciences pada 2008, 28 persen sampel blueberry beku, 25 persen sampel stroberi segar, dan 19 persen sampel seledri mengandung residu pestisida. Paparan pestisida kebanyakan berasal dari buah-buahan dan sayuran segar. (wm)
http://sekolahdolan.org/2010/05/awas-buah-sayur-bisa-picu-gangguan-mental/
Seperti dikutip dari laman Modernmom.com, para ilmuwan di AS dan Kanada menemukan bahwa anak-anak dengan tingkat residu pestisida yang tinggi dalam urin mereka, rentan mengalami ADHD.
ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak. Gangguan ini berdampak pada masalah mental seperti cara berpikir, bertindak dan merasa. Anak-anak yang mengalaminya akan bermasalah dengan konsentrasi dan pemusatan pikiran. Seperti memicu anak hiperaktif.
Anak-anak dengan tingkat lebih tinggi dari rata-rata satu penanda pestisida memiliki risiko dua kali lipat terdiagnosis ADHD. “Saya pikir itu cukup signifikan, penggandaan adalah efek yang kuat, “kata Maryse F Bouchard, seorang peneliti di University of Montreal di Quebec dan penulis utama dari studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics.
Lantas, apa yang harus orangtua lakukan untuk menghindari ADHD pada anak? “Saya menganjurkan agar para orangtua lebih banyak memberikan anak-anak makanan organik,” ujar Bouchard. “Saya juga akan merekomendasikan mencuci buah dan sayuran sebanyak mungkin.”
Menurut kajian National Academy of Sciences pada 2008, 28 persen sampel blueberry beku, 25 persen sampel stroberi segar, dan 19 persen sampel seledri mengandung residu pestisida. Paparan pestisida kebanyakan berasal dari buah-buahan dan sayuran segar. (wm)
http://sekolahdolan.org/2010/05/awas-buah-sayur-bisa-picu-gangguan-mental/
Pendidikan untuk anak dengan kebutuhan khusus (special needs)
Assalamu'alaikum WW.
Perkenankan saya bercerita sekali lagi mengenai putri saya yang istimewa dalam
hubungannya dengan pendidikan. Mudah-mudahan cerita ini dapat menimbulkan
inspirasi pada teman-teman dalam berhubungan dengan anak-anak yang memiliki
kebutuhan khusus.
Anak saya didiagnosa Crouzon Syndrome pada usia 1,5 tahun oleh seorang dokter
dari Australia (kebetulan dia punya jadwal datang ke Jakarta 2 X setahun).
Perbedaannya sudah langsung tampak sejak lahir. Perbedaan penampilan fisik ini
diiringi pula dengan gejala lain, yaitu matanya mudah lelah dan iritasi,
tidurnya ngorok, sulit menelan makanan, kurang pendengaran, gigi rapuh. Pada
tahun pertamanya fisiknya lemah dan perkembangannya lambat. Dan yang paling
bikin ibunya stress, dia sangat sensitif, mudah menangis dan mengamuk. Kalau
menangis bisa menghabiskan waktu 1 jam tanpa bisa dibujuk, hingga akhirnya
berhenti karena kelelahan.
Setelah pertemuan saya dengan dokter dari Australia itu, diputuskan untuk
dilakukan operasi (rekonstruksi tulang tengkorak kepalanya) untuk menyelamatkan
perkembangan otak dan syaraf matanya, sebab bila tidak, akan mengganggu
perkembangan mental dan penglihatannya .
Pada usia 2 tahun (1996) putri saya di operasi di Women and Children Hospital
Adelaide Australia oleh Dr. David David. Kami berada di sana selama 1 bulan.
Sejauh yang saya tahu, operasi semacam itu belum dapat dilakukan di Indonesia
saat itu.
Terus terang saya sangat terkesan dengan sistem kerja di sana, yang terstruktur
dan melibatkan satu tim yang bekerja sinergi. Bukan hanya kesehatan fisik
pasiennya saja yang diperhatikan, tetapi juga kesehatan mentalnya. Oleh karena
itu peran psikolog dan pekerja sosialnya sangat besar. Mereka juga memberikan
dukungan yang sangat positif terhadap keluarga pasien agar selalu optimis.
Kondisi ini secara tidak langsung juga mendukung pada proses pemulihan anak.
Ini merupakan satu operasi dari serangkaian operasi yang mungkin akan
dihadapinya lagi. Operasi berikutnya baru dapat dilakukan bila anak sudah
berusia remaja. Dari beberapa kasus yang saya ketahui, kasus seperti ini
membutuhkan belasan kali operasi.
Sepulang dari sana, saya diberi PR untuk penanganan anak saya selanjutnya. Putri
saya (karena kurang pendengaran) harus mengikuti terapi bicara untuk
mengembangkan kemampuan komunikasinya, terapi ini dijalani selama 2 tahun,
sempat berhenti karena kondisi sosial politik di Jakarta tidak mendukung
(kebetulan tempat terapinya di Jalan Salemba yang seringkali demo mahasiswa).
Dilanjutkan lagi dengan terapi bahasa 6 bulan sebelum masuk SD.
Selain terapi, dia juga rajin ke dokter karena sering sakit pilek (konstruksi
hidungnya membuat dia gampang sakit dan susah sembuh), rajin ke dokter gigi
karena giginya yang rapuh, gampang bolong meski rajin disikat. Dia juga pakai
kacamata prisma, karena jarak antar matanya yang terlalu jauh menyebabkan otot
matanya bekerja lebih keras untuk melihat jarak dekat (padahal dia senang sekali
membaca, menulis dan menggambar). Saya juga nggak bisa mengharapkan ia makan
banyak, karena kerongkongannya yang kecil menghambat dia makan terlalu banyak.
Untuk masalah fisik, saya tinggal mengikuti panduan dari dokter saja. Namun
untuk masalah konsep diri, sosialisasi dan pendidikannya, keluarganya harus
berperan aktif.
Saya masukkan anak saya ke Kelompok Bermain pada usia 2,5 tahun karena saya
melihat dia sangat tidak percaya diri dan dependen. Saya berharap dia memperoleh
kesempatan bersosialisasi lebih banyak. Sayangnya dia sempat ditolak karena
disangka terbelakang dan kepseknya saat itu khawatir kalau teman-temannya yang
lain akan ketakutan.
Saya sedih sekali saat itu, saya katakan kepada kepala sekolahnya, bahwa saya
tahu benar kalau anak saya tidak terbelakang, dan dia tidak akan mengganggu
teman-temannya (misalnya, memukul), tapi memang anak saya berbeda. Justru di
sini saya berharap dengan keberadaan anak saya tidak hanya menguntungkan anak
saya saja, tapi juga menguntungkan anak lain, karena anak-anak lain menjadi
tahu, bahwa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, dan mereka juga jadi
tahu bagaimana caranya bergaul dengan teman yang memiliki kekurangan atau
keterbatasan tertentu.
Singkatnya akhirnya anak saya sekolah di situ sampai TK-B. Saya sengaja memilih
sekolah dengan kelas kecil (jumlah murid sedikit, hanya 12 orang dengan 1 orang
guru) dengan harapan perhatian guru tidak terlalu terbagi, karena dengan
keterbatasan pendengarannya, guru sering kali harus mengulang instruksi 2 sampai
3 kali pada anak saya (anak saya tidak mau pakai hearing aid karena dirasa
mengganggu).
Selama anak saya TK saya mulai hunting mencari SD yang kira-kira dapat menerima
anak saya dengan kondisinya. Menurut saya anak saya membutuhkan sekolah dengan
metode active learning, jumlah murid sedikit sehingga guru dapat menangani murid
secara individual dan yang terpenting lingkungan sekolah yang kondusif untuk
perkembangan konsep dirinya. Saya juga menghindari sekolah yang menerapkan
sistem seleksi dengan menggunakan tes kecerdasan, karena saya khawatir meski
anak saya berhasil masuk, namun akan mengalami stress karena beban belajar yang
tinggi (biasanya sekolah dengan sistem seleksi ini mengharapkan muridnya relatif
homogen untuk memudahkan penyampaian pelajaran).
Alhamdulillah saya mendapatkan sekolah yang sesuai dengan harapan. Sekolah
sangat welcome dengan anak saya (dan juga anak-anak lain yang mempunyai
kebutuhan khusus). Setelah anak saya mengikuti try out (bukan seleksi, tapi
lebih pada mengetahui sampai sejauh mana kemampuannya), saya bersama suami saya
diundang untuk berdiskusi dengan pihak sekolah.
Pertanyaan awal yang sangat menyentuh saya saat itu adalah ketika pihak sekolah
bertanya, "Apa yang Bapak dan Ibu harapkan dari sekolah untuk perkembangan putri
Bapak dan Ibu?"
Intinya, diskusi kami dengan pihak sekolah membicarakan apa saja yang akan
dilakukan oleh pihak sekolah (berkaitan dengan kebutuhan khusus anak) baik
menyangkut proses belajar mengajar di kelas, sosialisasi dengan teman dan juga
kebutuhan khusus fisiknya (harus gosok gigi setiap selesai makan, dan
sering-sering membersihkan mata), apa yang perlu dilakukan orang tua di rumah,
termasuk juga mempersiapkan kakaknya untuk menerima pertanyaan-pertanyaan dari
teman-temannya mengenai adiknya yang "berbeda". Pokoknya kami membahas segala
hal yang berpeluang menjadi masalah.
Alhamdulillah sekali lagi. Saat ini putri kami sangat bersemangat sekolah,
motivasi belajarnya sangat tinggi, terutama membaca, menulis dan menggambar.
Masih agak pasif dan pemalu, namun dia tidak menolak untuk bergaul dengan teman
yang mengajaknya.
Saya amati dengan metode active learning dan pendekatan anak secara individual
(memperlakukan anak sesuai dengan potensi dan kebutuhan anak), anak saya
memperoleh perkembangan pesat dalam pemahamannya terhadap materi pelajaran yang
diberikan. Di samping itu keberadaan anak-anak yang berkebutuhan khusus di
sekolah memberikan nilai tambah bagi anak-anak yang lain sehingga dapat
mengembangkan kemampuan empati terhadap temannya.
Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan orang tua yang lain, perkembangan positif ini
tidak hanya dialami anak saya tapi juga anak-anak lain, misalnya, anak Autis,
ADD, ADHD, Asperger, dan lain-lain.
Satu hal yang mungkin agak mengganggu adalah masalah biaya yang tidak sedikit.
Akibatnya tidak setiap anak dapat memperoleh kesempatan menikmati pendidikan
yang baik.
Nggak ada salahnya kalau saya mengulangi lagi, nampaknya perlu dipikirkan cara
lain agar sedapat mungkin banyak sekolah/lembaga pendidikan yang dapat
memberikan kesempatan pada anak-anak baik yang normal maupun yang memiliki
kebutuhan khusus untuk dapat berkembang optimal, baik dari segi kognitif,
afektif, maupun psikomotoriknya.
Sekian dulu
Wassalamu'alaikum WW.
http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/763
Perkenankan saya bercerita sekali lagi mengenai putri saya yang istimewa dalam
hubungannya dengan pendidikan. Mudah-mudahan cerita ini dapat menimbulkan
inspirasi pada teman-teman dalam berhubungan dengan anak-anak yang memiliki
kebutuhan khusus.
Anak saya didiagnosa Crouzon Syndrome pada usia 1,5 tahun oleh seorang dokter
dari Australia (kebetulan dia punya jadwal datang ke Jakarta 2 X setahun).
Perbedaannya sudah langsung tampak sejak lahir. Perbedaan penampilan fisik ini
diiringi pula dengan gejala lain, yaitu matanya mudah lelah dan iritasi,
tidurnya ngorok, sulit menelan makanan, kurang pendengaran, gigi rapuh. Pada
tahun pertamanya fisiknya lemah dan perkembangannya lambat. Dan yang paling
bikin ibunya stress, dia sangat sensitif, mudah menangis dan mengamuk. Kalau
menangis bisa menghabiskan waktu 1 jam tanpa bisa dibujuk, hingga akhirnya
berhenti karena kelelahan.
Setelah pertemuan saya dengan dokter dari Australia itu, diputuskan untuk
dilakukan operasi (rekonstruksi tulang tengkorak kepalanya) untuk menyelamatkan
perkembangan otak dan syaraf matanya, sebab bila tidak, akan mengganggu
perkembangan mental dan penglihatannya .
Pada usia 2 tahun (1996) putri saya di operasi di Women and Children Hospital
Adelaide Australia oleh Dr. David David. Kami berada di sana selama 1 bulan.
Sejauh yang saya tahu, operasi semacam itu belum dapat dilakukan di Indonesia
saat itu.
Terus terang saya sangat terkesan dengan sistem kerja di sana, yang terstruktur
dan melibatkan satu tim yang bekerja sinergi. Bukan hanya kesehatan fisik
pasiennya saja yang diperhatikan, tetapi juga kesehatan mentalnya. Oleh karena
itu peran psikolog dan pekerja sosialnya sangat besar. Mereka juga memberikan
dukungan yang sangat positif terhadap keluarga pasien agar selalu optimis.
Kondisi ini secara tidak langsung juga mendukung pada proses pemulihan anak.
Ini merupakan satu operasi dari serangkaian operasi yang mungkin akan
dihadapinya lagi. Operasi berikutnya baru dapat dilakukan bila anak sudah
berusia remaja. Dari beberapa kasus yang saya ketahui, kasus seperti ini
membutuhkan belasan kali operasi.
Sepulang dari sana, saya diberi PR untuk penanganan anak saya selanjutnya. Putri
saya (karena kurang pendengaran) harus mengikuti terapi bicara untuk
mengembangkan kemampuan komunikasinya, terapi ini dijalani selama 2 tahun,
sempat berhenti karena kondisi sosial politik di Jakarta tidak mendukung
(kebetulan tempat terapinya di Jalan Salemba yang seringkali demo mahasiswa).
Dilanjutkan lagi dengan terapi bahasa 6 bulan sebelum masuk SD.
Selain terapi, dia juga rajin ke dokter karena sering sakit pilek (konstruksi
hidungnya membuat dia gampang sakit dan susah sembuh), rajin ke dokter gigi
karena giginya yang rapuh, gampang bolong meski rajin disikat. Dia juga pakai
kacamata prisma, karena jarak antar matanya yang terlalu jauh menyebabkan otot
matanya bekerja lebih keras untuk melihat jarak dekat (padahal dia senang sekali
membaca, menulis dan menggambar). Saya juga nggak bisa mengharapkan ia makan
banyak, karena kerongkongannya yang kecil menghambat dia makan terlalu banyak.
Untuk masalah fisik, saya tinggal mengikuti panduan dari dokter saja. Namun
untuk masalah konsep diri, sosialisasi dan pendidikannya, keluarganya harus
berperan aktif.
Saya masukkan anak saya ke Kelompok Bermain pada usia 2,5 tahun karena saya
melihat dia sangat tidak percaya diri dan dependen. Saya berharap dia memperoleh
kesempatan bersosialisasi lebih banyak. Sayangnya dia sempat ditolak karena
disangka terbelakang dan kepseknya saat itu khawatir kalau teman-temannya yang
lain akan ketakutan.
Saya sedih sekali saat itu, saya katakan kepada kepala sekolahnya, bahwa saya
tahu benar kalau anak saya tidak terbelakang, dan dia tidak akan mengganggu
teman-temannya (misalnya, memukul), tapi memang anak saya berbeda. Justru di
sini saya berharap dengan keberadaan anak saya tidak hanya menguntungkan anak
saya saja, tapi juga menguntungkan anak lain, karena anak-anak lain menjadi
tahu, bahwa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, dan mereka juga jadi
tahu bagaimana caranya bergaul dengan teman yang memiliki kekurangan atau
keterbatasan tertentu.
Singkatnya akhirnya anak saya sekolah di situ sampai TK-B. Saya sengaja memilih
sekolah dengan kelas kecil (jumlah murid sedikit, hanya 12 orang dengan 1 orang
guru) dengan harapan perhatian guru tidak terlalu terbagi, karena dengan
keterbatasan pendengarannya, guru sering kali harus mengulang instruksi 2 sampai
3 kali pada anak saya (anak saya tidak mau pakai hearing aid karena dirasa
mengganggu).
Selama anak saya TK saya mulai hunting mencari SD yang kira-kira dapat menerima
anak saya dengan kondisinya. Menurut saya anak saya membutuhkan sekolah dengan
metode active learning, jumlah murid sedikit sehingga guru dapat menangani murid
secara individual dan yang terpenting lingkungan sekolah yang kondusif untuk
perkembangan konsep dirinya. Saya juga menghindari sekolah yang menerapkan
sistem seleksi dengan menggunakan tes kecerdasan, karena saya khawatir meski
anak saya berhasil masuk, namun akan mengalami stress karena beban belajar yang
tinggi (biasanya sekolah dengan sistem seleksi ini mengharapkan muridnya relatif
homogen untuk memudahkan penyampaian pelajaran).
Alhamdulillah saya mendapatkan sekolah yang sesuai dengan harapan. Sekolah
sangat welcome dengan anak saya (dan juga anak-anak lain yang mempunyai
kebutuhan khusus). Setelah anak saya mengikuti try out (bukan seleksi, tapi
lebih pada mengetahui sampai sejauh mana kemampuannya), saya bersama suami saya
diundang untuk berdiskusi dengan pihak sekolah.
Pertanyaan awal yang sangat menyentuh saya saat itu adalah ketika pihak sekolah
bertanya, "Apa yang Bapak dan Ibu harapkan dari sekolah untuk perkembangan putri
Bapak dan Ibu?"
Intinya, diskusi kami dengan pihak sekolah membicarakan apa saja yang akan
dilakukan oleh pihak sekolah (berkaitan dengan kebutuhan khusus anak) baik
menyangkut proses belajar mengajar di kelas, sosialisasi dengan teman dan juga
kebutuhan khusus fisiknya (harus gosok gigi setiap selesai makan, dan
sering-sering membersihkan mata), apa yang perlu dilakukan orang tua di rumah,
termasuk juga mempersiapkan kakaknya untuk menerima pertanyaan-pertanyaan dari
teman-temannya mengenai adiknya yang "berbeda". Pokoknya kami membahas segala
hal yang berpeluang menjadi masalah.
Alhamdulillah sekali lagi. Saat ini putri kami sangat bersemangat sekolah,
motivasi belajarnya sangat tinggi, terutama membaca, menulis dan menggambar.
Masih agak pasif dan pemalu, namun dia tidak menolak untuk bergaul dengan teman
yang mengajaknya.
Saya amati dengan metode active learning dan pendekatan anak secara individual
(memperlakukan anak sesuai dengan potensi dan kebutuhan anak), anak saya
memperoleh perkembangan pesat dalam pemahamannya terhadap materi pelajaran yang
diberikan. Di samping itu keberadaan anak-anak yang berkebutuhan khusus di
sekolah memberikan nilai tambah bagi anak-anak yang lain sehingga dapat
mengembangkan kemampuan empati terhadap temannya.
Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan orang tua yang lain, perkembangan positif ini
tidak hanya dialami anak saya tapi juga anak-anak lain, misalnya, anak Autis,
ADD, ADHD, Asperger, dan lain-lain.
Satu hal yang mungkin agak mengganggu adalah masalah biaya yang tidak sedikit.
Akibatnya tidak setiap anak dapat memperoleh kesempatan menikmati pendidikan
yang baik.
Nggak ada salahnya kalau saya mengulangi lagi, nampaknya perlu dipikirkan cara
lain agar sedapat mungkin banyak sekolah/lembaga pendidikan yang dapat
memberikan kesempatan pada anak-anak baik yang normal maupun yang memiliki
kebutuhan khusus untuk dapat berkembang optimal, baik dari segi kognitif,
afektif, maupun psikomotoriknya.
Sekian dulu
Wassalamu'alaikum WW.
http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/763
Langganan:
Postingan (Atom)
