Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus adalah meraka yang memerlukan penanganan khusus yang berkaitan dengan kekhususannya. Anak berkebutuhan khusus saat ini menjadi istilah baru bagi masyarakat kota Malang pada umumnya. Padahal jika kita memahami lebih dalam lagi maksud dari istilah anak-anak berkebutuhan khusus, istilah ini tidaklah terlalu asing. Di Indonesia istilah yang terlebih dahulu populer untuk mengacu pada anak berkebutuhan khusus adalah berkaitan dengan istilah anak luar biasa. Pada profesi psikologi klinis/kedokteran istilah yang populer adalah anak-anak dengan handaya perkembangan.
Hingga saat ini anak-anak berkebutuhan khusus yang mendapat perhatian yang cukup luas di masyarakat adalah mereka yang tergolong kedalam Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder.
1. Autistic Disorder
Autisme adalah gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
1. Asperger Disorder
Secara umum performa anak Asperger Disorder hampir sama dengan anak autisme, yaitu memiliki gangguan pada kemampuan komunikasi, interaksi sosial dan tingkah lakunya. Namun gangguan pada anak Asperger lebih ringan dibandingkan anak autisme dan sering disebut dengan istilah ”High-fuctioning autism”. Hal-hal yang paling membedakan antara anak Autisme dan Asperger adalah pada kemampuan bahasa bicaranya. Kemampuan bahasa bicara anak Asperger jauh lebih baik dibandingkan anak autisme. Intonasi bicara anak asperger cendrung monoton, ekspresi muka kurang hidup cendrung murung dan berbibicara hanya seputar pada minatnya saja. Bila anak autisme tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, anak asperger masih bisa dan memiliki kemauan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kecerdasan anak asperger biasanya ada pada great rata-rata keatas. Memiliki minat yang sangat tinggi pada buku terutama yang bersifat ingatan/memori pada satu kategori. Misalnya menghafal klasifikasi hewan/tumbuhan yang menggunakan nama-nama latin.
1. Rett’s Disorder
Rett’s Disorder adalah jenis gangguan perkembangan yang masuk kategori ASD. Aspek perkembangan pada anak Rett’s Disorder mengalami kemuduran sejak menginjak usia 18 bulan yang ditandai hilangnya kemampuan bahasa bicara secara tiba-tiba. Koordinasi motorinya semakin memburuk dan dibarengi dengan kemunduran dalam kemampuan sosialnya. Rett’s Disorder hampir keseluruhan penderitanya adalah perempuan.
1. Childhood Disintegrative Disorder.
Yang membedakan anak Childhood Disintegrative Disorder (CCD) dengan anak autisme adalah bahwa umumnya anak CCD sempat berkembang secara normal sampai beberapa tahun termasuk kemampuan bahasa bicaranya. Biasanya anak-anak itu mengalami kemunduran setelah menginjak 2 tahun. Kemunduran kemampuan pada anak CDD bisa samapai pada kondisi anak dengan ganggaun autisme berat (low fuctioning autisme) dengan performa yang sama.
1. Pervasive Development Disorder Not Otherwie Specified (PDD-NOS)
Anak dengan gangguan PDD-NOS performanya hampir sama dengan anak Autisme hanya saja kualitas gangguannya lebih ringan dan terkadang anak-anak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi wajah tidak terlalu datar dan masih bisa diajak bercanda.
Anak-anak berkebutuhan khusus selain Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder :
1. Child with developmental Impairement
Yang banyak dikenal di Indonesia sebagai anak tuna grahita (mental retardation). Secara umum anak dengan gangguan retardasi mental memiliki inteligensi di bawah rata-rata normal, tidak mampu berprilaku adaptif sesuai tugas-tugas perkembangan usianya. Secara performa fisik tanpak sekilas anak retardasi mental seperti anak normal. Kemampuan berkomunikasinyapun tidak mengalami gangguan.hanyak saja anak retardasi mental sulit mengembangkan topik pembicaraan kearah yang lebih lanjut dan kompleks.
1. Child with specific learning disability
Anak berprestasi rendah yang lebih populer dengan istilah anak berkesulitan belajar. Mereka mempunyai kesulitan di bidang-bidang akademik, kognitif dan masalah-masalah emosi sosial. Oleh sebab itu kelainan-kelaian yang dialami lebih bersifat psikologis, yang berimbas pada gangguan kelancaran berbicara, berbahasa dan menulis. Anak-anak LD terlihat tidak berkemampuan sebagai pendengar yang baik, berfikir, berbicara, membaca dan menulis, mengeja huruf, dan perhitungan yang bersifat matematika. Tes hasil belajar di sekolah menunjukan angka rendah. Yang tergolong learning disabilitis adalah anak dengan ganguan persepsi, cedera otak/cerebal palsy, minimal brain dysfunction, dyslexia dan developmental aphasia.
1. Child with emotional or behavioral disorder
Anak dengan ganguan perilaku menyimpang/emosional menunjukan masalah perilaku yang dapat terlihat dari ; selalu gagal/tidak dapat menjalin hubungan pribadi yang intim, berprilaku tidak pada tempatnya (sering mencari perhatian dengan cara-cara yang tidak logis), merasakan adanya depresi dan tidak bahagia (diri sendiri/bisa keluarga/lingkungan sosial) prestasi belajar menurun (memiliki masalah-masalah kesulitan belajar bukan disebabkan faktor intelektual, sensori atau kesehatan).
1. Child who have attention deficit disorder with hyperactive (ADHD)
ADHD terkadang lebih dikenal dengan istilah anak hiperaktif, oleh karena mereka selalu bergerak dari satu tempat ketempat yang lain. Tidak dapat duduk diam di satu tempat selama ± 5-10 menit untuk melakukan suatu kegiatan yang diberikan kepadanya. Rentang konsentrasinya sangat pendek, mudah bingung dan pikirannya selalu kacau, sering mengabaikan perintah atau arahan, sering tidak berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Sering mengalami kesulitan mengeja atau menirukan ejaan huruf.
1. Down Syndrom
Anak down syndraom sangat mudah dikenali lewat bentuk wajahnya (seperti orang mongol). Tapi beberapa diantaranya tidak memperlihatkan bentuk muka down syndrom (layaknya anak normal). Mereka biasanya sangat pendiam, sering bermasalah dengan koordinasi otot-otot mulut tangan dan kaki sehingga sering mengalami terlambat berbicara dan berjalan. Kemampuan inteligensinya dibawah rata-rata normal menyebabkan mereka sulit mengikuti tugas-tugas perkembangan anak normal, baik dalam aspek akademis, emosi dan bersosialisasi. Tak jarang behavioralnya juga memperlihatkan perilaku yang tidak adaptif (sering mencari perhatian yang berlebihan, memperihatkan sikap keras kepala yang berlebihan (shut off/berlagak seperti patung) dan kekanak-kanakan.
1. Child with communication disorder and deafness
Lebih popular dengan istilah tunarungu/wicara adalah mereka yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar sebahagian atau keseluruhan, akibat tidak berfungsinya indra pendengaran sebagaian/keseluruhan.
1. Child with partially seeing and legally blind
Anak tunagrahita dikategorikan sebagai anak-anak yang memiliki indra ke-enam. Hal ini mengacu kepada kemampuan inteligensi yang cukup baik, daya ingat yang kuat, kemampuan taktil yang tinggi berupa kemampuan merasakan objek melalui ujung jari-jemarinya sebagai pengganti indra penglihatannya. Anak tunagrahita mempresepsikan dunia dengan menggunakan indra sensoriknya, sehingga mereka membutuhkan latihan dalam waktu yang lama untuk menguasai dunia persepsi. Dalam melakukan interaksi sosial umumnya dilakukan dengan cara menyentuh dan mendengar objeknya, sehingga kurang menarik bagi lawan bicaranya.
1. Child with Giftednees and Special talent
Anak berbakat memiliki cirri-ciri :
1. Memiliki skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (general intellectual ability).
2. Mempunyai problem solving, kreatifitas tinggi dan produktif.
3. Memiliki keunggulan dibidang akademik/seni/sastra/verbal/etetika/sport/sosial.
4. Memiliki kemampuan intuisi yang kuat, terkadang mampu mempredisi sesuatu yang bersifat futuristik yang mungkin beberapa waktu (tahun/abad) baru diketahui orang normal.
5. Memiliki kemampuan kepemimpinan yang teliti dan visioner.
http://sekolahdolan.org/2009/05/mengenal-anak-berkebutuhan-khusus
Jumat, 28 Mei 2010
Awas, Buah & Sayur Bisa Picu Gangguan Mental
VIVAnews – Penelitian baru menunjukkan bahwa paparan pestisida yang digunakan pada makanan anak-anak seperti stroberi segar, seledri bisa meningkatkan risiko Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak.
Seperti dikutip dari laman Modernmom.com, para ilmuwan di AS dan Kanada menemukan bahwa anak-anak dengan tingkat residu pestisida yang tinggi dalam urin mereka, rentan mengalami ADHD.
ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak. Gangguan ini berdampak pada masalah mental seperti cara berpikir, bertindak dan merasa. Anak-anak yang mengalaminya akan bermasalah dengan konsentrasi dan pemusatan pikiran. Seperti memicu anak hiperaktif.
Anak-anak dengan tingkat lebih tinggi dari rata-rata satu penanda pestisida memiliki risiko dua kali lipat terdiagnosis ADHD. “Saya pikir itu cukup signifikan, penggandaan adalah efek yang kuat, “kata Maryse F Bouchard, seorang peneliti di University of Montreal di Quebec dan penulis utama dari studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics.
Lantas, apa yang harus orangtua lakukan untuk menghindari ADHD pada anak? “Saya menganjurkan agar para orangtua lebih banyak memberikan anak-anak makanan organik,” ujar Bouchard. “Saya juga akan merekomendasikan mencuci buah dan sayuran sebanyak mungkin.”
Menurut kajian National Academy of Sciences pada 2008, 28 persen sampel blueberry beku, 25 persen sampel stroberi segar, dan 19 persen sampel seledri mengandung residu pestisida. Paparan pestisida kebanyakan berasal dari buah-buahan dan sayuran segar. (wm)
http://sekolahdolan.org/2010/05/awas-buah-sayur-bisa-picu-gangguan-mental/
Seperti dikutip dari laman Modernmom.com, para ilmuwan di AS dan Kanada menemukan bahwa anak-anak dengan tingkat residu pestisida yang tinggi dalam urin mereka, rentan mengalami ADHD.
ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak. Gangguan ini berdampak pada masalah mental seperti cara berpikir, bertindak dan merasa. Anak-anak yang mengalaminya akan bermasalah dengan konsentrasi dan pemusatan pikiran. Seperti memicu anak hiperaktif.
Anak-anak dengan tingkat lebih tinggi dari rata-rata satu penanda pestisida memiliki risiko dua kali lipat terdiagnosis ADHD. “Saya pikir itu cukup signifikan, penggandaan adalah efek yang kuat, “kata Maryse F Bouchard, seorang peneliti di University of Montreal di Quebec dan penulis utama dari studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics.
Lantas, apa yang harus orangtua lakukan untuk menghindari ADHD pada anak? “Saya menganjurkan agar para orangtua lebih banyak memberikan anak-anak makanan organik,” ujar Bouchard. “Saya juga akan merekomendasikan mencuci buah dan sayuran sebanyak mungkin.”
Menurut kajian National Academy of Sciences pada 2008, 28 persen sampel blueberry beku, 25 persen sampel stroberi segar, dan 19 persen sampel seledri mengandung residu pestisida. Paparan pestisida kebanyakan berasal dari buah-buahan dan sayuran segar. (wm)
http://sekolahdolan.org/2010/05/awas-buah-sayur-bisa-picu-gangguan-mental/
Pendidikan untuk anak dengan kebutuhan khusus (special needs)
Assalamu'alaikum WW.
Perkenankan saya bercerita sekali lagi mengenai putri saya yang istimewa dalam
hubungannya dengan pendidikan. Mudah-mudahan cerita ini dapat menimbulkan
inspirasi pada teman-teman dalam berhubungan dengan anak-anak yang memiliki
kebutuhan khusus.
Anak saya didiagnosa Crouzon Syndrome pada usia 1,5 tahun oleh seorang dokter
dari Australia (kebetulan dia punya jadwal datang ke Jakarta 2 X setahun).
Perbedaannya sudah langsung tampak sejak lahir. Perbedaan penampilan fisik ini
diiringi pula dengan gejala lain, yaitu matanya mudah lelah dan iritasi,
tidurnya ngorok, sulit menelan makanan, kurang pendengaran, gigi rapuh. Pada
tahun pertamanya fisiknya lemah dan perkembangannya lambat. Dan yang paling
bikin ibunya stress, dia sangat sensitif, mudah menangis dan mengamuk. Kalau
menangis bisa menghabiskan waktu 1 jam tanpa bisa dibujuk, hingga akhirnya
berhenti karena kelelahan.
Setelah pertemuan saya dengan dokter dari Australia itu, diputuskan untuk
dilakukan operasi (rekonstruksi tulang tengkorak kepalanya) untuk menyelamatkan
perkembangan otak dan syaraf matanya, sebab bila tidak, akan mengganggu
perkembangan mental dan penglihatannya .
Pada usia 2 tahun (1996) putri saya di operasi di Women and Children Hospital
Adelaide Australia oleh Dr. David David. Kami berada di sana selama 1 bulan.
Sejauh yang saya tahu, operasi semacam itu belum dapat dilakukan di Indonesia
saat itu.
Terus terang saya sangat terkesan dengan sistem kerja di sana, yang terstruktur
dan melibatkan satu tim yang bekerja sinergi. Bukan hanya kesehatan fisik
pasiennya saja yang diperhatikan, tetapi juga kesehatan mentalnya. Oleh karena
itu peran psikolog dan pekerja sosialnya sangat besar. Mereka juga memberikan
dukungan yang sangat positif terhadap keluarga pasien agar selalu optimis.
Kondisi ini secara tidak langsung juga mendukung pada proses pemulihan anak.
Ini merupakan satu operasi dari serangkaian operasi yang mungkin akan
dihadapinya lagi. Operasi berikutnya baru dapat dilakukan bila anak sudah
berusia remaja. Dari beberapa kasus yang saya ketahui, kasus seperti ini
membutuhkan belasan kali operasi.
Sepulang dari sana, saya diberi PR untuk penanganan anak saya selanjutnya. Putri
saya (karena kurang pendengaran) harus mengikuti terapi bicara untuk
mengembangkan kemampuan komunikasinya, terapi ini dijalani selama 2 tahun,
sempat berhenti karena kondisi sosial politik di Jakarta tidak mendukung
(kebetulan tempat terapinya di Jalan Salemba yang seringkali demo mahasiswa).
Dilanjutkan lagi dengan terapi bahasa 6 bulan sebelum masuk SD.
Selain terapi, dia juga rajin ke dokter karena sering sakit pilek (konstruksi
hidungnya membuat dia gampang sakit dan susah sembuh), rajin ke dokter gigi
karena giginya yang rapuh, gampang bolong meski rajin disikat. Dia juga pakai
kacamata prisma, karena jarak antar matanya yang terlalu jauh menyebabkan otot
matanya bekerja lebih keras untuk melihat jarak dekat (padahal dia senang sekali
membaca, menulis dan menggambar). Saya juga nggak bisa mengharapkan ia makan
banyak, karena kerongkongannya yang kecil menghambat dia makan terlalu banyak.
Untuk masalah fisik, saya tinggal mengikuti panduan dari dokter saja. Namun
untuk masalah konsep diri, sosialisasi dan pendidikannya, keluarganya harus
berperan aktif.
Saya masukkan anak saya ke Kelompok Bermain pada usia 2,5 tahun karena saya
melihat dia sangat tidak percaya diri dan dependen. Saya berharap dia memperoleh
kesempatan bersosialisasi lebih banyak. Sayangnya dia sempat ditolak karena
disangka terbelakang dan kepseknya saat itu khawatir kalau teman-temannya yang
lain akan ketakutan.
Saya sedih sekali saat itu, saya katakan kepada kepala sekolahnya, bahwa saya
tahu benar kalau anak saya tidak terbelakang, dan dia tidak akan mengganggu
teman-temannya (misalnya, memukul), tapi memang anak saya berbeda. Justru di
sini saya berharap dengan keberadaan anak saya tidak hanya menguntungkan anak
saya saja, tapi juga menguntungkan anak lain, karena anak-anak lain menjadi
tahu, bahwa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, dan mereka juga jadi
tahu bagaimana caranya bergaul dengan teman yang memiliki kekurangan atau
keterbatasan tertentu.
Singkatnya akhirnya anak saya sekolah di situ sampai TK-B. Saya sengaja memilih
sekolah dengan kelas kecil (jumlah murid sedikit, hanya 12 orang dengan 1 orang
guru) dengan harapan perhatian guru tidak terlalu terbagi, karena dengan
keterbatasan pendengarannya, guru sering kali harus mengulang instruksi 2 sampai
3 kali pada anak saya (anak saya tidak mau pakai hearing aid karena dirasa
mengganggu).
Selama anak saya TK saya mulai hunting mencari SD yang kira-kira dapat menerima
anak saya dengan kondisinya. Menurut saya anak saya membutuhkan sekolah dengan
metode active learning, jumlah murid sedikit sehingga guru dapat menangani murid
secara individual dan yang terpenting lingkungan sekolah yang kondusif untuk
perkembangan konsep dirinya. Saya juga menghindari sekolah yang menerapkan
sistem seleksi dengan menggunakan tes kecerdasan, karena saya khawatir meski
anak saya berhasil masuk, namun akan mengalami stress karena beban belajar yang
tinggi (biasanya sekolah dengan sistem seleksi ini mengharapkan muridnya relatif
homogen untuk memudahkan penyampaian pelajaran).
Alhamdulillah saya mendapatkan sekolah yang sesuai dengan harapan. Sekolah
sangat welcome dengan anak saya (dan juga anak-anak lain yang mempunyai
kebutuhan khusus). Setelah anak saya mengikuti try out (bukan seleksi, tapi
lebih pada mengetahui sampai sejauh mana kemampuannya), saya bersama suami saya
diundang untuk berdiskusi dengan pihak sekolah.
Pertanyaan awal yang sangat menyentuh saya saat itu adalah ketika pihak sekolah
bertanya, "Apa yang Bapak dan Ibu harapkan dari sekolah untuk perkembangan putri
Bapak dan Ibu?"
Intinya, diskusi kami dengan pihak sekolah membicarakan apa saja yang akan
dilakukan oleh pihak sekolah (berkaitan dengan kebutuhan khusus anak) baik
menyangkut proses belajar mengajar di kelas, sosialisasi dengan teman dan juga
kebutuhan khusus fisiknya (harus gosok gigi setiap selesai makan, dan
sering-sering membersihkan mata), apa yang perlu dilakukan orang tua di rumah,
termasuk juga mempersiapkan kakaknya untuk menerima pertanyaan-pertanyaan dari
teman-temannya mengenai adiknya yang "berbeda". Pokoknya kami membahas segala
hal yang berpeluang menjadi masalah.
Alhamdulillah sekali lagi. Saat ini putri kami sangat bersemangat sekolah,
motivasi belajarnya sangat tinggi, terutama membaca, menulis dan menggambar.
Masih agak pasif dan pemalu, namun dia tidak menolak untuk bergaul dengan teman
yang mengajaknya.
Saya amati dengan metode active learning dan pendekatan anak secara individual
(memperlakukan anak sesuai dengan potensi dan kebutuhan anak), anak saya
memperoleh perkembangan pesat dalam pemahamannya terhadap materi pelajaran yang
diberikan. Di samping itu keberadaan anak-anak yang berkebutuhan khusus di
sekolah memberikan nilai tambah bagi anak-anak yang lain sehingga dapat
mengembangkan kemampuan empati terhadap temannya.
Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan orang tua yang lain, perkembangan positif ini
tidak hanya dialami anak saya tapi juga anak-anak lain, misalnya, anak Autis,
ADD, ADHD, Asperger, dan lain-lain.
Satu hal yang mungkin agak mengganggu adalah masalah biaya yang tidak sedikit.
Akibatnya tidak setiap anak dapat memperoleh kesempatan menikmati pendidikan
yang baik.
Nggak ada salahnya kalau saya mengulangi lagi, nampaknya perlu dipikirkan cara
lain agar sedapat mungkin banyak sekolah/lembaga pendidikan yang dapat
memberikan kesempatan pada anak-anak baik yang normal maupun yang memiliki
kebutuhan khusus untuk dapat berkembang optimal, baik dari segi kognitif,
afektif, maupun psikomotoriknya.
Sekian dulu
Wassalamu'alaikum WW.
http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/763
Perkenankan saya bercerita sekali lagi mengenai putri saya yang istimewa dalam
hubungannya dengan pendidikan. Mudah-mudahan cerita ini dapat menimbulkan
inspirasi pada teman-teman dalam berhubungan dengan anak-anak yang memiliki
kebutuhan khusus.
Anak saya didiagnosa Crouzon Syndrome pada usia 1,5 tahun oleh seorang dokter
dari Australia (kebetulan dia punya jadwal datang ke Jakarta 2 X setahun).
Perbedaannya sudah langsung tampak sejak lahir. Perbedaan penampilan fisik ini
diiringi pula dengan gejala lain, yaitu matanya mudah lelah dan iritasi,
tidurnya ngorok, sulit menelan makanan, kurang pendengaran, gigi rapuh. Pada
tahun pertamanya fisiknya lemah dan perkembangannya lambat. Dan yang paling
bikin ibunya stress, dia sangat sensitif, mudah menangis dan mengamuk. Kalau
menangis bisa menghabiskan waktu 1 jam tanpa bisa dibujuk, hingga akhirnya
berhenti karena kelelahan.
Setelah pertemuan saya dengan dokter dari Australia itu, diputuskan untuk
dilakukan operasi (rekonstruksi tulang tengkorak kepalanya) untuk menyelamatkan
perkembangan otak dan syaraf matanya, sebab bila tidak, akan mengganggu
perkembangan mental dan penglihatannya .
Pada usia 2 tahun (1996) putri saya di operasi di Women and Children Hospital
Adelaide Australia oleh Dr. David David. Kami berada di sana selama 1 bulan.
Sejauh yang saya tahu, operasi semacam itu belum dapat dilakukan di Indonesia
saat itu.
Terus terang saya sangat terkesan dengan sistem kerja di sana, yang terstruktur
dan melibatkan satu tim yang bekerja sinergi. Bukan hanya kesehatan fisik
pasiennya saja yang diperhatikan, tetapi juga kesehatan mentalnya. Oleh karena
itu peran psikolog dan pekerja sosialnya sangat besar. Mereka juga memberikan
dukungan yang sangat positif terhadap keluarga pasien agar selalu optimis.
Kondisi ini secara tidak langsung juga mendukung pada proses pemulihan anak.
Ini merupakan satu operasi dari serangkaian operasi yang mungkin akan
dihadapinya lagi. Operasi berikutnya baru dapat dilakukan bila anak sudah
berusia remaja. Dari beberapa kasus yang saya ketahui, kasus seperti ini
membutuhkan belasan kali operasi.
Sepulang dari sana, saya diberi PR untuk penanganan anak saya selanjutnya. Putri
saya (karena kurang pendengaran) harus mengikuti terapi bicara untuk
mengembangkan kemampuan komunikasinya, terapi ini dijalani selama 2 tahun,
sempat berhenti karena kondisi sosial politik di Jakarta tidak mendukung
(kebetulan tempat terapinya di Jalan Salemba yang seringkali demo mahasiswa).
Dilanjutkan lagi dengan terapi bahasa 6 bulan sebelum masuk SD.
Selain terapi, dia juga rajin ke dokter karena sering sakit pilek (konstruksi
hidungnya membuat dia gampang sakit dan susah sembuh), rajin ke dokter gigi
karena giginya yang rapuh, gampang bolong meski rajin disikat. Dia juga pakai
kacamata prisma, karena jarak antar matanya yang terlalu jauh menyebabkan otot
matanya bekerja lebih keras untuk melihat jarak dekat (padahal dia senang sekali
membaca, menulis dan menggambar). Saya juga nggak bisa mengharapkan ia makan
banyak, karena kerongkongannya yang kecil menghambat dia makan terlalu banyak.
Untuk masalah fisik, saya tinggal mengikuti panduan dari dokter saja. Namun
untuk masalah konsep diri, sosialisasi dan pendidikannya, keluarganya harus
berperan aktif.
Saya masukkan anak saya ke Kelompok Bermain pada usia 2,5 tahun karena saya
melihat dia sangat tidak percaya diri dan dependen. Saya berharap dia memperoleh
kesempatan bersosialisasi lebih banyak. Sayangnya dia sempat ditolak karena
disangka terbelakang dan kepseknya saat itu khawatir kalau teman-temannya yang
lain akan ketakutan.
Saya sedih sekali saat itu, saya katakan kepada kepala sekolahnya, bahwa saya
tahu benar kalau anak saya tidak terbelakang, dan dia tidak akan mengganggu
teman-temannya (misalnya, memukul), tapi memang anak saya berbeda. Justru di
sini saya berharap dengan keberadaan anak saya tidak hanya menguntungkan anak
saya saja, tapi juga menguntungkan anak lain, karena anak-anak lain menjadi
tahu, bahwa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, dan mereka juga jadi
tahu bagaimana caranya bergaul dengan teman yang memiliki kekurangan atau
keterbatasan tertentu.
Singkatnya akhirnya anak saya sekolah di situ sampai TK-B. Saya sengaja memilih
sekolah dengan kelas kecil (jumlah murid sedikit, hanya 12 orang dengan 1 orang
guru) dengan harapan perhatian guru tidak terlalu terbagi, karena dengan
keterbatasan pendengarannya, guru sering kali harus mengulang instruksi 2 sampai
3 kali pada anak saya (anak saya tidak mau pakai hearing aid karena dirasa
mengganggu).
Selama anak saya TK saya mulai hunting mencari SD yang kira-kira dapat menerima
anak saya dengan kondisinya. Menurut saya anak saya membutuhkan sekolah dengan
metode active learning, jumlah murid sedikit sehingga guru dapat menangani murid
secara individual dan yang terpenting lingkungan sekolah yang kondusif untuk
perkembangan konsep dirinya. Saya juga menghindari sekolah yang menerapkan
sistem seleksi dengan menggunakan tes kecerdasan, karena saya khawatir meski
anak saya berhasil masuk, namun akan mengalami stress karena beban belajar yang
tinggi (biasanya sekolah dengan sistem seleksi ini mengharapkan muridnya relatif
homogen untuk memudahkan penyampaian pelajaran).
Alhamdulillah saya mendapatkan sekolah yang sesuai dengan harapan. Sekolah
sangat welcome dengan anak saya (dan juga anak-anak lain yang mempunyai
kebutuhan khusus). Setelah anak saya mengikuti try out (bukan seleksi, tapi
lebih pada mengetahui sampai sejauh mana kemampuannya), saya bersama suami saya
diundang untuk berdiskusi dengan pihak sekolah.
Pertanyaan awal yang sangat menyentuh saya saat itu adalah ketika pihak sekolah
bertanya, "Apa yang Bapak dan Ibu harapkan dari sekolah untuk perkembangan putri
Bapak dan Ibu?"
Intinya, diskusi kami dengan pihak sekolah membicarakan apa saja yang akan
dilakukan oleh pihak sekolah (berkaitan dengan kebutuhan khusus anak) baik
menyangkut proses belajar mengajar di kelas, sosialisasi dengan teman dan juga
kebutuhan khusus fisiknya (harus gosok gigi setiap selesai makan, dan
sering-sering membersihkan mata), apa yang perlu dilakukan orang tua di rumah,
termasuk juga mempersiapkan kakaknya untuk menerima pertanyaan-pertanyaan dari
teman-temannya mengenai adiknya yang "berbeda". Pokoknya kami membahas segala
hal yang berpeluang menjadi masalah.
Alhamdulillah sekali lagi. Saat ini putri kami sangat bersemangat sekolah,
motivasi belajarnya sangat tinggi, terutama membaca, menulis dan menggambar.
Masih agak pasif dan pemalu, namun dia tidak menolak untuk bergaul dengan teman
yang mengajaknya.
Saya amati dengan metode active learning dan pendekatan anak secara individual
(memperlakukan anak sesuai dengan potensi dan kebutuhan anak), anak saya
memperoleh perkembangan pesat dalam pemahamannya terhadap materi pelajaran yang
diberikan. Di samping itu keberadaan anak-anak yang berkebutuhan khusus di
sekolah memberikan nilai tambah bagi anak-anak yang lain sehingga dapat
mengembangkan kemampuan empati terhadap temannya.
Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan orang tua yang lain, perkembangan positif ini
tidak hanya dialami anak saya tapi juga anak-anak lain, misalnya, anak Autis,
ADD, ADHD, Asperger, dan lain-lain.
Satu hal yang mungkin agak mengganggu adalah masalah biaya yang tidak sedikit.
Akibatnya tidak setiap anak dapat memperoleh kesempatan menikmati pendidikan
yang baik.
Nggak ada salahnya kalau saya mengulangi lagi, nampaknya perlu dipikirkan cara
lain agar sedapat mungkin banyak sekolah/lembaga pendidikan yang dapat
memberikan kesempatan pada anak-anak baik yang normal maupun yang memiliki
kebutuhan khusus untuk dapat berkembang optimal, baik dari segi kognitif,
afektif, maupun psikomotoriknya.
Sekian dulu
Wassalamu'alaikum WW.
http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/763
Selasa, 18 Mei 2010
Mengenalkan konsep Tuhan pada anak spesial
ubject: [Puterakembara] Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Mumpung ibu Eve 'nyenggol' cerita-cerita agama; saya juga mau tanya nich. Gimana mengajarkan konsep Tuhan pada anak kebutuhan khusus? Dan bagaimana kita tahu kalau dia sudah mulai mengenal konsep Tuhan?
Si Ruben udah hampir setahun tidak kami bawa ke Sekolah Minggu lagi. Sebelumnya dia masuk di kelas sekolah minggu untuk anak-anak TK. Kenapa kelas TK? Karena di kelas TK kegiatannya berdoa singkat, bernyanyi, mendengar cerita singkat (cuma 5-10 menit), lalu ada kegiatan mewarnai atau menempel sebelum berdoa penutup. Itupun saya perhatikan kalau gurunya sedang bercerita, Ruben nggak ngerti... dia akan mengerjakan hal-hal lain. Kalau menyanyi dengan gerakan (loncat-loncat, tepuk tangan) bisa dia ikuti.
Karena Ruben belum bisa ikut kelas seperti kelas umum (duduk mendengar pelajaran dari guru selama 1 jam), jadi dia tetap di kelas TK. Masalahnya makin lama badannya makin besar dibandingkan anak-anak lain dan dia juga mulai bosan. Kalau dimasukkan ke kelas yang lebih besar, dia nggak bisa ikuti pelajarannya karena dia belum bisa duduk dan mendengar pelajaran selama 1 jam :-(
Akhirnya kita tidak bawa dia lagi ke sekolah minggu, sampai sekarang. Padahal beberapa guru sekolah minggu suka menyarankan untuk tetap bawa Ruben hari Minggu. Rata-rata beranggapan, lebih baik ikut di kelas daripada tinggal di rumah. Tapi saya pikir nggak ada gunanya juga kalau anaknya sendiri udah bosan dan malahan nantinya mengganggu yang lain; Ruben nggak dapat manfaatnya juga kan?
Di rumah kami mengajarkan Ruben untuk berdoa sebelum makan dan sebelum
tidur. Cuma saya belum yakin bener apa dia mengerti bener-bener apa yang didoakan; jangan-jangan cuma jadi kebiasaan aja. Saya pernah tanya sesudah dia doa tidur apakah Ruben tahu kalau Yesus sayang Ruben; dijawab iya! Pernah juga saya tanya kalau Ruben berdoa, berdoa ke siapa? Dia jawab Yesus... Tapi setelah itu muncul lagi pertanyaan di hati, dia ngerti nggak ya? (apa ini cuma sok tahunya bapaknya aja?).
Ada yang punya saran bagaimana sebaiknya mengenalkan Ruben pada konsep Tuhan? Lalu (untuk yang kristen) ada yang tahu apakah ada gereja yang menyelenggarakan sekolah minggu untuk anak-anak kebutuhan khusus? Saya pernah baca di NY Times online kalau di AS ada gereja katolik yang bikin (nanti saya cari lagi link-nya deh).
salam,
-Iki
----- Original Message -----
From: IS
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] RE: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Numpang bagi cerita, Konsep Tuhan sebenarnya agak susah diperkenalkan kepada anak special need karena keterbatasan mereka yang amat sangat, tapi dgn "rutinitas" yang dilihat dan dilakukan oleh si anak tersebut akan membuat dia mengerti bahwa kenapa harus ke gereja? Nah kalau si anak special need ini sudah dibiasakan untuk ikut kegiatan sekolah minggu, maka secara tidak langsung keinginan ke acara sekolah minggu akan timbul dan itu akan menjadi hal yang menarik buat dia. Dexcel anak
saya sampai saat ini dia sdh "mulai" mengerti bahwa hari minggu adalah hari yang special buat dia, tanpa harus di prompt oleh orang rumah "Hayo dexcel mandi mau sekolah minggu" ini khusus hari minggu saja.., saya sendiri heran anak ini jadi mengerti bahwa hari minggu harus siap2 ke sekolah minggu...., Dexcel berkata "hayo pergi sekolah minggu", walaupun bahasanya kurang jelas tapi terjemahannya ya seperti itulah, maklum dia baru bisa menyebutkan beberapa konsonan dgn jelas.
Saat anak saya Dexcel mulai diikutkan dalam kegiatan sekolah minggu, awalnya memang sangat susah bahkan memakan waktu yang cukup lama tapi dgn keaneka ragaman sifat anak2 yang "diserap" disekitar dia selama SM, membuat Dexcel semakin "jinak" dan Puji Tuhan sampai saat ini Dexcel sdh "bisa" memahami kenapa haru berdoa kalau mau makan dan bobo maupun bangun pagi, bahkan kau dia mau ke berangkat Terapi dia akan menarik tangan orang rumah untuk melipat tangan dan bilang "Doa doa..doa..doa" that's the point! Kegiatan apapun baik itu yang positive or negative akan mempengaruhi perilaku anak2 kita bahkan yang special need
sekalipun....
Sebenarnya memperkenalkan suatu konsep ke anak yang special need, hampir tidak beda jauh dengan yang normal yaitu melakukannya secara berulang-ulang dalam waktu yang lebih panjang dan perlu kesabaran yang tinggi, karena akan mempengaruhi emosi kedua belah pihak apakh si anak atau si terapis.
Berapapun perubahan pada anak saya Dexcel adalah sesuatu yang sangat positive dan perlu saya selalu syukuri, dan semoga salah satu impian saya di jawab oleh Tuhan cepat atau lambat, the dream will come true!!!!, amin
Semoga bermanfaat dan maaf kalau seperti menggurui...
God Bless you and your special need child
Papa Dexcel
----- Original Message -----
From: HPU
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Pak Iki,
Jangan pernah bosan mengajarkan sesuatu yang baik kepada anak kita, lama-lama ngerti kok anak spesial kita mengenai konsep Tuhan. Yang penting diajak saja pak ke Sekolah Minggu daripada ditinggal di rumah. Saya sendiri juga masih bingung, setiap mendengar orang mengaji Dimas pasti bilang " tombo ati ( obat hati ) ". Sebenarnya dia ngerti nggak sakit hati atau berdoa itu gunanya untuk apa, tapi saya ajarkan ke dia saja. Dia kalo pas masuk kamar mandi , main-main air di kran dia selalu bilang " mau sholat ". Jadi sebaiknya Ruben diajak ke Sekolah Minggu saja pak. Kalo Gereja di Amerika , kata pak Jeff ada kok yang untuk anak autis. Di Washington kata pak Jeff ada.
Salam,
Har
----- Original Message -----
From: DH
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Pak, kalau pengalaman saya, Janice saya bawa ke sekolah minggu tiap minggu semenjak umur 2 thn. Janice mengerti atau tidak biarkan saja, biar dia di sana main atau apa yang penting susternya jagain supaya dia tidak mengganggu kelas tersebut.
Kebetulan Janice tipe yang suka mendengarkan cerita, jadi dia mau mendengarkan guru sekolah minggu bercerita. Entah Janice mengerti atau tidak, saya tidak terlalu peduli. Salah satu alasan juga mengapa tetap saya bawa dia ke sekolah minggu, karena saya dan istri juga mau mengikuti kebaktian. Jadi saya dan istri ikut kebaktian, Janice dan suster di sekolah minggu. Awal2 memang seperti gak ada gunanya, tapi saya pikir gak apalah biar dia makin sering bertemu anak2 lain, yang penting gak merugikan. Sekaang ini, Janice sudah bisa (kadang juga gak bisa) menceritakan apa yang diceritakan di sekolah minggu, dan kita juga selalu memberitahu Janice bahwa Tuhan sayang sama Janice dan setiap kali Janice sakit, Tuhan lah yang menyembuhkan Janice.
Saya lupa kapan yah saya mulai mengajak Janice berdoa setiap malam sebelum tidur? Tapi tanpa disadari, kemungkinan terbesar Janice bisa tidur dengan nyenyak dan gak bangun2 lagi tengah malam adalah karena Kuasa Tuhan lewat doa2 kita sebelum tidur.
Saya pikir sih nggak perlu terlalu ambil pusing si anak mengerti atau tidak, kita terus mengajarkan saja. Saya yakin suatu waktu mereka akan mengerti.(Kuasa Tuhan siapa yang tau?)
Sekarang Janice sudah lancar berdoa tiap malam sebelum tidur. Saya pun gak yakin dia mengerti 100% apa yang dia ucapkan dalam doa, tapi...... setiap kali berdoa, Janice makin jelas kata2-nya dan saya merasa dia makin mengerti apa yang dia ucapkan dalam doa itu.
Saran saya sih Pak, jangan bosan2 ajarin Ruben tentang Tuhan karena mukjizat dari Tuhan bekerja secara misterius, kita hanya harus percaya saja.
Regards
Da
----- Original Message -----
From: AH
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Saya sangat setuju dengan pak Dav dan pak Har dan salam juga untuk pak Iki dan semua rekan milis keluarga besar putrakembara.
Memang anak anak yang belum akil baliq (usia akil baliq 12 tahun) iman kepercayaannya itu diwalikan kepada orang tuanya, jadi iman orang tuanya sangat berpengaruh kepada anak. Oleh karena itu peran orang tua sangat dominan dalam membentuk kerohanian anak, teladan dan ketaatan orang tua dalam beribadah sangat sangat mempengaruhi pertumbuhan rohani seorang anak.
Jadi didiklah anak anak kita Takut Akan Tuhan sejak masa kecil sesuai iman kita,sehingga konsep mengenal Tuhan akan bertumbuh. Caranya seperti kita menanam sesuatu benih ditanah, kita pupuk terus, kita sirami air saya yakin pasti tumbuh, kalau kita tidak pernah tanam kapan tumbuhnya setuju ya Bpk Bpk ibu Ibu, bukan menguruin lho ......tapi ilustrasi ini bisa dibuktikan toh tanpa harus menghadirkan seorang pakar pertanian he he he..
Walaupun anak kelihatannya belum mengerti ngak apa apa kalau sekolah minggu ya bawa aja toh dimana kita berkumpul bersekutu dengan Tuhan pasti ada hadiratNYA, ada firman Tuhan yang ditaburkan walaupun dalam bentuk cerita itu akan menumbuhkan iman, sebab setiap firman Tuhan ada kuasa.
Seperti kita tidak pernah melihat proses tumbuhnya akar saat satu biji buah yang kita tanam ke tanah karena proses tumbuhnya didalam tanah berapa lama kemudian tahu tahu nongol ke atas permukaan tanah pucuk bekal pohon tersebut,ajaib bukan dan yang jelas saat kita tanam biji mangga pasti tumbuh mangga,saat kita tanam benih padi pasti tumbuh padi tidak mungkin tanam ini tumbuh itu.
Saat pohon itu masih kecil biasa kita pagari kita pupuk tujuannya supaya benih yang baru tumbuh itu tidak mati kehimpit yang lain, itulah masa akilbaliq pohon itu sampai bisa berbuah.
Terima kasih Tuhan kiranya memberkati setiap kita umatNYA yang setia dan mengajarkan anak anak kita yang sesungguhnya adalah titipanNYA untuk selalu mengenal kasih dan kuasaNYA .amin
salam kasih
Papa Yansen
----- Original Message -----
From: EH
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] RE: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Mirip dgn Dexcel, anak saya sejak bayi (kalo ini ngga terlambat), sdh dibawa ke gereja dan setelah besar akhirnya minta sendiri, setiap hr Minggu pasti bilang :
Gereja? Lalu masuk kamar mandi, minta mandi... Semacam biological clock/ jam biologis bagi dia, "wah rasanya skrg hari Minggu..." -> Kadang, tanggal merah juga dia tanya : gereja? Km jwb : ngga, hari ini tdk.
Cara mengenalkan konsep Tuhan mungkin dari yg termudah : memanfaatkan
apa yg sudah ada (kaset lagu rohani, film rohani -> diperdengarkan, diperlihatkan scr rutin, misal pd saat main di rmh, selain film/lagu anak yg umum).... Lalu ya itu, malam kalau mau tidur, siang juga bisa : dibacakan cerita agama, yg singkat2 saja. Kalo Minggu ikut sekolah minggu, kalo anak pak Iki sy taksir msh bisa mengikuti drpd anak sy (jd ngeganggu konsentrasi yg lain).
Oya, berdoa... spt bu LM kmrn bilang, dgn bahasa anak kecil...
Juga yg penting (pernah koq ada di Kompas) ajarkan anak kita menghargai keindahan ciptaan Tuhan (bawa jalan2, melihat / menyentuh) bunga, dedaunan, pohon, langit, awan, .. & menghargai orang/anak lain. Yang jangan sampe terjadi adlh : kita terperangkap dgn mengajari mrk "Ritual"nya, hafalan2 doa, bukan Inti ajarannya. -> Yg spt itu hanya mengasah otak kiri -> Bahaya -> Bnyk kasus anak yg kontradiktif, tawuran iya, nyontek iya, mencuri iya, tapi berdoa iya, sembahyang iya... krn bagi dia, terpisah antara hafal doa, dgn pengamalannya...
Ini kita msh sama2 belajar lho, bukan berarti anak sy lbh pinter. Mungkin yg lain mau nambahin...
Salam, mama Gerard.
----- Original Message -----
From: Dwi P
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Kalau saya mengenalkan konsep ketuhanan adalah dengan menggunakan contoh. Jadi biasanya anak saya Tita, malah yang kecil Echa sudah mau ngikutin. Karena mereka lihat ayahnya ibunya shalat lima waktu. Biasanya Tita ganggu ibunya kalau lagi shalat, setelah itu minta dipakaikan mukena sambil berlarian ke sana kemari. Kalau Echa, sering ngikutin di samping ketika angkat dua tangan, sidakep, sujud dllnya.
Demikian sekedar berbagi pengalaman.
Dwi
----- Original Message -----
From: WW
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Ikutan nimbrung ya..,
anak saya, Gilang F. Dharana, sudah mulai saya perkenalkan mengenai agama sejak di TK B dan kebetulan saat itu perkembangannya sudah sangat banyak kemajuan. Saya memperkenalkan dengan memberikan contoh, kalau tiba waktu sholat saya akan bilang kepada dia dan dia akan melihat saya atau Bapaknya menjalankan sholat. Begitu juga ketika hari lebaran Idhul Fitri maupun Idhul Adha, Gilang kami ajak ke mesjid untuk menjalankan ibadah sholat Id.
Mulai diajarkan ngaji sejak kelas 1 SD, kebetulan di sekolah juga sudah mulai diperkenalkan huruf-huruf Arab dan di rumah saya panggil guru ngaji. Semuanya saya ajarkan tidak dengan memaksa karena saya tahu keterbatasannya.
Sekarang setelah duduk di kelas 3, alhamdulillah sudah lebih mengerti hal-hal yang agak abstrak dan di sekolah juga diajarkan sholat dhuhur berjamaah tetapi di rumah masih belum mau menjalankan sholat, (Ya.. untuk saat ini tidak apa2, saya tidak maksa cukup memberi contoh saja)
salam,
mamanya Gilang
----- Original Message -----
From: AA
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Saya juga mau sharing, waktu pertama mulai kebuka bicara, Harits semangatnya kalo disuruh baca Al Fatihaah.Sekarang udah hapal doa makan, doa tidur, walaupun u e o nya masih belum jelas. U nya kan lebih sering jadi i. Sholat juga ikutan, tapi masih suka lari-lari. Suerr waktu dia semangat niruin ngaji itu, saya dan bapaknya terheran-heran, ampe sekarang... Konsep Tuhan emang susah, tapi terapi rohani mungkin belum ada yang nyoba ya? Yang ada kan kalo dibawa ke orang pinter gitu trus diterapi pake doa doa dsb.
Aan
----- Original Message -----
From: LM
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Ternyata rekan milis ini bukan hanya canggih dalam terapi anak, tapi juga dalam membimbing Rohani anak. smile
Memang dalam mengajarkan konsep Tuhan pada anak-anak (entah itu anak spesial atau tidak, entah itu agama apapun) prinsipnya sama, harus sabar dan "mengalir".....
Jadi pelan2 ajah..... Yang penting kewajiban kita sebagai orang tua adalah menciptakan dulu suasana kasih dan damai dalam keluarga, kalau kata umat Muslim mah keluarga Sakinah yah.....
Terus jangan lupa juga berdoa, agar Tuhan senantiasa menyertai kita dalam membimbing anak-anak yang merupakan titipanNya juga.
Salam,
LM
----- Original Message -----
From: DP
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Dalam berbagai seminar saya sering ditanya mengenai "bagaimana mengajarkan konsep agama, religi dan Tuhan kepada anak berkebutuhan khusus".
Biasanya saya akan bertanya kembali kepada audience, "kita, yang katanya adalah individu normal, umur berapa benar-benar paham urusan religi dan ketuhanan?? Bukankah pada awalnya semua diawali dengan rutinitas, kewajiban, paksaan....sampai pada akhirnya kita cukup 'matang' secara emosional dan spiritual untuk memahami makna berbagai ritual dan kewajiban tersebut?" (bahkan ada juga yang menjalankan ritual sampai dewasa tapi tidak sesungguhnya memahami makna kok!).
Jadi, aku sih, pede aje.
Maksudnya, boleh terus mengajarkan sesuai kemampuan anak. Bagi yang mampu sholat atau berdoa sesuai ajaran masing-masing, silakan. Bagi yang tidak mampu, jangan berkecil hati.
Bukankah anak-anak ini ciptaan Tuhan? Bukankah mereka ini sekedar titipan? Bukankah Tuhan tahu seberapa kapasitas ciptaanNya tersebut?
Usaha jalan terus, tapi ujung perjuangan seperti apa...lillahi ta'ala dong... Kita-kita juga, apapun yang kita lakukan, judgment akhir apakah benar atau salah ada di tangan Tuhan juga.
Salam,
Ita-nya Ikhsan
NB: kalau saya dan beberapa teman selalu bercanda mengatakan "anak-anak kami sih pastinya masuk surga karena mereka innocent...kita-nya yang belum tentu!" he..he..he..
----- Original Message -----
From: FR
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] RE: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Terimakasih untuk semua saran dari ibu-ibu (ibu Wina, ibu Ita, ibu Leny, ibu Eveline) & bapak-bapak (pak Irfan, pak Haryanto, pak David, pak Anton, pak Dwinu, pak Aan) mengenai mengenalkan konsep Tuhan ini.
Kesimpulannya, yang saya tangkap, mulai dengan membiasakan anak menjalankan ibadah ya? (sekolah minggu, ngaji, sholat, berdoa, menyanyi). Masalah dia ngerti atau belum, itu belakangan... dan dari pengalaman-pengalaman beberapa ortu, kelihatannya anak pada akhirnya akan mengerti juga konsep Tuhan ya.
-iki
http://puterakembara.org/archives/00000207.shtml
Mumpung ibu Eve 'nyenggol' cerita-cerita agama; saya juga mau tanya nich. Gimana mengajarkan konsep Tuhan pada anak kebutuhan khusus? Dan bagaimana kita tahu kalau dia sudah mulai mengenal konsep Tuhan?
Si Ruben udah hampir setahun tidak kami bawa ke Sekolah Minggu lagi. Sebelumnya dia masuk di kelas sekolah minggu untuk anak-anak TK. Kenapa kelas TK? Karena di kelas TK kegiatannya berdoa singkat, bernyanyi, mendengar cerita singkat (cuma 5-10 menit), lalu ada kegiatan mewarnai atau menempel sebelum berdoa penutup. Itupun saya perhatikan kalau gurunya sedang bercerita, Ruben nggak ngerti... dia akan mengerjakan hal-hal lain. Kalau menyanyi dengan gerakan (loncat-loncat, tepuk tangan) bisa dia ikuti.
Karena Ruben belum bisa ikut kelas seperti kelas umum (duduk mendengar pelajaran dari guru selama 1 jam), jadi dia tetap di kelas TK. Masalahnya makin lama badannya makin besar dibandingkan anak-anak lain dan dia juga mulai bosan. Kalau dimasukkan ke kelas yang lebih besar, dia nggak bisa ikuti pelajarannya karena dia belum bisa duduk dan mendengar pelajaran selama 1 jam :-(
Akhirnya kita tidak bawa dia lagi ke sekolah minggu, sampai sekarang. Padahal beberapa guru sekolah minggu suka menyarankan untuk tetap bawa Ruben hari Minggu. Rata-rata beranggapan, lebih baik ikut di kelas daripada tinggal di rumah. Tapi saya pikir nggak ada gunanya juga kalau anaknya sendiri udah bosan dan malahan nantinya mengganggu yang lain; Ruben nggak dapat manfaatnya juga kan?
Di rumah kami mengajarkan Ruben untuk berdoa sebelum makan dan sebelum
tidur. Cuma saya belum yakin bener apa dia mengerti bener-bener apa yang didoakan; jangan-jangan cuma jadi kebiasaan aja. Saya pernah tanya sesudah dia doa tidur apakah Ruben tahu kalau Yesus sayang Ruben; dijawab iya! Pernah juga saya tanya kalau Ruben berdoa, berdoa ke siapa? Dia jawab Yesus... Tapi setelah itu muncul lagi pertanyaan di hati, dia ngerti nggak ya? (apa ini cuma sok tahunya bapaknya aja?).
Ada yang punya saran bagaimana sebaiknya mengenalkan Ruben pada konsep Tuhan? Lalu (untuk yang kristen) ada yang tahu apakah ada gereja yang menyelenggarakan sekolah minggu untuk anak-anak kebutuhan khusus? Saya pernah baca di NY Times online kalau di AS ada gereja katolik yang bikin (nanti saya cari lagi link-nya deh).
salam,
-Iki
----- Original Message -----
From: IS
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] RE: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Numpang bagi cerita, Konsep Tuhan sebenarnya agak susah diperkenalkan kepada anak special need karena keterbatasan mereka yang amat sangat, tapi dgn "rutinitas" yang dilihat dan dilakukan oleh si anak tersebut akan membuat dia mengerti bahwa kenapa harus ke gereja? Nah kalau si anak special need ini sudah dibiasakan untuk ikut kegiatan sekolah minggu, maka secara tidak langsung keinginan ke acara sekolah minggu akan timbul dan itu akan menjadi hal yang menarik buat dia. Dexcel anak
saya sampai saat ini dia sdh "mulai" mengerti bahwa hari minggu adalah hari yang special buat dia, tanpa harus di prompt oleh orang rumah "Hayo dexcel mandi mau sekolah minggu" ini khusus hari minggu saja.., saya sendiri heran anak ini jadi mengerti bahwa hari minggu harus siap2 ke sekolah minggu...., Dexcel berkata "hayo pergi sekolah minggu", walaupun bahasanya kurang jelas tapi terjemahannya ya seperti itulah, maklum dia baru bisa menyebutkan beberapa konsonan dgn jelas.
Saat anak saya Dexcel mulai diikutkan dalam kegiatan sekolah minggu, awalnya memang sangat susah bahkan memakan waktu yang cukup lama tapi dgn keaneka ragaman sifat anak2 yang "diserap" disekitar dia selama SM, membuat Dexcel semakin "jinak" dan Puji Tuhan sampai saat ini Dexcel sdh "bisa" memahami kenapa haru berdoa kalau mau makan dan bobo maupun bangun pagi, bahkan kau dia mau ke berangkat Terapi dia akan menarik tangan orang rumah untuk melipat tangan dan bilang "Doa doa..doa..doa" that's the point! Kegiatan apapun baik itu yang positive or negative akan mempengaruhi perilaku anak2 kita bahkan yang special need
sekalipun....
Sebenarnya memperkenalkan suatu konsep ke anak yang special need, hampir tidak beda jauh dengan yang normal yaitu melakukannya secara berulang-ulang dalam waktu yang lebih panjang dan perlu kesabaran yang tinggi, karena akan mempengaruhi emosi kedua belah pihak apakh si anak atau si terapis.
Berapapun perubahan pada anak saya Dexcel adalah sesuatu yang sangat positive dan perlu saya selalu syukuri, dan semoga salah satu impian saya di jawab oleh Tuhan cepat atau lambat, the dream will come true!!!!, amin
Semoga bermanfaat dan maaf kalau seperti menggurui...
God Bless you and your special need child
Papa Dexcel
----- Original Message -----
From: HPU
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Pak Iki,
Jangan pernah bosan mengajarkan sesuatu yang baik kepada anak kita, lama-lama ngerti kok anak spesial kita mengenai konsep Tuhan. Yang penting diajak saja pak ke Sekolah Minggu daripada ditinggal di rumah. Saya sendiri juga masih bingung, setiap mendengar orang mengaji Dimas pasti bilang " tombo ati ( obat hati ) ". Sebenarnya dia ngerti nggak sakit hati atau berdoa itu gunanya untuk apa, tapi saya ajarkan ke dia saja. Dia kalo pas masuk kamar mandi , main-main air di kran dia selalu bilang " mau sholat ". Jadi sebaiknya Ruben diajak ke Sekolah Minggu saja pak. Kalo Gereja di Amerika , kata pak Jeff ada kok yang untuk anak autis. Di Washington kata pak Jeff ada.
Salam,
Har
----- Original Message -----
From: DH
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Pak, kalau pengalaman saya, Janice saya bawa ke sekolah minggu tiap minggu semenjak umur 2 thn. Janice mengerti atau tidak biarkan saja, biar dia di sana main atau apa yang penting susternya jagain supaya dia tidak mengganggu kelas tersebut.
Kebetulan Janice tipe yang suka mendengarkan cerita, jadi dia mau mendengarkan guru sekolah minggu bercerita. Entah Janice mengerti atau tidak, saya tidak terlalu peduli. Salah satu alasan juga mengapa tetap saya bawa dia ke sekolah minggu, karena saya dan istri juga mau mengikuti kebaktian. Jadi saya dan istri ikut kebaktian, Janice dan suster di sekolah minggu. Awal2 memang seperti gak ada gunanya, tapi saya pikir gak apalah biar dia makin sering bertemu anak2 lain, yang penting gak merugikan. Sekaang ini, Janice sudah bisa (kadang juga gak bisa) menceritakan apa yang diceritakan di sekolah minggu, dan kita juga selalu memberitahu Janice bahwa Tuhan sayang sama Janice dan setiap kali Janice sakit, Tuhan lah yang menyembuhkan Janice.
Saya lupa kapan yah saya mulai mengajak Janice berdoa setiap malam sebelum tidur? Tapi tanpa disadari, kemungkinan terbesar Janice bisa tidur dengan nyenyak dan gak bangun2 lagi tengah malam adalah karena Kuasa Tuhan lewat doa2 kita sebelum tidur.
Saya pikir sih nggak perlu terlalu ambil pusing si anak mengerti atau tidak, kita terus mengajarkan saja. Saya yakin suatu waktu mereka akan mengerti.(Kuasa Tuhan siapa yang tau?)
Sekarang Janice sudah lancar berdoa tiap malam sebelum tidur. Saya pun gak yakin dia mengerti 100% apa yang dia ucapkan dalam doa, tapi...... setiap kali berdoa, Janice makin jelas kata2-nya dan saya merasa dia makin mengerti apa yang dia ucapkan dalam doa itu.
Saran saya sih Pak, jangan bosan2 ajarin Ruben tentang Tuhan karena mukjizat dari Tuhan bekerja secara misterius, kita hanya harus percaya saja.
Regards
Da
----- Original Message -----
From: AH
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Saya sangat setuju dengan pak Dav dan pak Har dan salam juga untuk pak Iki dan semua rekan milis keluarga besar putrakembara.
Memang anak anak yang belum akil baliq (usia akil baliq 12 tahun) iman kepercayaannya itu diwalikan kepada orang tuanya, jadi iman orang tuanya sangat berpengaruh kepada anak. Oleh karena itu peran orang tua sangat dominan dalam membentuk kerohanian anak, teladan dan ketaatan orang tua dalam beribadah sangat sangat mempengaruhi pertumbuhan rohani seorang anak.
Jadi didiklah anak anak kita Takut Akan Tuhan sejak masa kecil sesuai iman kita,sehingga konsep mengenal Tuhan akan bertumbuh. Caranya seperti kita menanam sesuatu benih ditanah, kita pupuk terus, kita sirami air saya yakin pasti tumbuh, kalau kita tidak pernah tanam kapan tumbuhnya setuju ya Bpk Bpk ibu Ibu, bukan menguruin lho ......tapi ilustrasi ini bisa dibuktikan toh tanpa harus menghadirkan seorang pakar pertanian he he he..
Walaupun anak kelihatannya belum mengerti ngak apa apa kalau sekolah minggu ya bawa aja toh dimana kita berkumpul bersekutu dengan Tuhan pasti ada hadiratNYA, ada firman Tuhan yang ditaburkan walaupun dalam bentuk cerita itu akan menumbuhkan iman, sebab setiap firman Tuhan ada kuasa.
Seperti kita tidak pernah melihat proses tumbuhnya akar saat satu biji buah yang kita tanam ke tanah karena proses tumbuhnya didalam tanah berapa lama kemudian tahu tahu nongol ke atas permukaan tanah pucuk bekal pohon tersebut,ajaib bukan dan yang jelas saat kita tanam biji mangga pasti tumbuh mangga,saat kita tanam benih padi pasti tumbuh padi tidak mungkin tanam ini tumbuh itu.
Saat pohon itu masih kecil biasa kita pagari kita pupuk tujuannya supaya benih yang baru tumbuh itu tidak mati kehimpit yang lain, itulah masa akilbaliq pohon itu sampai bisa berbuah.
Terima kasih Tuhan kiranya memberkati setiap kita umatNYA yang setia dan mengajarkan anak anak kita yang sesungguhnya adalah titipanNYA untuk selalu mengenal kasih dan kuasaNYA .amin
salam kasih
Papa Yansen
----- Original Message -----
From: EH
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] RE: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Mirip dgn Dexcel, anak saya sejak bayi (kalo ini ngga terlambat), sdh dibawa ke gereja dan setelah besar akhirnya minta sendiri, setiap hr Minggu pasti bilang :
Gereja? Lalu masuk kamar mandi, minta mandi... Semacam biological clock/ jam biologis bagi dia, "wah rasanya skrg hari Minggu..." -> Kadang, tanggal merah juga dia tanya : gereja? Km jwb : ngga, hari ini tdk.
Cara mengenalkan konsep Tuhan mungkin dari yg termudah : memanfaatkan
apa yg sudah ada (kaset lagu rohani, film rohani -> diperdengarkan, diperlihatkan scr rutin, misal pd saat main di rmh, selain film/lagu anak yg umum).... Lalu ya itu, malam kalau mau tidur, siang juga bisa : dibacakan cerita agama, yg singkat2 saja. Kalo Minggu ikut sekolah minggu, kalo anak pak Iki sy taksir msh bisa mengikuti drpd anak sy (jd ngeganggu konsentrasi yg lain).
Oya, berdoa... spt bu LM kmrn bilang, dgn bahasa anak kecil...
Juga yg penting (pernah koq ada di Kompas) ajarkan anak kita menghargai keindahan ciptaan Tuhan (bawa jalan2, melihat / menyentuh) bunga, dedaunan, pohon, langit, awan, .. & menghargai orang/anak lain. Yang jangan sampe terjadi adlh : kita terperangkap dgn mengajari mrk "Ritual"nya, hafalan2 doa, bukan Inti ajarannya. -> Yg spt itu hanya mengasah otak kiri -> Bahaya -> Bnyk kasus anak yg kontradiktif, tawuran iya, nyontek iya, mencuri iya, tapi berdoa iya, sembahyang iya... krn bagi dia, terpisah antara hafal doa, dgn pengamalannya...
Ini kita msh sama2 belajar lho, bukan berarti anak sy lbh pinter. Mungkin yg lain mau nambahin...
Salam, mama Gerard.
----- Original Message -----
From: Dwi P
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Kalau saya mengenalkan konsep ketuhanan adalah dengan menggunakan contoh. Jadi biasanya anak saya Tita, malah yang kecil Echa sudah mau ngikutin. Karena mereka lihat ayahnya ibunya shalat lima waktu. Biasanya Tita ganggu ibunya kalau lagi shalat, setelah itu minta dipakaikan mukena sambil berlarian ke sana kemari. Kalau Echa, sering ngikutin di samping ketika angkat dua tangan, sidakep, sujud dllnya.
Demikian sekedar berbagi pengalaman.
Dwi
----- Original Message -----
From: WW
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Ikutan nimbrung ya..,
anak saya, Gilang F. Dharana, sudah mulai saya perkenalkan mengenai agama sejak di TK B dan kebetulan saat itu perkembangannya sudah sangat banyak kemajuan. Saya memperkenalkan dengan memberikan contoh, kalau tiba waktu sholat saya akan bilang kepada dia dan dia akan melihat saya atau Bapaknya menjalankan sholat. Begitu juga ketika hari lebaran Idhul Fitri maupun Idhul Adha, Gilang kami ajak ke mesjid untuk menjalankan ibadah sholat Id.
Mulai diajarkan ngaji sejak kelas 1 SD, kebetulan di sekolah juga sudah mulai diperkenalkan huruf-huruf Arab dan di rumah saya panggil guru ngaji. Semuanya saya ajarkan tidak dengan memaksa karena saya tahu keterbatasannya.
Sekarang setelah duduk di kelas 3, alhamdulillah sudah lebih mengerti hal-hal yang agak abstrak dan di sekolah juga diajarkan sholat dhuhur berjamaah tetapi di rumah masih belum mau menjalankan sholat, (Ya.. untuk saat ini tidak apa2, saya tidak maksa cukup memberi contoh saja)
salam,
mamanya Gilang
----- Original Message -----
From: AA
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Saya juga mau sharing, waktu pertama mulai kebuka bicara, Harits semangatnya kalo disuruh baca Al Fatihaah.Sekarang udah hapal doa makan, doa tidur, walaupun u e o nya masih belum jelas. U nya kan lebih sering jadi i. Sholat juga ikutan, tapi masih suka lari-lari. Suerr waktu dia semangat niruin ngaji itu, saya dan bapaknya terheran-heran, ampe sekarang... Konsep Tuhan emang susah, tapi terapi rohani mungkin belum ada yang nyoba ya? Yang ada kan kalo dibawa ke orang pinter gitu trus diterapi pake doa doa dsb.
Aan
----- Original Message -----
From: LM
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Ternyata rekan milis ini bukan hanya canggih dalam terapi anak, tapi juga dalam membimbing Rohani anak. smile
Memang dalam mengajarkan konsep Tuhan pada anak-anak (entah itu anak spesial atau tidak, entah itu agama apapun) prinsipnya sama, harus sabar dan "mengalir".....
Jadi pelan2 ajah..... Yang penting kewajiban kita sebagai orang tua adalah menciptakan dulu suasana kasih dan damai dalam keluarga, kalau kata umat Muslim mah keluarga Sakinah yah.....
Terus jangan lupa juga berdoa, agar Tuhan senantiasa menyertai kita dalam membimbing anak-anak yang merupakan titipanNya juga.
Salam,
LM
----- Original Message -----
From: DP
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Dalam berbagai seminar saya sering ditanya mengenai "bagaimana mengajarkan konsep agama, religi dan Tuhan kepada anak berkebutuhan khusus".
Biasanya saya akan bertanya kembali kepada audience, "kita, yang katanya adalah individu normal, umur berapa benar-benar paham urusan religi dan ketuhanan?? Bukankah pada awalnya semua diawali dengan rutinitas, kewajiban, paksaan....sampai pada akhirnya kita cukup 'matang' secara emosional dan spiritual untuk memahami makna berbagai ritual dan kewajiban tersebut?" (bahkan ada juga yang menjalankan ritual sampai dewasa tapi tidak sesungguhnya memahami makna kok!).
Jadi, aku sih, pede aje.
Maksudnya, boleh terus mengajarkan sesuai kemampuan anak. Bagi yang mampu sholat atau berdoa sesuai ajaran masing-masing, silakan. Bagi yang tidak mampu, jangan berkecil hati.
Bukankah anak-anak ini ciptaan Tuhan? Bukankah mereka ini sekedar titipan? Bukankah Tuhan tahu seberapa kapasitas ciptaanNya tersebut?
Usaha jalan terus, tapi ujung perjuangan seperti apa...lillahi ta'ala dong... Kita-kita juga, apapun yang kita lakukan, judgment akhir apakah benar atau salah ada di tangan Tuhan juga.
Salam,
Ita-nya Ikhsan
NB: kalau saya dan beberapa teman selalu bercanda mengatakan "anak-anak kami sih pastinya masuk surga karena mereka innocent...kita-nya yang belum tentu!" he..he..he..
----- Original Message -----
From: FR
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] RE: Mengenalkan konsep Tuhan pada anak khusus kita
Terimakasih untuk semua saran dari ibu-ibu (ibu Wina, ibu Ita, ibu Leny, ibu Eveline) & bapak-bapak (pak Irfan, pak Haryanto, pak David, pak Anton, pak Dwinu, pak Aan) mengenai mengenalkan konsep Tuhan ini.
Kesimpulannya, yang saya tangkap, mulai dengan membiasakan anak menjalankan ibadah ya? (sekolah minggu, ngaji, sholat, berdoa, menyanyi). Masalah dia ngerti atau belum, itu belakangan... dan dari pengalaman-pengalaman beberapa ortu, kelihatannya anak pada akhirnya akan mengerti juga konsep Tuhan ya.
-iki
http://puterakembara.org/archives/00000207.shtml
Kejam, Ribuan Anak Cacat Kehilangan Hak
Banda Aceh-Lupa atau memang sengaja tidak dianggarkan, program pendidikan khusus bagi Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk anak-anak cacat. Jika memang disengaja, berarti ribuan anak cacat di Aceh akan diterlantarkan begitu saja tanpa pendidikan. Kejam sekali.
Oleh karenanya, puluhan Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) mulai dari tingkat SD hingga SMA se-Provinsi Aceh, Kamis (4/2), mendatangi Gedung DPR Aceh. Maksud kedatangan mereka guna mempertanyakan ketidak tersediaan anggaran tersebut pada tahun 2010.
"Jika Pemerintah tidak lagi mengalokasikan anggaran pada tahun ini, maka Sekolah terancam tutup. dan pendidikan bagi anak cacat tidak dapat diselenggarakan kembali karena ketiadaan dana untuk operasional," kata Koordinator Perhimpunan Kepala Sekolah SDLB/SMPLB/SMALB dan SLB se - Aceh, Muttaqin Spd Mpd, sekaligus Kepala sekolah SLBN Aceh Tamiang.
Muttaqin mengatakan, para kepala sekolah ingin mengetahui kepastian tentang keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan sekolah khusus bagi penyandang cacat ini, kepada DPR A, karena kabarnya belum tersedianya anggaran dari pemerintah Aceh untuk tahun 2010. Sehingga memaksa Kelompok Kerja (Pokja) Badan Anggaran DPRA melakukan pembahasan ulang rincian kegiatan anggran (RKA).
Bukan hanya sekolah yang terancam tutup, kata dia, akibat ketidak tersediaan anggaran tersebut, masa depan Seribuan lebih anak - anak dengan kebutuhan khusus tersebut akan semakin suram, dan tidak lagi mendapatkan hak untuk menikmati pendidikan layak seperti siswa normal lainnya.
"Operasional sekolah, dan gaji guru selama ini sangat tergantung pada anggaran itu, karena disekolah selama ini memang tidak dikutip iuran. Pemerintah Aceh harus memperhatikan itu," harapnya.
Kepala sekolah SMPLB Bukesra Banda Aceh, Munawarman, menambahkan, pihaknya meminta eksekutif dan legislatif untuk menganggarkan kembali dana yang telah dianggarkan seperti tahun - tahun sebelumnya,pada tahun 2010 ini.
"Siswa tuna netra, tuna rungu, tuna grahita dan tuna daksa, terancam tidak mendapatkan pendidikan layak, karena anggaran tahun ini tidak tersedia, kita minta pemerintah dapat memperhatikannya seperti sebelumnya," ujarnya.
Tahun lalu, kata dia, setiap sekolah luar biasa biasanya dialokasikan anggaran oleh Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan yaitu, bagi intensif guru dan gaji guru Honorer dalam satu tahun dianggarkan Rp 10 juta, operasional sekolah Rp 5 Juta/pertahun dan uang makan siswa yang diasramakan yang jumlahnya bervariasi tergantung jumlah siswa.
"Kita Minta Dana operasional sekolah, dana insentif guru, dan dana siswa di asrama untuk dianggarkan kembali seperti tahun sebelumnya. Jika anggaran tidak tersedia, maka sekolah terancam tutup," demikian ujarnya.
Sementara itu, para anggota DPRA dari komisi E yang membidangi masalah pendidikan, Sains dan tehnologi, saat menerima para kepala sekolah menyatakan akan memperjuangkan apa yang menjadi tuntutan para kepala sekolah serta keberlangsungan pendidikan bagi siswa/siswi penyandang cacat. (slm)
http://www.rakyataceh.com/index.php?open=view&newsid=15267&tit=BANDA%20ACEH%20-%20%20Kejam,%20Ribuan%20Anak%20Cacat%20Kehilangan%20Hak
Oleh karenanya, puluhan Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) mulai dari tingkat SD hingga SMA se-Provinsi Aceh, Kamis (4/2), mendatangi Gedung DPR Aceh. Maksud kedatangan mereka guna mempertanyakan ketidak tersediaan anggaran tersebut pada tahun 2010.
"Jika Pemerintah tidak lagi mengalokasikan anggaran pada tahun ini, maka Sekolah terancam tutup. dan pendidikan bagi anak cacat tidak dapat diselenggarakan kembali karena ketiadaan dana untuk operasional," kata Koordinator Perhimpunan Kepala Sekolah SDLB/SMPLB/SMALB dan SLB se - Aceh, Muttaqin Spd Mpd, sekaligus Kepala sekolah SLBN Aceh Tamiang.
Muttaqin mengatakan, para kepala sekolah ingin mengetahui kepastian tentang keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan sekolah khusus bagi penyandang cacat ini, kepada DPR A, karena kabarnya belum tersedianya anggaran dari pemerintah Aceh untuk tahun 2010. Sehingga memaksa Kelompok Kerja (Pokja) Badan Anggaran DPRA melakukan pembahasan ulang rincian kegiatan anggran (RKA).
Bukan hanya sekolah yang terancam tutup, kata dia, akibat ketidak tersediaan anggaran tersebut, masa depan Seribuan lebih anak - anak dengan kebutuhan khusus tersebut akan semakin suram, dan tidak lagi mendapatkan hak untuk menikmati pendidikan layak seperti siswa normal lainnya.
"Operasional sekolah, dan gaji guru selama ini sangat tergantung pada anggaran itu, karena disekolah selama ini memang tidak dikutip iuran. Pemerintah Aceh harus memperhatikan itu," harapnya.
Kepala sekolah SMPLB Bukesra Banda Aceh, Munawarman, menambahkan, pihaknya meminta eksekutif dan legislatif untuk menganggarkan kembali dana yang telah dianggarkan seperti tahun - tahun sebelumnya,pada tahun 2010 ini.
"Siswa tuna netra, tuna rungu, tuna grahita dan tuna daksa, terancam tidak mendapatkan pendidikan layak, karena anggaran tahun ini tidak tersedia, kita minta pemerintah dapat memperhatikannya seperti sebelumnya," ujarnya.
Tahun lalu, kata dia, setiap sekolah luar biasa biasanya dialokasikan anggaran oleh Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan yaitu, bagi intensif guru dan gaji guru Honorer dalam satu tahun dianggarkan Rp 10 juta, operasional sekolah Rp 5 Juta/pertahun dan uang makan siswa yang diasramakan yang jumlahnya bervariasi tergantung jumlah siswa.
"Kita Minta Dana operasional sekolah, dana insentif guru, dan dana siswa di asrama untuk dianggarkan kembali seperti tahun sebelumnya. Jika anggaran tidak tersedia, maka sekolah terancam tutup," demikian ujarnya.
Sementara itu, para anggota DPRA dari komisi E yang membidangi masalah pendidikan, Sains dan tehnologi, saat menerima para kepala sekolah menyatakan akan memperjuangkan apa yang menjadi tuntutan para kepala sekolah serta keberlangsungan pendidikan bagi siswa/siswi penyandang cacat. (slm)
http://www.rakyataceh.com/index.php?open=view&newsid=15267&tit=BANDA%20ACEH%20-%20%20Kejam,%20Ribuan%20Anak%20Cacat%20Kehilangan%20Hak
Anak dengan Kebutuhan Khusus
Anak dengan Kebutuhan KhususMana istilah yang tepat: anak autis atau anak dengan autisme? Belakangan istilah anak dengan autisme lebih dianjurkan karena itu mengindikasikan seorang anak yang memiliki gangguan autisme. Berbeda dengan istilah anak autis yang seolah-olah menjadikan autis sebagai sifat yang dimiliki anak tersebut. Tetapi, ada istilah yang lebih tepat lagi, yakni anak dengan kebutuhan khusus (special needs).
Memang, autisme itu merupakan gangguan perkembangan pada anak-anak yang gejalanya telah terlihat sebelum berumur tiga tahun. Ada tiga perkembangan yang umumnya terganggu akibat autisme ini, yakni komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku.
Kualitas komunikasi anak dengan kebutuhan khusus cenderung tidak normal. Hal tersebut terlihat dengan:
* Perkembangan berbicara yang terlambat, bahkan tidak berkembang sama sekali.
* Tidak berkomunikasi melalui gerak badan atau mimik muka sebagai usaha menutupi kekurangan kemampuan berbicara.
* Tidak mampu memulai pembicaraan atau mempertahankan alur pembicaraan dua arah.
* Kerap menggunakan kata-kata yang tidak lazim atau mengulangi kata-kata yang sama.
* Biasanya memilih permainan yang kurang variatif karena tidak mampu untuk bermain secara imajinatif.
Anak dengan kebutuhan khusus juga memiliki gangguan dalam kualitas interaksi sosial. Mereka akan:
* Gagal untuk bertatap mata, tidak menunjukkan ekspresi di wajah maupun gerak tubuh.
* Gagal membina hubungan sosial dengan teman seumurannya.
* Tidak mampu berempati atau membaca emosi orang lain.
* Tidak memiliki spontanitas dalam mencari teman, berbagi kesenangan, atau melakukan sesuatu bersama-sama.
Perilaku, aktivitas, dan minat anak dengan kebutuhan khusus juga sangat terbatas, bahkan sering melakukan suatu aktivitas tertentu secara berulang-ulang. Biasanya anak dengan kebutuhan khusus akan:
* Melakukan suatu pola perilaku yang tidak normal, bahkan sampai berjam-jam, misalnya duduk di pojok sambil mempermainkan pasir dengan cara yang sama.
* Mempertahankan suatu rutinitas yang tidak boleh diubah. Misalnya, sebelum tidur, harus cuci kaki dulu, menyikat gigi, memakai piyama, menggosokkan kaki di keset, lalu naik ke tempat tidur. Bila urutan rutinitas itu diubah atau salah satu aktivitas tidak dilakukan, maka seorang anak dengan autisme akan merasa sangat terganggu, lalu menangis sambil berteriak meminta rutinitas tersebut diulang dari awal.
* Kerap mengulangi suatu gerakan yang aneh, misalnya mengepak-ngepakkan lengan, menggerak-gerakkan jari dengan cara tertentu, atau mengetok-ngetok sesuatu.
Selain gangguan pada komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku, seorang anak dengan kebutuhan khusus juga kerap menunjukkan emosi yang tidak wajar, misalnya mengamuk tanpa kendali, tertawa dan menangis tanpa sebab, serta memiliki rasa takut yang tidak beralasan. Anak dengan kebutuhan khusus juga menampilkan gejala gangguan sensoris, seperti mencium-cium atau menggigit suatu benda sebagai cara untuk mengenali benda tersebut. Ia juga tidak suka dan menunjukkan penolakan bila dipeluk atau dielus.
Sebagai orangtua, apa yang Anda lakukan bila anak Anda tergolong berkebutuhan khusus? Berikut ini anjuran yang selalu diberikan kepada orang tua dengan kondisi seperti itu.
* Anak dengan Kebutuhan KhususHargai, cintai, dan belajarlah dari anak Anda. Jangan memaksa anak Anda untuk segera mengatasi kekurangannya. Tidak perlu merasa malu dengan kondisinya, karena autisme bukan sesuatu yang memalukan, bukan penyakit, dan tidak akan menular. Tetapi, yang terutama adalah memastikan bahwa anak Anda dapat merasakan kasih sayang Anda.
* Pelajari mengenai autisme, baik dari buku, seminar, dokter, atau orang lain yang memiliki pengalaman yang sama.
* Pelajari berbagai terapi autisme. Cari tahu terapi yang tepat untuk anak Anda, karena tidak semua terapi cocok untuk semua penderita.
* Carilah bantuan dan nasihat, lalu pilihlah mana yang cocok untuk anak Anda dan Anda sendiri. Misalnya, carilah sekolah yang mau menerima anak Anda dan berkolaborasilah dengan gurunya untuk dapat memenuhi kebutuhan khusus anak Anda.
* Tetap sabar dan bersikap positif karena banyak anak-anak dengan gejala autisme berat ternyata bisa berkembang dengan sangat baik. Pahamilah bahwa Anda sedang menjalani suatu proses yang sangat panjang.
* Bantu anak Anda dalam mengembangkan kemampuan dan minatnya. Bila si anak terlihat berbakat musik, maka Anda harus membantu mengarahkan anak Anda untuk mengembangkan kemampuan seninya.
* Carilah terapis yang terbaik, karena terapis yang tidak tepat hanya akan membuat anak Anda semakin stress.
* Perbaiki diet anak Anda dengan cara mencatat makanan dan perilaku hariannya. Dalam beberapa bulan Anda akan menemukan pola makanan mana yang membuat anak Anda menjadi agresif dan pemarah, karena anak dengan kebutuhan khusus cenderung memiliki alergi pada beberapa jenis makanan. Bila polanya sudah terlihat, maka hilangkan makanan-makanan tersebut dari diet anak Anda. Mengonsumsi suplemen HD Honeybee PollenS bisa dijadikan sebagai pilihan karena autisme berkaitan dengan ketidaknormalan pertumbuhan neuron. HD Honeybee PollenS diformulasikan khusus untuk anak-anak dan bermanfaat membantu perkembangan otak, tubuh sekaligus meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak. Tetap berkonsultasi dengan dokter atau terapis anak Anda karena bisa saja anak Anda memiliki alergi terhadap produk perlebahan.
http://www.hd.co.id/info-kesehatan/anak-dengan-kebutuhan-khusus
Memang, autisme itu merupakan gangguan perkembangan pada anak-anak yang gejalanya telah terlihat sebelum berumur tiga tahun. Ada tiga perkembangan yang umumnya terganggu akibat autisme ini, yakni komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku.
Kualitas komunikasi anak dengan kebutuhan khusus cenderung tidak normal. Hal tersebut terlihat dengan:
* Perkembangan berbicara yang terlambat, bahkan tidak berkembang sama sekali.
* Tidak berkomunikasi melalui gerak badan atau mimik muka sebagai usaha menutupi kekurangan kemampuan berbicara.
* Tidak mampu memulai pembicaraan atau mempertahankan alur pembicaraan dua arah.
* Kerap menggunakan kata-kata yang tidak lazim atau mengulangi kata-kata yang sama.
* Biasanya memilih permainan yang kurang variatif karena tidak mampu untuk bermain secara imajinatif.
Anak dengan kebutuhan khusus juga memiliki gangguan dalam kualitas interaksi sosial. Mereka akan:
* Gagal untuk bertatap mata, tidak menunjukkan ekspresi di wajah maupun gerak tubuh.
* Gagal membina hubungan sosial dengan teman seumurannya.
* Tidak mampu berempati atau membaca emosi orang lain.
* Tidak memiliki spontanitas dalam mencari teman, berbagi kesenangan, atau melakukan sesuatu bersama-sama.
Perilaku, aktivitas, dan minat anak dengan kebutuhan khusus juga sangat terbatas, bahkan sering melakukan suatu aktivitas tertentu secara berulang-ulang. Biasanya anak dengan kebutuhan khusus akan:
* Melakukan suatu pola perilaku yang tidak normal, bahkan sampai berjam-jam, misalnya duduk di pojok sambil mempermainkan pasir dengan cara yang sama.
* Mempertahankan suatu rutinitas yang tidak boleh diubah. Misalnya, sebelum tidur, harus cuci kaki dulu, menyikat gigi, memakai piyama, menggosokkan kaki di keset, lalu naik ke tempat tidur. Bila urutan rutinitas itu diubah atau salah satu aktivitas tidak dilakukan, maka seorang anak dengan autisme akan merasa sangat terganggu, lalu menangis sambil berteriak meminta rutinitas tersebut diulang dari awal.
* Kerap mengulangi suatu gerakan yang aneh, misalnya mengepak-ngepakkan lengan, menggerak-gerakkan jari dengan cara tertentu, atau mengetok-ngetok sesuatu.
Selain gangguan pada komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku, seorang anak dengan kebutuhan khusus juga kerap menunjukkan emosi yang tidak wajar, misalnya mengamuk tanpa kendali, tertawa dan menangis tanpa sebab, serta memiliki rasa takut yang tidak beralasan. Anak dengan kebutuhan khusus juga menampilkan gejala gangguan sensoris, seperti mencium-cium atau menggigit suatu benda sebagai cara untuk mengenali benda tersebut. Ia juga tidak suka dan menunjukkan penolakan bila dipeluk atau dielus.
Sebagai orangtua, apa yang Anda lakukan bila anak Anda tergolong berkebutuhan khusus? Berikut ini anjuran yang selalu diberikan kepada orang tua dengan kondisi seperti itu.
* Anak dengan Kebutuhan KhususHargai, cintai, dan belajarlah dari anak Anda. Jangan memaksa anak Anda untuk segera mengatasi kekurangannya. Tidak perlu merasa malu dengan kondisinya, karena autisme bukan sesuatu yang memalukan, bukan penyakit, dan tidak akan menular. Tetapi, yang terutama adalah memastikan bahwa anak Anda dapat merasakan kasih sayang Anda.
* Pelajari mengenai autisme, baik dari buku, seminar, dokter, atau orang lain yang memiliki pengalaman yang sama.
* Pelajari berbagai terapi autisme. Cari tahu terapi yang tepat untuk anak Anda, karena tidak semua terapi cocok untuk semua penderita.
* Carilah bantuan dan nasihat, lalu pilihlah mana yang cocok untuk anak Anda dan Anda sendiri. Misalnya, carilah sekolah yang mau menerima anak Anda dan berkolaborasilah dengan gurunya untuk dapat memenuhi kebutuhan khusus anak Anda.
* Tetap sabar dan bersikap positif karena banyak anak-anak dengan gejala autisme berat ternyata bisa berkembang dengan sangat baik. Pahamilah bahwa Anda sedang menjalani suatu proses yang sangat panjang.
* Bantu anak Anda dalam mengembangkan kemampuan dan minatnya. Bila si anak terlihat berbakat musik, maka Anda harus membantu mengarahkan anak Anda untuk mengembangkan kemampuan seninya.
* Carilah terapis yang terbaik, karena terapis yang tidak tepat hanya akan membuat anak Anda semakin stress.
* Perbaiki diet anak Anda dengan cara mencatat makanan dan perilaku hariannya. Dalam beberapa bulan Anda akan menemukan pola makanan mana yang membuat anak Anda menjadi agresif dan pemarah, karena anak dengan kebutuhan khusus cenderung memiliki alergi pada beberapa jenis makanan. Bila polanya sudah terlihat, maka hilangkan makanan-makanan tersebut dari diet anak Anda. Mengonsumsi suplemen HD Honeybee PollenS bisa dijadikan sebagai pilihan karena autisme berkaitan dengan ketidaknormalan pertumbuhan neuron. HD Honeybee PollenS diformulasikan khusus untuk anak-anak dan bermanfaat membantu perkembangan otak, tubuh sekaligus meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak. Tetap berkonsultasi dengan dokter atau terapis anak Anda karena bisa saja anak Anda memiliki alergi terhadap produk perlebahan.
http://www.hd.co.id/info-kesehatan/anak-dengan-kebutuhan-khusus
Kasus Autisme
Peter minun susu dengan bersemangat, duduk dan berjalan pada usia yang sesuai. Namun sebagian perilakunya merasa membuat kami tidak nyaman, Ia tidak pernah memasukkan apapun kedalam mulutnya,. Tidak jarinya, tidak mainannya, tidak apapun juga…
Lebih mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa Peter tidak memandang kami, atau tersenyum dan Ikut dalam permainan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masa bayi seperti halnya popok. Ia jarang tertawa, dan jika Ia melakukannya, Itu disebabkan oleh hal-hal yang tidak lucu bagi kami. Ia tidak suka memeluk, tetapi duduk tegak dipangkuan saya. Bahkan ketika saya mengayunnya. Tetapi setiap anak beda dan kami senang membiarkan peter menjadi dirinya sendiri. Kami pikit merupakan hal yang lucu ketika saudara laki-laki saya berkunjung ketika Peter berusia 8 bulan., dan Ia mengatakan “Anak ini tidak memiliki insting social sama sekali.” Walaupun Peter anak pertama, Ia tidak terisolasi. Saya sering menaruh tempat bermainnya di depan rumah dimana anak-anak sekolah akan berhenti dan bermain dengannya saat mereka melewati rumah. Ia tidak mengacuhkan mereka juga.
Kitty, anak yang berkarakter, yang lahir 2 tahun kemudian, responsivitasnya menekankan adanya perbedaan pada Peter. Bila saya pergi ke kamar Kitty untuk menyusuinya pada Malam hari, kepala kecilnya akan menyembul dan Ia menyapa saya dengan senyum dari kepala hingga kakinya. Dan kesadaran akan perbedaan itu membuatku merasa beku, lebih dari kamar yang dingin.
Ocehan Peter tidak berubah menjadi bahasa sampai usianya mencapai 3 tahun. Ia bermain secara soliter dan repetitive. Ia merobek kertas menjadi bagian-bagian tiis yang jumlahnya berkeranjang-keranjang setiap harinya. Ia memutar tutup toples dan menjadi kesal ketika kami mencoba mengalihkannya. Hanya kadang-kadang saja saya mendapat kontak matanya, tetapi kemudian saya melihat fokusnya berubah dari mata saya menuju bayangan pada kacamata saya.
Petualangan Peter dilinkungan tetangga pinggiran kota kami tidak menggembirakan. Dia tidak mengikui aturan-aturan umum bahwa pasir harus dimainkan dikotak pasir, dan anak-anak memberi hukuman padanya. Ia tampak seperti sosok yang sedih dan sendirian, selalu membawa mainan kapal terbang yang tidak pernah dimainkannya. Pada saat itu, saya belum mendengar kata yang mendominasi pada kehidupan kami, yang selalu diucapkan pada percakapan, dan yang duduk bersama pada setiap acara makan. Kata itu Autisme.
Sumber : Diadaptasi dari Eberhardy, 1967
Jeffrey, Spencer, Beverly. 2003. Psikologi Abnormal. Erlangga : Jakarta.
Lebih mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa Peter tidak memandang kami, atau tersenyum dan Ikut dalam permainan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masa bayi seperti halnya popok. Ia jarang tertawa, dan jika Ia melakukannya, Itu disebabkan oleh hal-hal yang tidak lucu bagi kami. Ia tidak suka memeluk, tetapi duduk tegak dipangkuan saya. Bahkan ketika saya mengayunnya. Tetapi setiap anak beda dan kami senang membiarkan peter menjadi dirinya sendiri. Kami pikit merupakan hal yang lucu ketika saudara laki-laki saya berkunjung ketika Peter berusia 8 bulan., dan Ia mengatakan “Anak ini tidak memiliki insting social sama sekali.” Walaupun Peter anak pertama, Ia tidak terisolasi. Saya sering menaruh tempat bermainnya di depan rumah dimana anak-anak sekolah akan berhenti dan bermain dengannya saat mereka melewati rumah. Ia tidak mengacuhkan mereka juga.
Kitty, anak yang berkarakter, yang lahir 2 tahun kemudian, responsivitasnya menekankan adanya perbedaan pada Peter. Bila saya pergi ke kamar Kitty untuk menyusuinya pada Malam hari, kepala kecilnya akan menyembul dan Ia menyapa saya dengan senyum dari kepala hingga kakinya. Dan kesadaran akan perbedaan itu membuatku merasa beku, lebih dari kamar yang dingin.
Ocehan Peter tidak berubah menjadi bahasa sampai usianya mencapai 3 tahun. Ia bermain secara soliter dan repetitive. Ia merobek kertas menjadi bagian-bagian tiis yang jumlahnya berkeranjang-keranjang setiap harinya. Ia memutar tutup toples dan menjadi kesal ketika kami mencoba mengalihkannya. Hanya kadang-kadang saja saya mendapat kontak matanya, tetapi kemudian saya melihat fokusnya berubah dari mata saya menuju bayangan pada kacamata saya.
Petualangan Peter dilinkungan tetangga pinggiran kota kami tidak menggembirakan. Dia tidak mengikui aturan-aturan umum bahwa pasir harus dimainkan dikotak pasir, dan anak-anak memberi hukuman padanya. Ia tampak seperti sosok yang sedih dan sendirian, selalu membawa mainan kapal terbang yang tidak pernah dimainkannya. Pada saat itu, saya belum mendengar kata yang mendominasi pada kehidupan kami, yang selalu diucapkan pada percakapan, dan yang duduk bersama pada setiap acara makan. Kata itu Autisme.
Sumber : Diadaptasi dari Eberhardy, 1967
Jeffrey, Spencer, Beverly. 2003. Psikologi Abnormal. Erlangga : Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)
