Tanda-tanda adanya gangguan ADHD sebenarnya sudah dapat dideteksi sejak anak
masa pra sekolah. Kurangnya atensi, hiperaktif dan kompulsif merupakan tanda-tanda
yang langsung dapat ditangkap adanya gangguan pada anak, misalnya saja anak tidak
suka atau kehilangan minat untuk bermain, berlari kesana-kemari dan tidak dapat
mengontrol keinginannya untuk menyentuh benda-benda disekitarnya. Bila orangtua
menangkap gejala tersebut seharusnya segeralah membawa anaknya kedokter anak
atau psikolog. Penangan secara dini akan memberikan kontribusi perilaku yang lebih
baik ketika anak memasuki tahap perkembangan selanjutnya.
Gangguan hiperaktif-kompulsif mungkin secara langsung bisa terlihat pada perilaku
anak, namun tidak pada tipe gangguan atensi, anak terlihat dapat bekerjasama dengan
orang sekitarnya, sehingga tipe ini kadang terabaikan secara kasat mata.
Untuk mendiagnosa secara tepat, tenaga profesional biasanya akan mengumpulkan
data-data secara lengkap untuk memutuskan diagnosis apakah anak tersebut mengidap
gangguan ADHD atau tidak, data tersebut berupa;
- latar belakang keluarga anak
- Kemungkinan gangguan pendengaran
- Ketidakmampuan belajar
- Kecemasan dan depresi
- Pengaruh obat-obatan sebelumnya yang memungkinkan terjadinya gangguan otak
- Kondisi fisik seperti kondisi lobus frontal
- Test psikologi (adaptasi sosial, kesehatan mental, test intelligensi, dan test prestasi)
- Situasi-situasi pencetus stress pada anak
Beberapa test lainnya dapat diberikan oleh terapis berupa tes kemampuan membaca,
pemecahan matematika, atau beberapa papan permainan. Tenaga profesional kadang
juga perlu melakukan obervasi secara langsung dalam kehidupan sang anak. Bila
ditemukan adanya gangguan ADHD secara pasti, tenaga ahli akan membicarakan
masalah ini kepada gurunya di sekolah, guru juga akan dilibatkan dalam mendiagnosa
gangguan tersebut, biasanya guru akan diberikan sebuah form evaluasi
(behavior rating scales) perilaku anak untuk diisi oleh guru yang bersangkutan.
http://psychcentral.com/quizzes/adultaddquiz.htm
http://senyumsehat.wordpress.com/2007/06/05/kenapa-wadehel-a-d-h-d/
Minggu, 28 Februari 2010
PENANGANAN TEPAT ADHD
Bila orangtua sudah menemukan salah satu atau beberapa ciri-ciri anak dengan gangguan ADHD, sebaiknya segera bawa anak ke ahlidalam hal ini psikolog/psikiateruntuk mendapatkan penanganan yang tepat. Prinsipnya, lebih baik orangtua "curiga" dahulu meski kemudian tak terbukti, daripada menunda kecurigaan dengan risiko penanganannya terlambat. Oleh psikolog/psikiater, anak dan orangtua akan diobservasi lebih lanjut dengan beberapa tes/pertanyaan. Bila memang terbukti anak mengalami kesulitan belajar karena ADHD, maka penanganan yang akan dilakukan adalah:
* Pemberian obat.
Bertujuan mengurangi sensitivitas transporter dopamin sehingga dopamin yang bisa diserap oleh reseptor lebih banyak. Dengan demikian diharapkan anak lebih bisa konsentrasi dan mempunyai kontrol diri. Jenis obat-obatan yang diberikan antara lain golongan amfetamin, aferadin, dexmethylphenidate, dan sebagainya. Pemberian obat ini harus dengan pengawasan dokter dan akan dihentikan bila dirasa cukup, jadi tak dikonsumsi anak selamanya.
* Terapi perilaku.
Seiring dengan pemberian obat, anak diminta menjalani terapi perilaku. Tujuannya, mengajari anak melakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Seperti diketahui, anak-anak ini umumnya tak bisa duduk diam, memusatkan perhatian, mendengarkan orangtua/guru yang sedang berbicara, menggunakan alat tulis dengan benar, dan sebagainya.
* Remedial teaching programme.
Setelah anak lebih bisa memusatkan perhatian, maka diharapkan adanya remedial teaching programme. Program ini melibatkan pihak sekolah untuk mengejar ketertinggalan anak pada pelajaran yang diberikan.
file:///D:/Download/khasanah09457-02.htm
Narasumber:
Dr. Tjin Wiguna, Sp.KJ.,
dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
* Pemberian obat.
Bertujuan mengurangi sensitivitas transporter dopamin sehingga dopamin yang bisa diserap oleh reseptor lebih banyak. Dengan demikian diharapkan anak lebih bisa konsentrasi dan mempunyai kontrol diri. Jenis obat-obatan yang diberikan antara lain golongan amfetamin, aferadin, dexmethylphenidate, dan sebagainya. Pemberian obat ini harus dengan pengawasan dokter dan akan dihentikan bila dirasa cukup, jadi tak dikonsumsi anak selamanya.
* Terapi perilaku.
Seiring dengan pemberian obat, anak diminta menjalani terapi perilaku. Tujuannya, mengajari anak melakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Seperti diketahui, anak-anak ini umumnya tak bisa duduk diam, memusatkan perhatian, mendengarkan orangtua/guru yang sedang berbicara, menggunakan alat tulis dengan benar, dan sebagainya.
* Remedial teaching programme.
Setelah anak lebih bisa memusatkan perhatian, maka diharapkan adanya remedial teaching programme. Program ini melibatkan pihak sekolah untuk mengejar ketertinggalan anak pada pelajaran yang diberikan.
file:///D:/Download/khasanah09457-02.htm
Narasumber:
Dr. Tjin Wiguna, Sp.KJ.,
dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
MENGENAL ADHD
Anak dengan gangguan ADHD sangat sulit memusatkan perhatian karena kurangnya dopamin yang berfungsi untuk mengatuar kontrol diri dan konsentrasi. Akibatnya, materi pelajaran yang disampaikan guru banyak yang terlewat begitu saja. Sampai saat ini belum diketahui penyebabnya mengapa transporter dopamin yang ada dalam otak menjadi lebih sensitif sehingga pada anak dengan gangguan ADHD produksi dopamin justru terserap kembali. Beberapa ahli menduga hal ini karena kelainan neurobiologi dan genetik, kelainan metabolik, kerusakan otak (brain injury) pada masa prenatal dan perinatal.
TIGA TIPE
Secara umum gangguan ini dapat digolongkan menjadi 3, yaitu;
* Tipe Predominantly Hyperactive-impulsive.
Ciri-ciri: tak bisa diam, berlarian, memanjat-manjat, terburu-buru menjawab meski pertanyaan belum selesai, tak sabar berada dalam antrean, dan sebagainya.
* Tipe Predominantly Inattentive.
Ciri-ciri: sulit memusatkan perhatian, ceroboh, sering kehilangan barang karena lupa, belum selesai mengerjakan sesuatu sudah ditinggal untuk mengerjakan hal lain.
* Kombinasi keduanya.
Ciri-ciri: menunjukkan ciri-ciri dari keduanya.
Narasumber:
Dr. Tjin Wiguna, Sp.KJ.,
dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
TIGA TIPE
Secara umum gangguan ini dapat digolongkan menjadi 3, yaitu;
* Tipe Predominantly Hyperactive-impulsive.
Ciri-ciri: tak bisa diam, berlarian, memanjat-manjat, terburu-buru menjawab meski pertanyaan belum selesai, tak sabar berada dalam antrean, dan sebagainya.
* Tipe Predominantly Inattentive.
Ciri-ciri: sulit memusatkan perhatian, ceroboh, sering kehilangan barang karena lupa, belum selesai mengerjakan sesuatu sudah ditinggal untuk mengerjakan hal lain.
* Kombinasi keduanya.
Ciri-ciri: menunjukkan ciri-ciri dari keduanya.
Narasumber:
Dr. Tjin Wiguna, Sp.KJ.,
dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
CIRI-CIRI ADHD
Sebenarnya, anak dengan gangguan ADHD sudah bisa terdeteksi sejak bayi, dengan beberapa ciri yang khas, semisal lebih lasak, tidur lebih sebentar, sulit memusatkan perhatian dan sebagainya. Jadi, gangguan ini tidak muncul tiba-tiba di usia prasekolah/sekolah. Kalaupun orangtua merasa sudah terlewat mendeteksi di usia sebelumnya, berikut ciri-ciri yang harus diwaspadai:
+ Rentang perhatian sempit.
Anak-anak ini mempunyai rentang perhatian yang sempit dan mudah teralih, daya ingat yang buruk (lupa mengerjakan PR, sering kehilangan barang karena lupa, bermasalah dengan janji yang dibuat sendiri), sulit mempelajari hal baru terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingat, mengalami kesulitan dalam mengikuti petunjuk atau rutinitas tertentu.
+ Hiperaktif
Tak bisa duduk diam saat makan maupun di kelas, selalu bergerak dan berlarian, menyentuh benda-benda yang ada di sekitarnya, membuat kegaduhan dengan alat-alat tulis yang sedang dipegangnya, terlihat "sok tahu" saat membicarakan sesuatu sementara ia sendiri tak mengerjakan apa yang dibicarakannya itu.
+ Tantrum
Memiliki problem emosi seperti mudah marah dengan sebab yang tidak jelas, mudah tersinggung, pemurung, tak acuh, dan suka mengasingkan diri dari lingkungan, impulsif (bertindak sebelum berpikir), kekanak-kanakan (perilaku tak sesuai dengan usianya), dan keras kepala.
+ Ciri lainnya:
- Membuat kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, misalnya huruf b dibaca d, kata roda dibaca dora, serta minimnya penguasaan jumlah kata.
- Lambat mempelajari hubungan antara huruf dan bunyi.
- Kesulitan mempelajari huruf, angka, tanda-tanda dalam matematika (-, x, +), nama-nama hari dalam
seminggu.
- Tidak menyukai permainan pasel.
- Tidak menyukai pelajaran menggambar dan prakarya.
- Lambat dan tak bisa mengerjakan beberapa tugas yang diberikan sekaligus.
- Buruk dalam hal perencanaan.
- Disfungsi motorik, seperti sulit memegang alat tulis, gunting, gangguan motorik halus dan koordinasi.
Narasumber:
Dr. Tjin Wiguna, Sp.KJ.,
dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
+ Rentang perhatian sempit.
Anak-anak ini mempunyai rentang perhatian yang sempit dan mudah teralih, daya ingat yang buruk (lupa mengerjakan PR, sering kehilangan barang karena lupa, bermasalah dengan janji yang dibuat sendiri), sulit mempelajari hal baru terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingat, mengalami kesulitan dalam mengikuti petunjuk atau rutinitas tertentu.
+ Hiperaktif
Tak bisa duduk diam saat makan maupun di kelas, selalu bergerak dan berlarian, menyentuh benda-benda yang ada di sekitarnya, membuat kegaduhan dengan alat-alat tulis yang sedang dipegangnya, terlihat "sok tahu" saat membicarakan sesuatu sementara ia sendiri tak mengerjakan apa yang dibicarakannya itu.
+ Tantrum
Memiliki problem emosi seperti mudah marah dengan sebab yang tidak jelas, mudah tersinggung, pemurung, tak acuh, dan suka mengasingkan diri dari lingkungan, impulsif (bertindak sebelum berpikir), kekanak-kanakan (perilaku tak sesuai dengan usianya), dan keras kepala.
+ Ciri lainnya:
- Membuat kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, misalnya huruf b dibaca d, kata roda dibaca dora, serta minimnya penguasaan jumlah kata.
- Lambat mempelajari hubungan antara huruf dan bunyi.
- Kesulitan mempelajari huruf, angka, tanda-tanda dalam matematika (-, x, +), nama-nama hari dalam
seminggu.
- Tidak menyukai permainan pasel.
- Tidak menyukai pelajaran menggambar dan prakarya.
- Lambat dan tak bisa mengerjakan beberapa tugas yang diberikan sekaligus.
- Buruk dalam hal perencanaan.
- Disfungsi motorik, seperti sulit memegang alat tulis, gunting, gangguan motorik halus dan koordinasi.
Narasumber:
Dr. Tjin Wiguna, Sp.KJ.,
dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
TREATMENT ADHD
Studi yang begitu lama membuktikan bahwa kombinasi antara obat-obatan dan psikoterapi (behavioral therapy) dan manajemen medikasi yang tepat, terapi yang intensif dan komunitas treatment yang rutin telah menolong anak-anak dengan gangguan ADHD menjadi lebih baik. Menurunnya intensitas kecemasan, membaiknya penampilan di sekolah, meningkatnya kualitas hubungan antara orangtua-anak, meningkatkan kemampuan sosial merupakan keuntungan pemberian treatment secara dini, tentunya dengan medikasi yang rendah dosis.
Kadang beberapa anak menunjukkan efek buruk dari medikasi, oleh karenanya perlunya pengawasan ketat dalam pemberian obat-obatan, apalgi bila anak tersebut disertai dengan gangguan kecemasan dan depresi. Haruslah berhati-hati dalam memberi obat-obatan medis.
a) Medikasi
Jenis obat simultan berguna menurunkan gejala hiperaktif dan kompulsif, beberapa anak juga dilaporkan meningkatnya konsentrasi, pekerjaan dan belajar. Selain itu obat jenis simultan juga meningkatkan koordinasi tubuh sehingga anak tidak menemui kesulitan dalam melakukan pekerjaan tangan atau berolahraga.
Jenis simultan dianggap paling baik, dalam dosis yang rendah tidak akan membuat anak seperti “fly”. Selama pemberian obat dalam dosis rendah dan terkontrol jenis simultan ini dianggap tidak menimbulkan adiktif. Dalam treatmen juga diusahakan manajemen pemberian obat-obatan, misalnya seminggu sekali atau pada waktu sianh hari.
Jika dalam seminggu tidak memberi pengaruh meningkatkan performance, dokter akan meningkatkan dosis, jika tidak juga memberi pengaruh maka dokter akan mengganti dengan obat jenis lainnya.
b) Psikoterapi
Behavior therapy
Terapi ini berguna untuk meningkatkan kemampuan pada anak, pada terapi ini orangtua terlibat langsung dalam terapi, misalnya memberikan penghargaan terhadap perilaku yang positif yang ditujukkan oleh anak. Ketika anak mulai kehilangan kontrol, orangtua mengambil time out, dan menyuruh anak untuk diam di kursinya sampai ia menjadi tenang. Tujuan dalam terapi ini juga mengajarkan anak untuk mengenal muatan-muatan emosinya. Terapi juga mengajarkan orangtua teknik-teknik bersenang-senang dengan anak ADHD tanpa harus merasa tertekan.
Social skills training
Dalam pelatihan ini anak belajar cara-cara menghargai dan menempatkan dirinya bersama dengan kelompok bermainnya. Pelatihan ini juga anak diajarkan kecakapan bahasa nonverbal melalui insyarat wajah, ekspresi roman, intonasi suara sehingga anak cepat tanggap dalam pelbagai situasi sosial. Disamping itu anak juga diajarkan untuk belajar mengendalikan impuls misalnya dilatih untuk menunggu giliran bermain, berbagi mainan dengan temannya, Pelatihan ini juga diharapkan anak dapat mengontrol perilaku amarah yang tidak terkendali.
Family support groups
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan ADHD untuk berbagi pengalaman. Kelompok ini juga saling menyediakan informasi bagi sesama anggotanya, mengundang pembicara profesional untuk berbagi pengetahuan dalam menghadapi dan membesarkan anak-anak mereka.
file:///D:/Download/ADHD%20anak.htm
Kadang beberapa anak menunjukkan efek buruk dari medikasi, oleh karenanya perlunya pengawasan ketat dalam pemberian obat-obatan, apalgi bila anak tersebut disertai dengan gangguan kecemasan dan depresi. Haruslah berhati-hati dalam memberi obat-obatan medis.
a) Medikasi
Jenis obat simultan berguna menurunkan gejala hiperaktif dan kompulsif, beberapa anak juga dilaporkan meningkatnya konsentrasi, pekerjaan dan belajar. Selain itu obat jenis simultan juga meningkatkan koordinasi tubuh sehingga anak tidak menemui kesulitan dalam melakukan pekerjaan tangan atau berolahraga.
Jenis simultan dianggap paling baik, dalam dosis yang rendah tidak akan membuat anak seperti “fly”. Selama pemberian obat dalam dosis rendah dan terkontrol jenis simultan ini dianggap tidak menimbulkan adiktif. Dalam treatmen juga diusahakan manajemen pemberian obat-obatan, misalnya seminggu sekali atau pada waktu sianh hari.
Jika dalam seminggu tidak memberi pengaruh meningkatkan performance, dokter akan meningkatkan dosis, jika tidak juga memberi pengaruh maka dokter akan mengganti dengan obat jenis lainnya.
b) Psikoterapi
Behavior therapy
Terapi ini berguna untuk meningkatkan kemampuan pada anak, pada terapi ini orangtua terlibat langsung dalam terapi, misalnya memberikan penghargaan terhadap perilaku yang positif yang ditujukkan oleh anak. Ketika anak mulai kehilangan kontrol, orangtua mengambil time out, dan menyuruh anak untuk diam di kursinya sampai ia menjadi tenang. Tujuan dalam terapi ini juga mengajarkan anak untuk mengenal muatan-muatan emosinya. Terapi juga mengajarkan orangtua teknik-teknik bersenang-senang dengan anak ADHD tanpa harus merasa tertekan.
Social skills training
Dalam pelatihan ini anak belajar cara-cara menghargai dan menempatkan dirinya bersama dengan kelompok bermainnya. Pelatihan ini juga anak diajarkan kecakapan bahasa nonverbal melalui insyarat wajah, ekspresi roman, intonasi suara sehingga anak cepat tanggap dalam pelbagai situasi sosial. Disamping itu anak juga diajarkan untuk belajar mengendalikan impuls misalnya dilatih untuk menunggu giliran bermain, berbagi mainan dengan temannya, Pelatihan ini juga diharapkan anak dapat mengontrol perilaku amarah yang tidak terkendali.
Family support groups
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan ADHD untuk berbagi pengalaman. Kelompok ini juga saling menyediakan informasi bagi sesama anggotanya, mengundang pembicara profesional untuk berbagi pengetahuan dalam menghadapi dan membesarkan anak-anak mereka.
file:///D:/Download/ADHD%20anak.htm
SIMTOM-SIMTOM ADHD
Gejala diagnosa bila 6 gejala atau lebih menetap minimal selama 6 bulan atau lebih yang berpengaruh pada tingkat perkembangan mental :
1) Gejala gangguan tipe atensi
- Sulit berkonsentrasi, mengorganisir tugas, atau mempersiapkan peralatan untuk tugas
- Mudah terpengaruh atau kehilangan konsentrasi bila ada faktor gangguan atau suara
- Tidak mampu berkonsentrasi pada hal-hal detil atau mengikuti instruksi
- Sering membuat kesalahan pada tugas disekolah atau aktivitas tertentu
- Gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas penting di sekolah
- Mudah lupa
- Seperti tidak menyimak pembicaraan, terlihat lesu atau kurang bergairah dan sering melamun
2) Gejala gangguan tipe hiperaktif-kompulsif
- Selalu terlihat aktif, ingin melakukan sesuatu
- Gelisah, selalu melipat tangan atau kakinya ketika duduk
- Tidak bisa diam, selalu ingin bergerak
- Pada anak relatif kecil suka berlari, melompat dan memanjat secara konstan
- Berbicara setiap waktu
- Langsung menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan
- Tidak sabar dalam menunggu giliran
- Suka menyeletuk pembicaraan orang lain
3) Tipe kombinasi antara gangguan atensi dan hiperaktif-kompulsif
Setiap anak yang diduga mengidap gangguan ADHD haruslah hati-hati dalam kesimpulan diagnosa, karena simtom yang ada bisa saja menyerupai seperti gangguan ADHD akan tetapi sebenarnya anak tersebut bisa saja dalam kondisi medis tertentu, atau dalam situasi stress yang dapat mempengaruhi perilakunya menyerupai gangguan ADHD. Oleh sebab itu kondisi tersebut haruslah didiagnosa oleh tenaga profesional yang sudah berpengalaman dibidangnya.
Dalam melakukan diagnosa, tenaga profesional (bahkan terlibat beberapa bidang ahli di dalamnya seperti; psikiater, psikolog, dokter anak, neurologis, tenaga sosial) akan melakukan assessment secara klinis dengan melihat akademik dan situasi sosial anak, fungsi emosi dan kemampuan dalam perkembangan.
file:///D:/Download/ADHD%20anak.htm
Artikel Psikologi/03/2009/Pikirdong
1) Gejala gangguan tipe atensi
- Sulit berkonsentrasi, mengorganisir tugas, atau mempersiapkan peralatan untuk tugas
- Mudah terpengaruh atau kehilangan konsentrasi bila ada faktor gangguan atau suara
- Tidak mampu berkonsentrasi pada hal-hal detil atau mengikuti instruksi
- Sering membuat kesalahan pada tugas disekolah atau aktivitas tertentu
- Gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas penting di sekolah
- Mudah lupa
- Seperti tidak menyimak pembicaraan, terlihat lesu atau kurang bergairah dan sering melamun
2) Gejala gangguan tipe hiperaktif-kompulsif
- Selalu terlihat aktif, ingin melakukan sesuatu
- Gelisah, selalu melipat tangan atau kakinya ketika duduk
- Tidak bisa diam, selalu ingin bergerak
- Pada anak relatif kecil suka berlari, melompat dan memanjat secara konstan
- Berbicara setiap waktu
- Langsung menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan
- Tidak sabar dalam menunggu giliran
- Suka menyeletuk pembicaraan orang lain
3) Tipe kombinasi antara gangguan atensi dan hiperaktif-kompulsif
Setiap anak yang diduga mengidap gangguan ADHD haruslah hati-hati dalam kesimpulan diagnosa, karena simtom yang ada bisa saja menyerupai seperti gangguan ADHD akan tetapi sebenarnya anak tersebut bisa saja dalam kondisi medis tertentu, atau dalam situasi stress yang dapat mempengaruhi perilakunya menyerupai gangguan ADHD. Oleh sebab itu kondisi tersebut haruslah didiagnosa oleh tenaga profesional yang sudah berpengalaman dibidangnya.
Dalam melakukan diagnosa, tenaga profesional (bahkan terlibat beberapa bidang ahli di dalamnya seperti; psikiater, psikolog, dokter anak, neurologis, tenaga sosial) akan melakukan assessment secara klinis dengan melihat akademik dan situasi sosial anak, fungsi emosi dan kemampuan dalam perkembangan.
file:///D:/Download/ADHD%20anak.htm
Artikel Psikologi/03/2009/Pikirdong
SIMTOM-SIMTOM ADHD
Gejala diagnosa bila 6 gejala atau lebih menetap minimal selama 6 bulan atau lebih yang berpengaruh pada tingkat perkembangan mental :
1) Gejala gangguan tipe atensi
- Sulit berkonsentrasi, mengorganisir tugas, atau mempersiapkan peralatan untuk tugas
- Mudah terpengaruh atau kehilangan konsentrasi bila ada faktor gangguan atau suara
- Tidak mampu berkonsentrasi pada hal-hal detil atau mengikuti instruksi
- Sering membuat kesalahan pada tugas disekolah atau aktivitas tertentu
- Gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas penting di sekolah
- Mudah lupa
- Seperti tidak menyimak pembicaraan, terlihat lesu atau kurang bergairah dan sering melamun
2) Gejala gangguan tipe hiperaktif-kompulsif
- Selalu terlihat aktif, ingin melakukan sesuatu
- Gelisah, selalu melipat tangan atau kakinya ketika duduk
- Tidak bisa diam, selalu ingin bergerak
- Pada anak relatif kecil suka berlari, melompat dan memanjat secara konstan
- Berbicara setiap waktu
- Langsung menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan
- Tidak sabar dalam menunggu giliran
- Suka menyeletuk pembicaraan orang lain
3) Tipe kombinasi antara gangguan atensi dan hiperaktif-kompulsif
Setiap anak yang diduga mengidap gangguan ADHD haruslah hati-hati dalam kesimpulan diagnosa, karena simtom yang ada bisa saja menyerupai seperti gangguan ADHD akan tetapi sebenarnya anak tersebut bisa saja dalam kondisi medis tertentu, atau dalam situasi stress yang dapat mempengaruhi perilakunya menyerupai gangguan ADHD. Oleh sebab itu kondisi tersebut haruslah didiagnosa oleh tenaga profesional yang sudah berpengalaman dibidangnya.
Dalam melakukan diagnosa, tenaga profesional (bahkan terlibat beberapa bidang ahli di dalamnya seperti; psikiater, psikolog, dokter anak, neurologis, tenaga sosial) akan melakukan assessment secara klinis dengan melihat akademik dan situasi sosial anak, fungsi emosi dan kemampuan dalam perkembangan.
file:///D:/Download/ADHD%20anak.htm
Artikel Psikologi/03/2009/Pikirdong
1) Gejala gangguan tipe atensi
- Sulit berkonsentrasi, mengorganisir tugas, atau mempersiapkan peralatan untuk tugas
- Mudah terpengaruh atau kehilangan konsentrasi bila ada faktor gangguan atau suara
- Tidak mampu berkonsentrasi pada hal-hal detil atau mengikuti instruksi
- Sering membuat kesalahan pada tugas disekolah atau aktivitas tertentu
- Gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas penting di sekolah
- Mudah lupa
- Seperti tidak menyimak pembicaraan, terlihat lesu atau kurang bergairah dan sering melamun
2) Gejala gangguan tipe hiperaktif-kompulsif
- Selalu terlihat aktif, ingin melakukan sesuatu
- Gelisah, selalu melipat tangan atau kakinya ketika duduk
- Tidak bisa diam, selalu ingin bergerak
- Pada anak relatif kecil suka berlari, melompat dan memanjat secara konstan
- Berbicara setiap waktu
- Langsung menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan
- Tidak sabar dalam menunggu giliran
- Suka menyeletuk pembicaraan orang lain
3) Tipe kombinasi antara gangguan atensi dan hiperaktif-kompulsif
Setiap anak yang diduga mengidap gangguan ADHD haruslah hati-hati dalam kesimpulan diagnosa, karena simtom yang ada bisa saja menyerupai seperti gangguan ADHD akan tetapi sebenarnya anak tersebut bisa saja dalam kondisi medis tertentu, atau dalam situasi stress yang dapat mempengaruhi perilakunya menyerupai gangguan ADHD. Oleh sebab itu kondisi tersebut haruslah didiagnosa oleh tenaga profesional yang sudah berpengalaman dibidangnya.
Dalam melakukan diagnosa, tenaga profesional (bahkan terlibat beberapa bidang ahli di dalamnya seperti; psikiater, psikolog, dokter anak, neurologis, tenaga sosial) akan melakukan assessment secara klinis dengan melihat akademik dan situasi sosial anak, fungsi emosi dan kemampuan dalam perkembangan.
file:///D:/Download/ADHD%20anak.htm
Artikel Psikologi/03/2009/Pikirdong
Langganan:
Postingan (Atom)
